Hidden Baby

Hidden Baby
Hidden Baby 57



Melihat kondisi Vie yang sering lelah, Dirga tidak mengijinkan Vie untuk pergi kemana-mana. Cukup di rumah, jika menginginkan sesuatu tinggal bilang saja kepada pak Selamet dan mbak Santi. Vie juga di larang untuk terlalu repot untuk memikirkan Arga, karena sudah ada mbak Santi yang juga akan mengurus Arga.


Pagi ini Dirga merasamual, berkali-kali Dirga mengeluarkan cairan bening dari mulutnya hingga tubuhnya terasa lemas. Vie terbangun akibat suara Dirga dari kamar mandi segera bergegas bangkit dari ranjangnya.


Vie terkejut melihat suaminya yang sudah lemas. Meskipun tak ada isi perut yang keluar tapi nyatanya tubuh Dirga sampai bergemetar.


"Ya ampun, Ga. Kamu sakit." Vie terlihat sangat panik.


Tak ada jawaban dari Dirga, menandakan suaminya sedang tidak baik-baik saja.


"Ayo kelur kita, biar aku bikinkan teh hangat." Vie memapah tubuh Dirga keluar dari kamar. Diluar sana mbak Santi tengah membantu Arga memakaikan sepatunya.


"Ayah … Ayah kenapa?" Arga menghampiri ayahnya yang sudah duduk di meja makan. 


"Mbak San, tolong buatkan teh hangat ya," pinta Vie.


Mbak Santi segera menyeduh teh lalu diberikan kepada Vie.


"Bapak kenapa, Bu? Sakit?" tanya mbak Santi.


"Seperti begitu, mbak. Aku juga gak tau, padahal tadi malam baik-baik aja."


Dirga menyeruput teh hangat. Perlahan rasa yang bergejolak dalam perutnya sudah mulai hilang, namun nyatanya saat mata Dirga menatap hidangan di depannya, perut Dirga mulai bergejolak lagi dan langsung menuju ke wastafel. Tak ada yang Dirga keluarkan hanya rasa mual saja.


"Ga, kita ke rumah sakit ya," saran Vie.


"Gak usah. Aku gak papa. Istirahat saja, nanti juga sembuh," tolak Dirga.


Arga hanya bisa melihat ayahnya yang muntah-muntah. Selama ini ayahnya kuat tidak pernah sakit, tapi sekali sakit langsung lemas tak berdaya. Arga merasa kasian kepada ayahnya.


"Ayah, jangan sakit ya. Nanti Alga janji akan gambalkan ayah. Tapi ayah juga janji gak boleh sakit," celoteh Arga.


"Siapa bilang ayah sakit? Ayah itu kuat, jadi gak bakalan sakit," ucap Dirga.


Udah sakit, masih aja ngotot.


Melihat kondisinya yang saat ini, Dirga memilih segera menghubungi papanya untuk tidak berangkat ke kantor. Terlalu banyak mata papanya di kantor sehingga hal sekecil apapun bisa langsung di ketahui oleh papanya yang berada di rumah.


Mama Anggi terkejut saat suaminya memanfaatkan bahwa  Dirga sedang tidak enak badan.  Biasanya kalau Dirga sakit, sifat manjanya akan keluar. Mama Anggi memikirkan bagaimana saat Vie menghadapinya. Pasti akan sangat kewalahan mengingat saat ini Vie tengah berbadan dua.


"Pa, kita harus lihat mereka. Kamu tahukan gimana manjanya anak kamu kalau sedang sakit," kata mama Anggi.


"Anak kita-lah Ma. Papa cuma nyumbang bibit dan mama yang memprosesnya," jelas papa Wira.


"Gitu aja di ributin. Iya … iya, anak kita," jawab mama Anggi sewot.


Berhubung Dirga tak ingin dibawa ke rumah sakit, akhirnya Dirga mendapatkan perawatan di rumahnya. Satu kantong infus menggantung. Dan satu fakta yang baru saja Vie ketahui, ternyata Dirga takut akan jarum suntik.


Di rumah hanya tinggal mereka berdua, karena mbak Santi dan pak Selamet sedang mengantarkan Arga ke playgroup.


"Vie, lapar … " keluh Dirga.


Vie yang setia menunggui Dirga-pun hendak mengambilkan makan. Mungkin karena tidak sarapan makanya Dirga lapar. Tapi bukankah Dirga sudah di infus? Kata orang kalau sudah di infus tidak akan lapar lagi.


"Tapi Vie … aku mau makan sate kacang." Dirga meminta.


Saat itu juga mata Vie membulat sempurna. Mentang-mentang sakit mau cari kesempatan. Dasar Dirga gak punya perasaan!


"Kamu bilang apa, Ga? Sate? Kamu jangan cari kesempatan ya! Gak ah, kamu makan nasi sama sayur biar cepat pulih tenaga mu," tolak Vie.


"Tapi aku maunya sate, Vie. Pokoknya aku mau sate, titik!"


Keduanya beradu mulut, tak ada yang mau mengalah seperti anak kecil yang sedang berebut mainan saja. 


Namun, dari balik pintu mama Anggi dan papa Wira langsung nongol. Keduanya sempat melihat bagaimana anak dan menantunya saling ngotot. Belum diketahui apa penyebabnya.


"Kalian ya … " seru mama Anggi.


Seketika Vie langsung terdiam. Ia takut jika akan di makan oleh mama mertuanya, mengingat Dirga adalah anak semata wayangnya.


"Kalian rebutin apa sih? Kayak anak kecil aja. Gak inget kalau bentar lagi udah mau netes lagi itu," sambung mama Anggi lagi.


"Tuh, menantu mama gak mau belikan aku sate. Padahal aku lapar belum sarapan, Ma," adu Dirga.


"Tapi Dirgama gak mau makan nasi, Ma. Aku emang gak mau beliin kalau gak mau makan nasi." Vie membela diri. Beraninya Dirga mengadu pada mamanya.


"Ya udah, biar mama pesan dulu." Akhirnya mama Anggi memesankan sate untuk Dirga.


Dirga tersenyum menang saat keinginan bisa terpenuhi, meskipun mamanya yang turun tangan. Setidaknya ia akan makan sate


Bie menahan rasa kesalnya kemudian menghampiri Dirga sambil membisikkan sesuatu ke telinganya.


"Selamat sebentar lagi kamu akan makan sate, tapi jangan kamu harap bisa masuk gerbang. Kamu aku blokir, tidak boleh mengakses gerbang selama satu Minggu."


Dirga meneguk kasar ludahnya sambil membulatkan mata. Saat itu juga badannya langsung tegang, satu Minggu?


"Tidak …! Mama aku tidak mau makan sate lagi. Batalkan pesanannya!" teriak Dirga, namun sayang mama Anggi sudah membawakan dua bungkus sate untuk mereka berdua.


"Kamu apaan sih Ga, teriak-teriak kayak di hutan? Nah … satenya, mama pesankan dua, kali aja kalian berantam lagi gara-gara sate," ucap mama Anggi.


Dirga menggelarkan kepalanya, menolak sate pemberian dari mamanya.


"Gak, Ma. Dirga gak jadi makan sate, Dirga mau makan nasi aja."


Sebenarnya Dirga menolak bukan karena tidak mau, tetapi ia takut tidak bisa keluar angkasa selama satu Minggu, mengingat sekarang Vie sudah pandai membawanya ke angkasa.


"Kamu ini gimana sih Ga, pantas saja istri kami tidak mau menuruti kemauan mu, ternyata kamu plin-plan orangnya." Mama Anggi kesal.


Bukan gitu Ma, tapi Dirga gak mau akses menuju angksa di blokir. Kalau itu terjadi kasihan si Juna ngangur satu Minggu.


Berhubung Dirga menolak, maka dua bungkus sate Bie habiskan dalam sekeja mata membuat Dirga hanya mampu menelan kasar ludahnya.


"Makasih ya, Ma. Satenya enak banget. Dimana mama pesan? Kali aja nanti Dirga berubah pikiran dan menginginkannya lagi. Kan gak mungkin Vie keluarkan yang udah masuk ke dalam perutnya Vie." 


Saat ini Vie tertawa akan kemenangan yang ia raih. Macam-macam sama ibu negara, sekali ancam langsung menciut.


Setelah memastikan keadaan Dirga baik-baik saja mama Anggi berpamit pulang namun, sebelum mereka pergi papa Wira juga berpesan kepada Dirga, tidak usah memaksakan diri untuk pergi ke kantor. Kantor akan papa Wira tangani selagi Dirga masih sakit.


*


*


*


*


Jangan lupa absen seperti biasa! Awas kalau gak absen 🔪🔪


Cukup lah 3 bab hari ini. Rencana mau istirahat tapi tangan gatel. Maafkan ke-khilafan Othor ya.