
Tak ada ucapan selamat pagi ataupun morning kiss karena Dirga memilih enggan untuk bangkit dari tidurnya. Hatinya masih merasa kesal karena ternyata sang istri telah membohongi dirinya tadi malam.
"Ga bangun, udah siang!" seru Vie.
Dirga acuh, ia malah menarik lagi selimutnya. Rasa dongkol masih berkecamuk dalam hatinya. Bisa-bisanya Vie membohongi dirinya dengan mengatakan akan keluar angkasa tetapi nyatanya malah tidur seperti kebo yang tak bisa di bangunkan.
"Ga, bangun dong! Kamu bilang mau kita mau ke kantor polisi."
Dirga belum juga merespon ucapan Vie hingga akhirnya ia memutuskan untuk bangun karena tak ada tanda-tanda Vie di sampingnya lagi.
Di meja makan, Arga dan bundanya sudah selesai sarapan saat Dirga datang. Vie kemudian langsung mengajak Arga untuk segera bergegas ke sekolah tanpa memperdulikan kehadiran Dirga.
"Ayah, abang Alga pelgi sekolah dulu ya," pamit Arga pada ayahnya.
"Kenapa buru-buru? Kan ayah baru bangun?"
"Kata bunda, bunda mau ke lumah pak polisi. Da ... abang Alga belangkat sama bunda ya." Arga sedikit berlari untuk mengejar bundanya.
"Rumah polisi?" Dirga membeo.
Dirga tau saat ini Vie sedang dalam mode silent. Tak ingin terjadi apa-apa dengan Vie, akhirnya Dirga mengurungkan niatnya untuk sarapan dan menyuruh mbak Santi untuk menyiapkan bekalnya saja.
"Sayang, tunggu!" Dirga menahan lengan Vie.
"Jangan seperti itu. Ayo aku antar!" lanjutnya lagi.
"Hole ... abang Alga diantal Ayah." seru Arga bahagia.
"Nanti ayah kenalan sama Miss balu ya. Namanya Miss Callen," celoteh Arga.
Sepanjang perjalanan Vie hanya tersedia, enggan menimpali setiap ucapan Dirga, alhasil hanya ayah dan anak yang saling bersahutan meskipun sesekali Dirga melirik Vie. Mode silent memang mengerikan.
Benar saja ucapn Arga, ternyata ada Miss pengganti Miss Queen, yaitu Miss Callen. Tak kalah cantik dari Miss Queen, Miss Callen malah lebih cantik lagi.
"Dah, jangan ngambek. Sini peluk dulu." Dirga merentangkan tangannya setelah Vie masuk ke dalam mobil.
"Udah dong sayang, jangan ngambek. Kita ke kantor polisi sekarang ya."
Dirga hanya bisa mengelus dadanya. Berulang kali mengucapkan kata sabar. Hingga mereka sampai di kantor polisi Vie tak kunjung buka suara. Kesal di acuhkan oleh istrinya akhirnya Dirga memilih mengunci pintunya mobilnya saat Vie ingin keluar.
"Gak."
"Dirga, buka pintunya sekarang!" bentak Vie.
Dirga tak peduli dengan bentakan istrinya. Niat hati ingin ngambek gara-gara tak jadi keluar angkasa, eh malah Vie yang ngambek luar biasa.
Dirga segera mendekat lalu segera menge.cup bibir Vie. Awalnya hanya kecu.pan biasa tatapi Dirga tak mau melewatkan momen langka akhirnya Dirga menjelajah sangat dalam. Vie mencoba meronta tetapi Dirga memegang tangan Vie. Karena Vie tak mau membuka mulutnya akhirnya Dirga memilih jalan buntu dengan menggigit bibir Vie agar dia membuka mulutnya. Benar saja Vie ingin mengaduh tetapi Dirga telah me.lu.mat. nya dengan sangat pelan dan lembut.
Mata Vie melotot seolah memberikan sinyal agar Dirga berhenti, tetapi Dirga masa bodoh. Siapa suruh dari tadi dia di kacangin?
Dirga melepaskan ciu.man mereka saat Vie hampir kehabisan nafas. Ia mengelap bibir Vie yang basah.
"Udah ya, jangan ngambek. Oke aku minta maaf, tapi please jangan diamkan aku. Kamu boleh hukum Juna tapi jangan pernah diamkan aku. Kamu bisa kan?" Dirga terlihat menyediakan, lalu membuka kunci pinti mobil agar Vie bisa keluar. Namun, Vie tak kunjung untuk keluar. Dia malah menatap lekat pada Dirga.
"Kan kamu yang duluan diemin aku. Gimana rasanya?"
"Iya, aku minta maaf. Aku salah."
"Ya udah jangan di ulangi lagi ya?"
Dirga mengangguk pelan. "Iya, tapi ... tapi gimana nasib Juna?"
"Juna masih dalam masa hukumannya. Jadi jangan harap bisa mendapatkan belaian hingga angkasa."
Setelah mengucapkan kata tersebut Vie langsung turun. Jika lebih lama membahas Juna bisa-bisa mereka akan terbuai bersama.
Dirga hanya bisa mengacak kasar rambutnya. Lagi-lagi Juna harus puasa.
.
.
.
Juna yang sabar ya 😀
Othor up lagi, mana like dan komen-nya ðŸ¤ðŸ¤