Hidden Baby

Hidden Baby
Hidden Baby 56



"Siapa yang gila?" 


Jane dan Vie sangat terkejut saat orang yang sedang menjadi topik mereka tiba-tiba berdiri dibelakang mereka. Jane terlihat gugup saat melihat Kai, ia merasa menyesal telah mengatakan Kai gila.


"A-asisten Kai, kenapa anda berada disini?" gugup Jane.


Kai membuang kasar nafasnya. "Ada yang sedang kehilangan sesuatu, makanya aku di suruh bos rese itu untuk mencarinya." Kai melirik kearah Vie. Vie yang merasa ada sebuah kata isyarat segara paham akan ucapan Kai. Ia pun segera bangkit.


"Baiklah, aku tau apa yang hilang itu. Jane aku pergi dulu, jaga kesehatan kamu dan anak kamu agar kita bisa mengabadikan momen yang langka ini. Oh iya Kai, tolong temani Jane makan ya, aku harus pergi."


Setelah kepergian Vie, keduanya terasa canggung untuk saling berbicara. Meskipun mereka satu meja, tetapi sama-sama membisu. 


Jane tidak mengerti dengan orang yang berada di hadapannya saat ini, terlihat angkuh dan judes, tak seperti jika sedang berada di luar yang banyak bicara. Apakah Kai memang mempunyai dua kepribadian? Jane bergidik ngeri saat membayangkan Kai mempunyai kepribadian ganda.


"Kenapa kamu bergidik, kayak lihat hantu?" Kai, buka suara.


"Tidak. Hanya saja sedang membayangkan hantu," balas Vie cepat.


"Aneh," gumam Kai pelan.


Jane yang ditunggui saat makan merasa tidak nyaman, karena Kai selalu mengamati dirinya. Entah apa yang sedang Kai pikiran tentang dirinya.


"Asisten Kai, aku tak perlu kamu temani. Bolehkah kamu meninggalkanku sendiri?"


Kai acuh, karena kata Vie dia harus menemani Jane makan, maka ia harus patuh untuk menemani Jane hingga menyiapkan makannya.


"kamu mengusir ku? Tidak bisa. Apa kamu tak mendengar apa kata bu bos tadi? Dia menyuruhku untuk menemanimu makan," ucap Kai.


Jane mengernyitkan alisnya. Memangnya harus segitu mematuhi ucapan Vie?


"Tapi aku tidak nyaman dengan keberadaan mu disini," lanjut Jane.


"Tapi ini perintah, Jane." Kai bersikukuh untuk tidak pergi.


Jane tidak habis pikir dengan pemikiran Kai. Vie menyuruhnya untuk menemaninya makan dan Kai menuruti ucapan Vie. Padahal ini bukan tugas utama, mengapa Kai begitu patuh?


Jane melirik Kai. "Jadi jika seandainya Vie menyuruh kamu untuk mati sekarang, kamu juga mau mati?"


"Oh, itu? Bu bos tidak akan pernah meminta ku untuk mati karena aku masih diperlukan untuk perusahaan ini."


Berbicara dengan Kai, membuat tingkat mood Jane menurun. Kai yang menyebalkan mampu menghancurkan mood yang sudah membaik. 


Vie berjalan menuju ruangan Dirga, namun saat ia berjalan sekilas Vie mendengar kasak-kusuk tiga orang sedang membicarakan dirinya. Tiga orang yang masih Vie ingat dengan jelas wajah meraka satu persatu karena mereka pernah satu ruang kerja.


Ingin rasanya Vie menghampiri mereka, namun takut ia hilang kendali dan hanya akan membuat mereka babak belur. Tak ada yang ditakutkan oleh Vie saat ini, karena ini adalah perusahaan mertuanya yang sebentar lagi akan menjadi milik suaminya. Milik suami berati milik istri juga kan?


Dasar, mereka tidak pernah berubah. Gak bosen apa nyeritain aku terus? Pengen aku giling mulutnya, mumpung sekarang tenagaku doble. Biar tau rasanya digiling macam, mama cantik.


Mendadak ketiga orang yang melihat Vie segara bungkam. Sebenarnya mereka takut jika akan di tendang dari perusahaan karena terus menceritakan keburukan Vie, tapi berkat kompor yang kuat, akhirnya meraka mengikuti cerita untuk menjelekan Vie.


Tenang Vie, mereka bukan level kamu. Sombong dikit. Ingat sekarang kamu istri bos. Macam-macam tendang saja.


Dua orang hanya memberi isyarat untuk diam sebab ternyata Vie ada dibelakangnya.


"Kenapa kalian takut sama dia? Asal kalian tau, aku yang telah menyebar gosip saat itu. Gak sengaja sih, waktu itu. Tapi untung saja aku berdua sama sekertaris yang udah kena pecat itu. Jadi gak pak Dirga tidak akan tahu kalau akulah yang sudah menyebarkan gosip itu. Tau gak, aku tuh enek banget sama dia, dia tak punya lulusan apa-apa bisa kerja di perusahaan ini, ternyata nyogok pakai anunya." Terdengar suara tawa dari Lili, teman satu divisi saat itu.


"Li .. lihat belakang kamu."


"Apaan sih? Kayak lihat setan aja?"


Lili segera berbalik badan. Dilihatnya Vie sedang melipatkan kedua tangannya di depan dada sambil memainkan kuku-kukunya yang panjang. Apa jadinya jika kuku itu menancap di pipi, pasti sakit.


"Ka-kamu … eh maksudku Bu Vie," gugup Lili.


Lili terkejut bukan main saat Vie ternyata ada di belakangnya. Dengn bodoh Lili berceloteh panjang lebar membocorkan rahasia yang ia simpan selama ini. 


"Kamu tadi bilang apa? Kamu ya, yang menyebarkan gosip itu? Kenapa kamu iri melihat aku bisa bekerja disini lalu dinikahi anak pemilik perusahaan ini karena aku telah dihamili lebih dulu? Asal kamu tau, itu bukan sebuah kebetulan, tapi itu memang sengaja dilakukan oleh big bos agar aku dan cucunya tidak terlantar. Ups…" Vie menutup mulutnya seolah dia sedang keceplosan, aslinya memang sengaja.


"Oh iya, makasih ya atas pengakuannya. Pasti setelah ini kamu akan mendapatkan kabar bahagia dari suami aku. Daa…" Dengan gaya centil, Vie meninggalkan ketiga orang yang masih membisu. 


Awalnya Vie hanya ingin mencoba saja bertingkah singing abis itu dia kembali lagi. Vie penasaran topik apa yang hendak mereka angkat. Tapi tanpa di duga, Vie mendengar dengan jelas sebuah pengakuan besar yang tak seorang pun tau. Beruntung Vie segera merekam pengakuan Lili agar suaminya dia telah salah memecat orang yang tidak bersalah.


                          *******


Sampai di rumah, Vie merasa kakinya lemas lagi. Padahal ia tidak banyak berjalan. Vie memanggil mbak Santi, asisten rumah tangga yang Dirga ambil dari sebuah lembaga penyaluran tenaga kerja, karena alasan Dirga ia bisa menuntut jika orang itu tidak amanah.


"Mbak San," panggil Vie.


Santi yang sedang menyuapi Arga makan segera menghampiri Vie di ruang tamu.


"Iya Bu."


"Arga sedang apa?" 


"Masih makan, Bu. Ini baru saya suapi," ucap Santi.


Dari belakang Arga berlari kecil untuk segera menemui bundanya dengan membawa sesutu.


"Bunda …." Arga memeluk pinggang Vie seraya mengecup perut Vie.


"Adek, lihat abang punya gambal bagus. Ini adek, Abang sama bunda." Arga menunjukkan hasil karya coretan tangannya di sebuah kertas besar.


Hanya sebuah coretan, namun mengandung makna terbesar untuk anak seusia Arga, namun Vie menautkan alisnya saat tak ada coretan Dirga di kertas itu. Hanya tiga orang saja.


"Lho, gambar ayah mana, Sayang?" tanya Vie.


Arga memutar bola matanya sebelum menjawab pertanyaan Vie.


"Ayah kan dulu gak ada, Bun. Jadi Alga gak gambal ayah. Tapi dulu kita hanya beldua, telus kenapa sekarang ada adek di dalam pelut Bunda? Dali mana datangnya adek Alga, Bun? Alga sebenalnya kasihan sama adek Alga, makanya Alga gambal," celoteh Arga, membut Vie memijat kepala.


[ aku up lagi, tanganku gatal kalau gak up ]