Hidden Baby

Hidden Baby
Hidden Baby 77



Pagi ini Kaisar merasa sangat bahagia. Bagaimana tidak, jika ternyata Jane setuju untuk diajak pergi bersama. Dan pagi ini Kaisar ingin memberikan surat ijin atas dirinya dan juga Jane. Meskipun dalam hati ada rasa kecewa karena Miss Queen bukanlah orang yang pergi bersama dirinya, tetapi setidaknya dia bisa keluar negeri, momen langka untuk dirinya, terlebih semuanya biaya dan fasilitas selama liburan gratis.


"Bos, ini surat cuti ku dengan Jane. Karena kami memilih untuk menggunakan tiket ini dengan baik." Kaisar menyodorkan sebuh amplop kecil. Meskipun ia dekat dengan Dirga, tetapi Kai tetap mengikuti aturan perusahaan.


"Baguslah, akhirnya tiketnya tidak mubadzir."


"Jadi Bos setuju dengan liburan kami?"


"Kenapa tidak? Kalian sudah diberikan cuma-cuma oleh pemilik perusahaan ini secara langsung. Lalu apakah aku bisa memprotesnya? Tidak kan. Sudahlah nikmati saja liburan kalian. Tapi sayangnya saat ini Jane sedang hamil, jadi jika kamu ingin menanam ubi bersama dengannya harus hati-hati. Apalagi ubimu pasti belum pernah diajak untuk bercocok tanam sebelumnya kan?"


Kaisar terbelalak atas ucapan Bosnya yang tak bermutu. Bagaimana bisa dia menyentuh wanita yang bukan istrinya. Kaisar bukanlah Dirga yang akan membuka segel keperawatan anak orang lalu pergi menghilang. Eh, tapi Jane kan sudah tidak perawan lagi.


"Anda kalau bicara hati-hati Bos! Itu anak yang ada di dalam perut Jane masih memiliki hubungan keluarga dengan anda. Mana mungkin aku mau menaburkan bibit unggulanku kedalam perut yang sudah terisi benih orang lain. Sayang benih unggulanku," beber Kai.


Enggan untuk menanggapi ucapan Dirga, Kai memilih keluar dari ruangan tersebut.


.


.


.


Kaisar masih merasa kesal dengan ucapan Dirga. Bisa-bisa Dirga memikirkan hal seperti itu. Sudah jelas dirinya adalah lelaki baik, tidak mungkin akan melakukan hal tak senonoh kepada wanita. Ciuman pertamanya saja terenggut paksa oleh Jane. Jika tidak, saat ini Kaisar masih belum ternoda.


Belum sempat Kai duduk di meja kerjanya, Dirga sudah menyusul Kai dengan deru nafas yang masih ngos-ngosan.


"Kai gawat!"


Kai yang belum sempat duduk, terkejut dengan ucapan bos-nya. Dia tak kalah panik dan menghampiri Dirga. "Ada apa bos?"


"Jane ... Jane ...."


Mulut Kai masih ternganga karena Dirga menggantung ucapnya, membuat Kai merasa sangat penasaran, ada apa dengan Jane.


"Iya. Jane kenapa Bos?"


"Jane kecelakaan. Dia sekarang di bawa ke rumah sakit. Kita harus segera ke sana."


"Malah bengong. Ayo!" Dirga menarik tangan Kai yang masih kaku.


Ada desiran rasa khawatir untuk wanita asing seperti Jane. Wanita yang selalu membuatnya naik darah dengan segala kelakuan. Namun, saat mendengar kabar dia mengalami kecelakaan Kai hanya memikirkan bagaimana keadaan janin yang sedang tumbuh di dalam perutnya. Meskipun Kai bukanlah ayah dari janin tersebut, tetapi Kai merasa kasihan jika janin itu sampai kenapa-napa.


Sesampainya di rumah sakit, Jane sudah mendapatkan penanganan dari tim medis. Jane yang mengalami benturan kuat pada perutnya mengharuskan dia hatus segera melakukan operasi karena janin yang ada di perutnya sudah tidak bisa diselamatkan lagi.


Tak ada pilihan lain kecuali menandatangani surat persetujuan untuk melakukan operasi. Saat Dirga hendak menandatangani tiba-tiba Kaisar merebut kertas tersebut dan segera membunuh tanda tangannya.


"Aku yang bertanggung jawab jika terjadi sesuatu terhadap Jane."


Saat ini Dirga hanya bisa melongo saat melihat Kai lebih gusar. Bahkan dia rela menjadi jaminan untuk Jane, wanita yang sedang hamil anak orang lain.


Dirga semakin yakin jika terawangannya tak jatuh melesat dan tepat pada sasaran, hanya saja masih terhalang kabut yang masih menutup mata. Namun, jika itu benar, Dirga akan terus mendukung mereka meskipun Dirga sadar siapa Jane dimasa lalu. Tetapi Dirga yakin jika Jane adalah wanita baik-baik. Buktinya saja dialah satu-satunya orang yang mau menolong Vie disaat seluruh dunia menghinanya saat itu.


"Dok, apapun yang terjadi selamatkan Jane. Aku tidak peduli dengan janinnya karena dia bukan akanku. Tetapi aku masih membutuhkan Jane, 2 hari lagi kami akan pergi ke Korea. Jika Jane tidak selamat berati dia mempunyai hutang untuk liburan. Pokoknya Dokter harus menyelamatkan Jane, bagaimanapun caranya."


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Kalau begitu saya permisi.".


Kaisar hanya menatap kepergian Dokter itu dengan tatapan kosong. Yang dia pikirkan saat ini adalah bagaimana Jane bisa selamat.


Dirga menepuk pundak Kai. "Sabar kita doakan Jane selamat. Jika dia tidak selamat aku rasa aku akan kehilangan tangan kananku."


Kaisar yang sadar segera menoleh. "Maksud Bos apa?"


"Jika Jane tidak selamat, aku yakin nasibmu akan berakhir di rumah sakit jiwa karena tak merelakan kepergiannya."


"Bosss ...!"


.


.


.


Terimakasih yang sudah memberikan like pada novel ini 🙏