Hidden Baby

Hidden Baby
Hidden Baby 54



Kalian kalau gak di todong kagak mau kasih kembang sama kopi 😔 Kalian jahat!!


Padahal othor dah baik lho, Up-nya lancar 🤧🤧


( masih banyak typo, maklumi saja Othor males baca ulang. Nanti malam othor perbaikan )


Keadaan Jane sudah membaik dan saat ini dibawa ke apartemen milik Kai yang sudah tak ditempatinya lagi. Vie merasa lega saat kandungan Jane baik-baik saja.


Terlalu memikirkan keadaan orang lain, Vie lupa akan kesehatannya sendiri, dimana ia juga sedang hamil muda, mudah lelah dan letih saat mengerjakan sesuatu. Vie saat ini tidak menolak saat Dirga mempekerjakan seseorang untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah.


Pagi ini keluarga kecil itu sudah bersiap hendak menghadiri pesta pernikahan Max. Sebenarnya Vie enggan datang, namun demi menjaga nama baik keluarga Dirga, ia terpaksa untuk ikut hadir.


"Kamu kok bersemangat sih, Ga? Hari ini Om Max akan menikah lho. Tapi sayangnya bukan sama aunty Jane," ucap Vie.


Arga tersenyum manis. "Kita halus bahagia, Bunda. Sepelti waktu ayah sama bunda menikah hali itu. Om Max adalah om-nya Alga, jadi Alga juga halus bagai."


"Tapi om Max udah bejat, Ga. Dia udah bikin adik bayi di perut aunty Jane tapi dia nikahnya sama perempuan lain. Kan jahat bangsut banget," sela Dirga.


Pesta besar nan meriah digelar disebuah hotel bintang ternama. Sang keluarga mempelai wanita bukanlah dari orang sembarangan. Bahkan papa Naomi sudah menolak beberapa pria yang ingin melamar anaknya. Namun saat ibu Max menawarkan anaknya kepada papanya Naomi, keluarga besar Naomi langsung setuju. Semua itu karena Max adalah pria yang mapan dan mandiri, sama seperti anaknya.


Semua tamu undangan sudah mulai berdatangan dan mengisi tempat yang telah disediakan untuk menyaksikan ijab kabul antara Max dan Naomi. Namun, hingga satu jam mempelai pria belum juga hadir. Tante Maya terus berusaha untuk menghubungi Max, sayang sekali nomor Max tidak aktif. Harusnya Max datang lebih awal karena saat berangkat dari rumah Max-lah yang duluan berangkat.


"Ya Tuhan … kemana kamu, Nak." Tante Maya terus gelisah. Para tamu juga sudah berbisik-bisik. Bahkan keluarga Naomi terus menanyakan keberadaan Max saat ini. Bahkan penghulu juga merasa bosan menunggu calon mempelai pria yang tak kunjung datang. Karen sebuah tugas yang mengharuskan pak penghulu untuk pergi, maka pak penghulu dengan berat hati meningkatkan tempat ini.


Naomi sudah tidak bisa membendung air matanya lagi. Saat banyak pria tulus hendak menikahinya, semua ditolak mentah oleh papanya. Dan pada akhirnya saat ini orang tuanya salah memilihkan jodoh untuk anaknya sendiri.


Naomi sudah yakin jika Max tidak akan pernah datang ke acara pernikahan yang tidak diinginkan oleh dirinya. Sama-sama menjadi anak satu-satunya, mereka terpaksa menerima perjodohan tersebut. Namun, nyatanya Max memilih tidak melanjutkan pernikahan ini.


"Sudahlah, Ma. Tidak usah menekan keluarga mereka. Max tidak akan pernah datang." Naomi menahan tangisnya, bukan berarti dia patah hati, tetapi malu akan para tamu yang sudah turut hadir dalam acara tersebut.


Pernikahan gagal. Tante Maya juga harus menanggung malu akibat Max yang kabur di hari pernikahan. Dan sekarang tak tahu sedang berada dimana anak itu.


Sepanjang perjalanan Dirga berpikir keras mengapa tiba-tiba Max kabur di hari pernikahan yang telah ia setuju sebelum. Dirga sempat melirik Arga yang berada dalam pangkuan Vie. Wajahnya tenang tanpa ekspresi. Sudah dipercaya jika semua ini adalah campur tangan bocah tengil satu ini. Karena dua hari yang lalu Arga sempat menemui Max. 


Aku jadi penasaran apa yang dikatakan Arga dengan Max hari itu. Bahkan saking kesalnya, aku sama sekali tak mempertanyakan lagi mengapa Arga menemui ba.ji.ngan itu. Apakah ada sesuatu yang dilakukan Arga hingga membalikkan pikiran Max? 


Dirga kembali melirik Arga. Rasanya tidak mungkin jika Arga membalikkan pikiran Max.


"Ga, boleh ayah tanya."


Dirga membulatkan matanya sambil menelan kasar ludahnya. Kenapa titisannya malah semakin songong seperti ini? 


"Sok-sokan ngomong pakai bahasa Inggris. Bilang R aja belum bisa," ledak Dirga.


"Don't wolly! Alga sekalang mau belajal bahasa ingglis, nanti kalau Alga pelgi kelual negli Alga udah pandai." Arga menjulurkan lidahnya kepada Dirga.


"Widih … makin songong anakmu, Vie," ujar Dirga.


"Anakmu juga kali, Ga," balas Vie.


Lagi-lagi Dirga harus menelan kekalahan saat beradu mulut dengan anak dan ibu yang sama-sama klop untuk menjatuhkan dirinya.


                        ********


3 jam yang lalu …


Max sengaja ijin untuk berangkat lebih awal, karena ingin menemui Naomi. Mamanya percaya 100% tanpa menaruh rasa curiga kepada anaknya, mengingat Max adalah anak yang penurut.


Namun, ternyata Max tidak menuju hotel dimana pesta itu digelar, melainkan kesebuah apartemen. Sebelumnya Max menghubungi Jane yang tak di respon sama sekali oleh Jane. Max tak putus asa, ia mencoba untuk mengirimkan pesan suara, dimana Max mengatakan ini adalah untuk yang terakhir kalinya bertemu. Dengan berat hati, Jane memberikan alamat yang sedang ia tinggali.


Max menatap nanar pada sosok yang ada dihadapannya. Tubuh terlihat kurus, mata cekung dan lehernya terlihat panjang. Max seperti tak mengenali siapa yang ada di depannya saat ini. Ingin sekali Max memeluk tubuh Jane, tetapi ia tidak sanggup melakukannya.


"Jane, maafkan aku sudah sangat kejam terhadapmu. Memang kata maaf tak pantas untukku saat ini tapi aku percayalah cintaku untukmu itu sangat tulus. Hadirmu dalam hidupku mampu mengubah diriku yang ba.ji.ngan ini. Aku memang bukan laki-laki baik, Jane. Tapi percayalah kamu satu-satunya wanita yang pernah aku tiduri, demi Tuhan Jane, aku tidak berbohong." Max membuang kasar nafasnya untuk sejenak.


"Kamu tahu kan, aku adalah anak satu-satunya. Mamaku ingin aku mendapatkan wanita yang sempurna memiliki segalanya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena aku punya alasan tersendiri, Jane. Demi kamu dan anak kita aku dengan pasrah menyetujui perjodohan ini. Kamu tau jika aku menolaknya? Kamu dan anak kita sangat berati dalam hidupku. Aku tidak mau mama menyakiti kalian."


Jane masih membeku dengan pengakuan dari Max. Apakah dia harus percaya atau tidak. Jika benar, mengapa Max tak memberitahu sejak awal dan apa yang dilihatnya di kantor itu apakah bukan bukti yang nyata jika Max bermain gila dibelakangnya?


"Sudah cukup Max bualan mu! Aku sudah muak!" ketua Jane.


Max membuang perlahan nafas kasarnya. Memang tak sepantasnya dia mendapatkan kata maaf dari Jane.


"Untuk masalah di kantor, aku minta maaf. Aku benar-benar hilang kendali saat aku tak bisa lagi bertemu denganmu. Tapi percayalah aku tidak melakukan lebih. Karena hanya kamu satu-satunya wanita yang aku tiduri. Terserah kamu percaya atau tidak."


[ Dah segini aja, besok sambung lagi. Awas kalo gak kalian kasih hadiah ya!!! ] 🤣🤣