
Sudah pukul 9 malam, tetapi belum ada tanda-tanda kepulangan suaminya membuat Vie semakin khawatir. Tidak mungkin Dirga melupakan rumahnya begitu saja. Biasanya dia selalu memberikan kabar ingin pergi, bahkan hanya sekedar rapat biasa pasti akan memberikan kabar kepada dirinya.
"Ga, kamu dimana, dengan siapa, berbuat apa?"
Malam ini benar-benar menjadi malam yang panjang untuk Vie. Selain tak ada Arga di sampingnya, dia juga hampa tanpa adanya suaminya. Entah pergi kemana dengan siapa, Vie tidak tahu.
Mata yang sudah tak sanggup lagi untuk menunggu Dirga, akhirnya terpejam nldi sofa panjang. Berharap suaminya pulang lalu akan menggendongnyan masuk ke kamar, sungguh drama yang manis bukan?
Vie merasakan hawa dingin, saat ia melihat jam yang menggantung seketika ia terlonjak sambil mengucek matanya, berharap saat ini dia sudah berada di kamarnya. Namun, Vie harus menelan pahitnya rasa kecewa. Nyatanya ia masih berada di sofa, itu berarti Dirga tidak pulang malam ini.
Vie menangis, ia takut terjadi sesuatu kepada suaminya, tetapi lain sisi Vie takut jika Dirga sedang bersama dengan wanita lain di dalam hotel.
Mbak Santi yang baru bangun dan hendak langsung memasak samar-samar mendengar suara tangisnya dari ruang tamu. Bulu kuduknya sudah naik. Ia takut jika yang sedang menangis itu adalah Miss K.
"Ya Allah serem amet suara," lirih mbak Santi.
Rasa penasaran yang tinggi akhirnya mbak Santi mulai memberanikan diri untuk melihatnya. Semakin dekat semakin terdengar suara tangisnya.
"Astagfirullahaladzim … Ibu," seru mbak Santi kaget. Ternyata yang menangis bukanlah Miss K, melainkan majikannya sendiri.
Mbak Santi mencoba menenangkan majikan, ia menyeduhkan susu untuk Vie agar lebih tenang. Mbak Santi terus mendorongkan pendapat yang positif. Ia percaya bahwa suami majikannya tidak akan berbuat macam-macam diluar sana. Mungkin dia sedang ada pekerjaan mendadak jadi belum bisa menghubungi kembali.
Saat situasi seperti ini, untuk menelan nasi pun rasanya tidak bisa. Vie berharap suaminya segera memberikan kabar agar dirinya bisa lebih tenang.
"Bu, ada telepon untuk Ibu." Mbak Santi memberikan gagang telepon.
Vie langsung mengambil alih dan mengucapkan kata halo.
Diserang sana seseorang yang tidak ia kenal mengatakan ingin meminta tebusan uang dengan jumlah fantastis untuk menjamin keselamatan keluarganya, terlebih Vie juga mendengar suara teriakan dari Arga. Entah apa yang sudah terjadi kepada mereka, tetapi sang penelepon memberi waktu 3 jam dari sekarang untuk bisa menyiapkan uang tersebut jika masih mencintai keluarganya. Tidak hanya itu, Vie juga mendengar suara Dirga memanggil namanya, begitu juga dengan mertuanya.
Gagang telepon terlepas dari tangannya, Vie menutup mulutnya tidak percaya.
"Tidak ….," teriak Vie, membuat mbak Santi terkejut lalu segera menghampiri Vie.
"Ibu ada apa Ibu." Mbak Santi ikut panik.
"Mereka … mereka di culik, Mbak."
****
Dengan perasaan khawatir, Vie segera menuju alamat yang diberikan oleh sang penelepon dengan syarat tidak boleh menghubungi pihak polisi, jika itu terjadi mereka tidak akan segan-segan untuk menghabisi salah satu diantara mereka.
Saat ini Vie tidak peduli lagi dengan rasa kram di perutnya akibat berjalan kaki menuju alamat tersebut. Vie harus berjalan kaki karena kendaraan tidak bisa masuk lagi ke alamat tersebut. Melewati sedikit jalanan sepi yang sedikit menanjak membuat Vie merasa sangat lelah. Tetapi demi keluarganya ia harus tetap kuat.
"Harus kuat, Nak." Vie mengelus perutnya yang rasanya sedikit ngilu.
Tempat yang tersembunyi, dibalik hutan kecil ternyata ada sebuah bangunan megah seperti sebuah villa. Vie juga heran, mengapa ada bangunan di balik hutan kecil yang ia lewati. Mungkin ini adalah markas untuk para penculik agar tidak mudah teredus oleh pihak yang berwajib.
Vie tidak bisa membayangkan bagaimana masih orang-orang yang di culik lalu dibawa ke tempat ini. Pasti nasibnya akan tragis. Vie tidak peduli lagi dengan keselamatan dirinya, meskipun harus merenggangkan nyawa ditempatkan itu asalkan bersama dengan keluarganya.
Vie mulai membuka pintu besar. Saat memasuki ruangan, Vie tidak yakin jika ini adalah tempat persembunyian para penculik karena ruangan sangat bersih dan tertata rapi layaknya ada yang menempatinya. Tidak ada satu pun sarang laba-laba yang menggantung. Vie menjadi ragu, mungkinkah dia salah alamat.
Vie segera mengambil ponsel lalu menghubungi nomer yang sedari tadi memberinya petunjuk arah.
"Halo … aku sudah berada di alamat yang kamu berikan. Jadi dimana keluargaku?"
Bagus. Sekarang kamu naik ke lantai atas disana akan banyak pintu, bukalah pintu yang tidak terkunci.
Seketika panggilan langsung berakhir.
Vie menatap lantai yang bagus dan bersih, sepertinya setiap hari selalu di rawat. Bahkan debu pun tak ada yang menempel. Vie menjadi ragu jika keluarganya di sekap di rumah ini. Jangan-jangan ini hanya untuk menjebak dirinya saja.
Satu persatu anak tangga Vie naiki dengan kaki yang bergemetar hebat. Rasa takut yang tinggi, takut jika semua ini hanya sebuah rencana untuk mencelakai dirinya saja.
Ya Allah, bantu hambamu ini. Jauhkanlah aku dari semua prasangka buruk ini. Aku masih ingin hidup bersama keluarga kecilku. Aku juga belum mengeluarkan titisan yang sedang berada di perut ini. Jangan biarkan kami mati hari ini.
Vie harus berusaha untuk mencari dimana letak pintu yang tidak terkunci. Satu persatu pintu dicoba untuk dibuka, tetapi sudah lima pintu Vie belum bisa menemukan pintu yang dimaksud.
Vie terdiam sambil memilih salah satu pintu, berharap itu adalah pilihan yang paling tepat.
"Semoga ini pintunya."
Saat pintu terbuka, Vie merasa sangat lega, pilihan tidak salah. Saat Vie masuk kedalam ruangan terlihat sangat gelap. Vie memberanikan diri untuk maju serta memanggil nama suaminya. Baru satu langkah Vie mendengar suara pintu di kunci lalu dirinya di bawa paksa untuk berjalan maju dengan keadaan gelap gulita.
"Siapa kalian? Apa mau kalian? Jawab!"
Sampai sini dulu.
Selamat menyambut hari raya Idhul Fitri
Mohon maaf lahir dan batin dari Othor remahan Teh Ijo.