Hidden Baby

Hidden Baby
Hidden Baby 36



Sepeninggal Dirga, Kai keluar dari persembunyiannya. Ia merasa takut jika bosnya murka kerena aduan Kai yang tidak benar. Kai mengira jika Vie yang tak mau jujur itu akan bertemu dengan kaki-laki lain. Setau Kai jika perempuan tidak mau jujur berarti dia sedang main belakang.


Sesuai perintah Dirga, Jane kembali ke kantor bersama dengan Kai. Meskipun satu kantor, Kai dan Jane tak pernah bertemu apalagi untuk bertegur sapa, karena tugas mereka masing-masing.


"Apa lihat-lihat?" ketus Jane saat Kai tertangkap basah sedang memperhatikan dirinya.


"Gr, siapa juga yang liatin kamu," elak Kai, meskipun sebenarnya ia sedang memperhatikan Jane.


"Bagus, aku juga sudah punya tunangan. Kalau kamu macam-macam tinggal aku bilangkan saja," ancam Jane bangga.


Kai menelan Saliva ya, belum juga apa-apa sudah pupus harapan. Tak ia pungkiri, Jane terlihat cantik apalagi jika dilihat lebih dekat, tapi sayangnya galak.


********


Seminggu berlalu.


Berat rasanya meninggalkan Vie untuk keluar kota selama tiga hari. Dirga masih memeluk erat tubuh Vie yang begitu candu untuk dirinya. Vie yang tengah memasak menjadi tidak konsen akibat ulah Dirga yang menge.cupi lehernya dari belakang.


"Ga, geli tau," protes Vie.


Dirga tak menghiraukan, yang ia tahu ia sangat menginginkan Vie untuk hari ini.


"Vie, aku kan mau keluar kota tiga hari, masa iya kamu tega biarin aku puasa tiga hari disana? Buka puasa bentar ya, disini aja," rayu Dirga.


Mata Vie mendelik. Dirga yang tidak pernah bisa peka terhadap keadaan sekitar membuatnya ingin menggetok kepala Dirga dengan spatula penggorengannya.


"Kamu mau kita jadi tontonan gratis sama anak kamu yang super super kepo itu kalau dia bangun?"


Dirga menggelengkan kepalanya. "Gak juga sih."


"Ya udah, jaga sikap dong!"


Dirga menuruti ucapan Vie. Memang ia tidak meminta lebih, Dirga hanya nempel dari belakang sepanjang Vie memasak, Dirga begitu manja layaknya Arga.


Untuk pertama kalinya Dirga harus meninggalkan Vie dan juga Arga untuk beberapa waktu setelah menikah. Rasanya ada yang mengganjal dan begitu berat. Wajah Arga selalu terbayang dalam setiap pikiran. Tetapi Dirga harus bisa menepis pikiran itu, semua ini juga untuk mereka kelak.


"Kai, butuh berapa lama kita disini?" tanya Dirga setelah mereka sampai di tujuan.


Kai mendengus pelan. "Baru juga sampai, Bos. Udah mikirin kapan pulang. Pikirin dong lancar gak nanti," protes Kai.


Dirga menatap Kai tajam. "Oh, udah bisa ngelawan sekarang ya? Ya sudah kamu saja yang jadi bosnya. Urus semua pekerjaan disini. Biar aku yang menggantikan kamu sekarang," kata Dirga.


Kai yang mendengar hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bos macam apa ini? Baru kali ini bos minta tukaran posisi dengan asistennya.


Di sisi lain, Arga merasa bosan karena ia tidak masuk ke sekolah. Setelah mengantar ayahnya ke Bandara, Arga langsung diajak pulang oleh bundanya. Padahal Arga masih ingin menikmati suasana luar. Semenjak ayah dan bundanya tinggal bersama, kegiatan Arga bermain di luar semakin di batasi. Ia hanya akan diajak keluar saat hari weekend saja, seminggu sekali.


"Bunda," panggil Arga.


Vie menoleh, melihat Arga yang sudah duduk di sampingnya. "Ada apa, Sayang?"


Arga mendengus pelan, seolah sedang mengeluarkan nafas beratnya.


"Bunda kenapa semakin hali semakin malas sih? Bunda udah gak mau bekelja lagi. Nanti kalau bunda gak ada uang, gimana bunda mau belikan mainan balu buat Alga lagi?"


Vie ingin menertawakan pertanyaan yang nyeleneh dari anaknya. "Jelas sekarang itu berbeda, Ga. Sekarang ada ayah kamu yang tugasnya cari duit dan tugas kita yang menghabiskan duitnya," jelas Vie.


Arga menatap Vie tak mengerti. Mengapa harus uang ayahnya yang harus mereka habiskan? Bagaimana kalau ayahnya marah?


"Bunda jahat! Ayah capek kelja, kita gak boleh habiskan uangnya ayah, kasian dia. Bunda kenapa gak kelja sih, bial bunda punya uang sendili?"


Astaga Arga ... kenapa sekarang kamu nambah bawal sih nak. Itu memang tugas kita untuk menghabiskan uang ayahmu, Nak.


Berdebat dengan Arga hanya akan membuat Vie sakit kepala. Vie melihat ponselnya untuk sesaat. Setelah di lihat lagi, ulang tahun Arga masih sekitar enam bulan lagi, apakah ini yang dinamakan bawaan usia?


Untuk menghindari stres yang berkelanjutan, akhirnya Vie mengajak Arga untuk keluar mencari udara seger. Hanya sekedar jalan ke taman kota yang memang setiap sorenya akan selalu ramai.


Vie menghindari mall saat ingin menghabiskan waktunya bersama Arga. Menurutnya alam terbuka itu lebih cocok untuk tumbuh kembang Arga.


Arga sudah mendapatkan apa yang ia inginkan, bermain di luar. Biasanya ia akan di ajak oleh Jane ataupun Max, tapi setelah ayahnya kembali, Max tak pernah lagi datang untuk mengajaknya bermain lagi. Seperti ada yang hilang, namun kehadiran ayahnya mampu mengobati kekosongan hatinya.


Saat Arga berlari-lari, tak sengaja kakinya tersandung oleh batu yang membuat Arga jatuh tersungkur.


"Aduh ..."


Vie yang ada di belakang Arga segera berlari untuk menolong anaknya. Namun, langkah sudah di dahului oleh seseorang yang mengangkat tubuh Arga.


"Haikal."


🌼 Bersambung 🌼


Selamat pagi absen dulu nih mana suaranya dan mana mawar sama kopinya?


Author nodong terus ya?


iya dong, pokonya kalian harus bisa bawa Arga naik kepermukaan biar Author makin rajin buat lanjutin ceritanya 😊


Saat ini Arga berada dalam urutan 77, meskipun jauh di bawah, Author banyak berterima kasih kepada kalian. Ini adalah rekor terbaik setelah sekian purnama Author menulis di platform Noveltoon ini