Hidden Baby

Hidden Baby
Hidden Baby 92



Halo-halo Maaf baru bisa up karena tugas real lebih padat. Terimakasih yang masih setia dengan cerita ini 🥰


SELAMAT MEMBACA ....


Hari-hari telah berlalu.


Kerjasama Dirga dengan Tuan Excel juga berjalan dengan baik. Bahkan berkat kerjasamanya dengan perusahaan EX group, kini perusahaan Dirga telah berkembang pesat.


Pagi ini adalah hari pertama Arga untuk masuk sekolah TK. Tidak seperti hari-hari biasanya, Dirga merasa sangat kerepotan saat menyiapkan semua perlengkapan milik anaknya.


Saat Vie ingin membantu untuk menyiapkan keperluan mereka, Dirga menolak keras karena perutnya yang sudah besar. Hanya tinggal menunggu hari saja, adik Arga akan segera lahir dan itulah sebabnya Dirga tak memberikan izin kepada Vie untuk banyak melakukan aktivitas.


"Ayah ... Arga sudah bisa memakai sepatu sendiri. Ayah tak perlu membatu Arga!" tolak Arga, yang kini sudah bisa mengucapkan huruf R dengan jelas.


"Tapi kamu lambat, Ga!"


"Kalau ayah tidak sabar untuk menunggu, Ayah boleh berangkat duluan ke sekolahan biar Arga nanti menyusul dengan Oma."


"Kamu yang mau sekolah kok ayah yang kamu suruh berangkat duluan? gimana sih kamu ini, Ga?"


Dari dalam rumah Vie telah menenteng bekal untuk kedua lelaki tercintanya. Vie merasa bersedih karena tidak bisa ikut untuk mengantarkan Arga ke sekolah. Padahal ini adalah hari pertama Arga masuk TK. Pasti akan ada banyak ibu-ibu yang turut hadir mengantarkan anaknya. Vie takut jika Arga berkecil hati saat dirinya tidak bisa untuk mengantarnya.


"Bunda di rumah aja. Abang Arga sudah besar jadi tidak perlu untuk diantar. Kan ada pak Selamet yang mengantar Arga." Arga mengalami tangan Bundanya sebelum dia berangkat.


"Tuh dengerin apa kata anaknya!" sahut Dirga.


Vie mencoba untuk tersenyum saat melihat anaknya yang sekarang sudah jauh lebih dewasa dari sebelumnya. Arga juga paham jika bundanya saat ini merasa sangat kesulitan untuk beraktivitas akibat perutnya yang sudah besar.


"Ya sudah kami berangkat dulu ya." Dirga menge.cup kening Vie kemudian di lanjutkan ke perutnya. Saat Dirga menempel bibirnya ke perutnya Vie, sebuah gerakan kecil dari dalam perut seolah sedang menyapa Dirga.


"Dedek di dalam jangan galak-galak sama ayah ya! Jangan kayak abang Arga," bisik Dirga pelan.


"Abang Arga masih bisa dengar, Yah!" sahut Arga yang ternyata sudah berdiri di sampingnya.


"Oh iya ... Abang Arga baik dan pintar. Semoga kelak dedek juga pintar. Pintar untuk membully ayah," sambung Dirga.


Setelah melewati perdebatan panjang akhirnya dua lelaki itu meninggal rumah. Kini tinggal Vie dan mbak Santi di rumah, karena Pak Selamet sedang mengantar Arga ke sekolah.


Vie yang mulia merasakan sakit segera memanggil mbak Santi yang berada di dapur.


"Mbak Santi ... Mbak Santi," panggil Vie.


Dengan tergopoh, mbak Santi menghampiri majikannya yang sudah merasakan kesakitan.


"Mbak Santi, tolong telepon taksi. Sepertinya aku mau lahiran," perintah Vie.


Mbak Santi yang hanya di rumah berdua saja merasa panik saat majikannya mengatakan jika dia ingin lahiran. Tanpa pikir panjang Mbak Santi malah menelepon Dirga dan memberitahu jika istrinya akan segera melahirkan.


Sesuai dengan perintah Dirga, Mbak Santi segera memesan taksi online dan membawa majikannya ke rumah sakit terdekat.


Dua pilihan yang sulit untuk Dirga saat ini. Menemani acara Arga atau menemani istrinya yang hendak melahirkan. Sama-sama penting dalam hidupnya. Mengapa disaat seperti ini istrinya hendak melahirkan? mengapa tidak besok atau lusa saja agar Dirga bisa menemani acara Arga hingga selesai.


"Abang Arga, ayah ada kabar baik untuk abang. Sekarang bunda sudah mau melahirkan dedek bayi, jadi gak papa-kan kalau ayah tinggal untuk melihat bunda? Nanti Oma datang kok."


"Abang Arga tidak marah kan kalau ayah menemin bunda? Oma sebentar lagi juga sampai kok."


"Iya, Abang Arga baik-baik aja. Abang senang karena sebentar lagi akan bertemu dengan adek abang."


Di dalam ruangan sebuah rumah sakit, Vie sudah merasakan kontraksi yang kuat dan teratur, tatapi bayinya belum juga mau keluar. Padahal Vie sudah mengikuti instruksi dari sang Dokter.


"Dok, aku udah gak kuat." Vie menyerah saat bayinya belum juga mau keluar.


"Ibu tidak boleh berbicara seperti itu. Ibu harus kuat agar bayinya cepat keluar. Ayo semangat lagi. Kita ambil nafas lagi ya."


Dengan langkah tergesa, Dirga menelusuri koridor rumah sakit, berharap dia belum terlambat untuk melihat Vie melahirkan anaknya.


Pintu ruang persalinan di buka oleh Dirga. Ia melihat istrinya sedang berjuang untuk melahirkan buah cinta mereka.


"Dirga ... kamu datang juga ..." lirih Vie, saat melihat Dirga mendekatinya.


"Aku udah gak kuat," sambungnya lagi.


Dirga segera memberikan kecupan semangat di pucuk kepala sang istri.


"Kamu gak boleh ngomong seperti itu. Kamu pasti bisa." Dirga setengah memeluk tubuh Vie, seolah dia menyalurkan tenaganya.


"Dedek, ayah udah gak sabar pengen ketemu sama dedek. Cepat keluar ya sayang. Bunda sama abang Arga juga gak sabar pengen ketemu dedek." Dirga mengusap perut Vie yang sudah merasa kontraksi kuat.


Tak butuh waktu lama bayi Vie lahir diiringi suara tangisnya, membuat Dirga merasa sangat bahagia dan sangat bersyukur.


Gadis mungil yang akan melengkapi keluarga kecilnya sudah hadir dengan selamat.


Arga beserta Opa dan Omanya juga sudah sampai di rumah sakit saat bayi Vie sudah lahir.


"Bunda, adik Abang kok mirip ayah, gak mirip bunda?" protes Arga, saat dia melihat adiknya mungilnya.


"Karena adik abang Arga sayang sama ayah," sahut Dirga.


Saat ini lengkap sudah kebahagiaan Dirga dengan hadirnya bayi perempuan yang lebih mirip dengan dirinya. Semoga kelak putrinya tidak mengikuti jejak Arga yang selalu menyudutkan dirinya.


"Jadi siapa nama adiknya Abang, Yah?" tanya Arga.


"Siapa ya ... Gimana kalau ayah kasih nama Rinjani? Abang Arga setuju?"


"Iya. Arga setuju."


Papa Wira dan Mama Anggi turut bahagia atas kelahiran cucu kedua mereka. Keduanya juga sangat bahagia karena anaknya telah menemukan kebahagiaan yang sempurna dengan hadirnya gadis mungil bernama Rinjani.


...-SEKIAN-...


Terimakasih buat kalian yang sudah mengikuti Hidden Baby dari awal hingga akhir dan cerita ini cukup berakhir sampai disini 🥰


Untuk Give away, berhubungan tidak memenuhi syarat maka dengan berat hati Author terpaksa membatalkan. Tetapi Author akan bagi-bagi pulsa untuk pembaca setia yang selalu aktif memberikan like dan komentar dari awal hingga akhir. Pantengin terus besok aku share pengumumannya. Sekali lagi Author minta maaf 🙏🙏