
Satu Minggu berlalu. Hingga saat ini tak ada yang tahu kemana perginya Max. Tante Maya harus sampai masuk rumah sakit karena serangan jantung. Ia berharap Max segera kembali, namun nyatanya sang anak yang ia banggakan tak ada kabarnya, entah dimana rimbanya.
Pagi ini Vie diantar oleh Dirga untuk cek up kehamilannya. Selama beberapa hari harus disibukkan oleh drama antara Jane dan Max, kini Vie bisa bernafas lega saat Jane sudah kembali seperti sedia kala. Jane sudah masuk bekerja lagi dan seolah dia telah melupakan sesuatu.
"Ga, boleh gak habis ini aku ikut ke kantor? Aku ingin bertemu dengan Jane?"
"Boleh dong, apa sih yang gak buat istri aku." Dirga menyelipkan anak rambut ke telinga Vie.
Sepasang suami istri tak merasa malu saat bermesraan di depan umum, keduanya menganggap dunia hanya milik mereka, yang lain ngontrak saja.
Dirga merasa lega saat kandungan Vie baik-baik saja. Diakhir sesi, dengan ragu Dirga mengutarakan pertanyaan yang selalu mengganjal di kepalanya.
"Dok, bisakah saya bertanya?"
"Silahkan."
Dirga ragu, tapi itu harus ia tanyakan agar ia tak tersiksa.
"Jadi gini, Dok. Usia kandungan istri saya kan masih muda, masih rentan. Kira-kira apakah saya masih bisa manjat?"
Dokter menautkan alisnya, namun kemudian dokter itu tau apa maksud Dirga saat Vie memelototi Dirga.
"Oh … itu. Boleh tapi harus pelan-pelan agar tidak menyakiti janin yang sedang tumbuh. Nanti setelah usia kandungannya diatas lima bulan sudah boleh rajin-rajin manjat. Apalagi saat usia kandungan sudah memasuki bulannya. Itu sangat dianjurkan karena akan mempermudah persalinan," terang dokter.
( jangan percaya! se.sat )
Akhirnya Dirga merasa sangat bahagia, karena setelah pulang dari liburan Dirga tak mendapatkan lagi servis memuaskan dari Vie. Permainan tangan tidak senikmat dengan penjelajahannya didalam lembah yang sangat hangat.
Akhirnya nanti malam bisa naik angkasa.
Vie berjalan di samping Dirga. Banyak pasang mata yang tak percaya akan hubungan mereka. Semua karyawan baru mengetahui bahwa Vie adalah istri dari bos mereka. Beberapa orang yang pernah merendahkan Vie, semuanya bungkam. Mereka was-was akan nasib selanjutnya. Berharap Vie tidak memecat mereka.
Sebelum menemui Jane, Vie singgah terlebih dahulu ke ruangan Dirga, karena kakinya terasa lelah untuk melangkah. Akhir-akhir ini Vie memang sering merasa lelah meskipun tak melakukan aktivitas berat.
"Kamu istirahat dulu, mau minum apa biar dibuatkan?"
"Tidak usah. Aku tidak haus."
Vie merebahkan tubuhnya di sofa sambil memijat kakinya yang sudah cenat-cenut. Mata elang Dirga langsung bisa menangkap istrinya yang sedang memijat kaki dengan bibir manyun-nya.
"Tadi kan aku sudah bilang, gak usah ikut ke kantor. Ngeyel sih. Sini kakinya!" Dirga duduk di samping Vie.
Wajah yang awalnya mengkerut, kini bersinar karena saat ini kakinya tengah di pijat oleh suaminya. Rasanya tidak sia-sia mengikuti suaminya hingga ke kantor. Itung-itung saja bonus. Vie tertawa dalam hati.
"Tapi ini gak gratis, lho! Ada harga yang harus kamu bayar," kata Dirga.
"Kalau masalah bayaran aku paham kok. Mau kapan, sekarang atau nanti malam?" goda Vie.
"Dasar mesum!" ejek Dirga.
Vie malah tertawa. "Tapi kamu suka kan?"
Tanpa keduanya sadari, Kai sudah berdiri di samping sepasang suami istri yang sengklek ini. Kai tidak bisa membayangkan bagaimana hasil bibit yang mereka hasilkan kelak. Satu bibit seperti Arga saja sudah luar biasa, apalagi bibit kedua yang ditabur dengan ke-sengklekan keduanya. Bisa-bisa juga mesum sebelum waktunya.
"Hmm." Kai berdeham saat sepasang suami istri hendak menyatukan bibir mereka.
Vie dan Dirga sangat terkejut dan menjauhkan diri mereka. Dirga menatap Kai yang sudah berdiri di sampingnya.
"Ngapain kamu di situ?" ketus Dirga.
"Maaf Bos, aku tadinya hanya ingin mengingatkan anda, pagi ini kita ada rapat dengan dewan perdagangan. Tapi ternyata aku salah waktu. Maafkan aku," ucap Kai.
"Gak harus berdehem juga kali, Kai. Kamu tau gak, kalau membuatku terkejut. Sudahlah, ganggu aja." Bukanya pergi untuk bersiap, Dirga malam melanjutkan kegiatannya yang terjeda akibat keterkejutan mereka. Vie membulatkan matanya saat Dirga sudah menarik dagunya lalu segera meng.isap bibirnya dengan penuh gai.rah di depan Kai. Vie mencoba untuk mendorong tubuh Dirga, namun tenaga Dirga yang kuat malah semakin menekan tengkuknya.
Kai yang merasa dipanasi memilih meninggalkan ruangan bosnya yang tak ber attitude. Dengan sengaja melakukan hal itu di depan matanya. Untuk apa coba?
Kai keluar dari ruangan Dirga dengan kesal serta membanting pintu, membuat Nana terkejut.
"Dasar bos gak punya hati! Bisa-bisanya dia sengaja ciuman di depanku," umpat Kai.
Lelaki 26 tahun itu memegang bibirnya, sesat ia menyadari selama menjalin cinta dengan beberapa perempuan di masa lalu, Kai belum pernah mencium bibir kekasihnya. Bukan tidak mau, tapi Kai terlalu malu saat itu dan memang belum bisa. Namun setelah lulus dari kampus Kai mulai tahu bagaimana caranya, sayangnya ia tak memiliki kekasih.
Senyum di bibirnya menyungging lebar. Ia segera mengingat Miss Queen. Mungkin first kissnya harus ia coba dengan Miss Queen.
\*\*\*\*\*\*\*
Vie bahagia saat melihat Jane sudah bersemangat lagi. Mungkin inilah waktu yang tepat juga untuk memberitahu bahwa saat ini dirinya juga tengah mengandung adiknya Arga. Pasti akan bahagia melewati masa kehamilan yang bersamaan. Bahkan Vie juga bisa mengabadikan momen bersama dengan Jane.
Vie yang sudah mendapatkan suntikan vitamin dari Dirga terlihat lebih semangat lagi. Di masa kehamilannya saat, Vie mengakui jika Dirinya lebih mesum daripada Dirga. Vie sempat berpikir jika adiknya Dirga pasti laki-laki.
"Jane," panggil Vie, saat melihat Jane.
Saat ini Vie mengajak Jane untuk ke kantin. Sudah lama kedua tidak makan bersama dan kebetulan Vie ingin merasakan masakan di kantin itu.
"Aku senang akhirnya kamu bersemangat lagi. Aku sangat mengkhawatirkan mu, Jane," tutur Vie.
Jane tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Kamu tak perlu mencemaskan ku. Aku sekarang sadar, bahwa harus bisa melewati semua ini. Aku yakin, semua akan indah pada waktunya. Hanya butuh waktu saja untuk menunggu, seperti kamu."
Vie benar-benar lega. Ia tidak tahu mengapa tiba-tiba Jane bisa berpikir dewasa seperti itu. Apakah ada seseorang dibelakang Jane yang memberikan semangat.
"Kamu masih tinggal di apartemen milik Kai?" tanya Vie.
Jane mengangguk pelan. "Iya. Laki-laki itu tak mengijinkan aku untuk pulang. Katanya mending aku tinggal di sana agar orang-orang tak merendahkan ku dalam kondisi seperti ini," jelas Jane.
"Wah … Kai pengertian banget ya, sampai kepikiran segitu."
"Dia juga bilang katanya aku jangan mati dulu, di kantor masih banyak pekerjaan. Gila kan tuh orang?" sambung Jane, saat mengingat ucapan Kai tempo hari.
"Siapa yang gila?"
[ Dah, aku mau istirahat jangan nodong untuk lanjut ya 🤣 ]