
Xiao Han sontak bingung bagaimana cara mengambil kembali ginseng usia tua miliknya dari genggaman gadis kecil yang masih berdiri beberapa meter di depan.
Sebenarnya Xiao Han bisa saja mengambil kembali ginseng itu dengan cara baik-baik, namun ia takut jika si gadis mengadukan hal itu kepada keluarganya.
Gadis kecil berambut sebahu tersebut menatap bingung Xiao Han."Apa kamu tidak menginginkan benda ini lagi ?"
Mata Xiao Han melebar karena menemukan cara mengatasi masalahnya saat ini. Xiao Han menatap gadis di depan dengan raut ramah."Aku masih menginginkan benda di tanganmu, bisakah kamu meletakan benda itu di tanah ?"
Gadis itu menggeleng."Tidak, jika kamu menginginkan benda ini kembali maka kemari dan ambilah."
Xiao Han tersenyum kecil karena tau hal ini akan terjadi, iapun berjalan menghampiri gadis itu seraya mengeluarkan satu buah tanaman ginseng muda dari balik pakaiannya.
"Aku akan memberikan ginseng usia muda ini kepadamu, tapi kamu juga harus mengembalikan ginseng usia tua milikku."
Gadis kecil itu menatap dalam mata Xiao Han."Kamu..Takut dengan warga desa ? Sebab itu kamu melakukan hal ini agar tidak membuat ku tersinggung dan mengadukan masalah ini ke keluarga ku."
Xiao Han terdiam sambil menggaruk kepala karena rencana yang dirinya susun sudah di ketahui oleh gadis tersebut, harus Xiao Han akui jika gadis itu lumayan pintar.
Reaksi Xiao Han membuat gadis tersebut tersenyum."Ternyata benar apa yang ku Katakan. Kamu tidak perlu takut, kurasa tidak ada yang tau dengan tempat ini selain kita berdua."
"Jadi kamu tidak akan memberitahukan kepada keluargamu jika kau pergi kemari dan menemukan ku ?"
Gadis itu kembali tersenyum lucu.
"Tentu saja tidak, untuk apa aku mau melakukan hal jahat seperti itu kepada temanku sendiri."
Xiao Han menatap mata gadis kecil di depan dengan perasaan bingung."Teman ? Benda macam apa itu ??"
Gadis kecil itu nampak tidak percaya jika Xiao Han tidak tau apa itu teman.
"Kamu sungguh tidak tau apa itu arti teman ?"
Xiao Han menggeleng sementara gadis kecil itu nampak prihatin dengan Xiao'Han, sebab gadis itu berpikir berapa lama Xiao Han hidup sendiri sampai dia tidak tau apa itu teman.
"Bisakah kita berbicara di tempat lain, jika terus berdiri di sini aku akan mati kepanasan."Ujar gadis tersebut.
Xiao Han menunjuk ke arah pohon tempat tadi dirinya baru sadar."Jika kamu kamu, kita bisa duduk di sana."
"Tentu saja aku mau."
Gadis itu berjalan menuju pohon yang tadi Xiao Han tunjuk. Akibat trauma yang Xiao Han alami kepada warga desa,
dirinya masih ragu dan takut untuk lebih dekat dengan gadis kecil yang baru di kenalnya beberapa menit yang lalu.
Gadis itu duduk bersender di pohon sementara Xiao Han duduk dengan jarak satu meter dengan gadis sebelumnya.
"Kenapa kamu duduk di sana ? Apakah kamu tidak merasakan kepanasan."Gadis tersebut nampak kasihan melihat Xiao'Han duduk di bawah terik matahari, apalagi dia baru saja pulih dari luka parah yang di alaminya.
Dengan raut wajah ramah gadis itu menatap Xiao Han."Kamu tidak perlu merasa takut, aku tidak akan menyakitimu. Lagian tempat ini hanya kita yang tau, jadi Kemari dan duduk bersamaku."
Xiao Han menggeser posisi duduknya sedikit lebih dekat dengan gadis di depan, setidaknya sampai tubuh Xiao Han di lindungi oleh bayang pohon.
"Nama ku Xiao Han."Jawab Xiao Han sambil duduk dengan merangkul kedua lututnya.
Gadis kecil itu memandangi wajah Xiao Han lalu tersenyum lucu."Kamu memiliki mata yang indah, kenapa kamu tidak mandi sebentar untuk membersihkan tubuhmu yang penuh lumpur ?"
Xiao Han menatap kedua pergelangan tangannya yang ternyata masih di balut oleh lumpur kering.
Xiao Han menatap gadis kecil yang duduk di depan, sampai menarik perhatian gadis tersebut.
"Apakah aku lucu ?"Gadis itu berkata berterus terang.
Xiao Han menggeleng."Bukan, kamu belum memberi tahuku siapa namamu."
Gadis itu tersenyum membeku karena terlalu pd. Gadis tersebut kembali menatap Xiao Han seraya tersenyum ramah."Aku akan memberi tahu namaku jika kamu sudah mandi."
Xiao Han hanya diam,
iapun mengeluarkan beberapa ginseng air usia muda yang ia sembunyikan di balik pakaian dan meletakan semua ginseng itu di samping beberapa batang bambu yang masih ada.
Xiao Han mengambil bambu runcing yang ia gunakan tadi malam sebagai senjata tambahan.
Setelah siap, Xiao Han berjalan menuju tepi sungai dengan membawa serta sebuah tombak runcing yang akan di gunakan untuk menombak ikan.
Air di sungai ini kelihatan sangat jering karena banyak bebatuan alam di dasar sungai, dengan arus yang tidak terlalu kuat membuat banyak ikan betah tinggal di sungai ini.
Kedalaman sungai ini berada di kisaran setengah meter sehingga tidak akan membuat tubuh Xiao Han tenggelam. Meskipun begitu, Xiao Han sangat mahir berenang karena hampir sepanjang waktu ia habiskan di tempat ini.
Dengan percaya diri Xiao Han berjalan memasuki air tanpa melepaskan pakaiannya, karena ia tau akan sangat memalukan jika tubuhnya di lihat oleh seorang perempuan.
Dari tempat yang sama gadis kecil sebelumnya tersenyum sendiri melihat Xiao Han berusaha menombak ikan.
Meski sudah lumayan lama, tidak ada satupun ikan yang berhasil Xiao Han tangkap.
Gadis tersebut nampak kagum dengan Xiao Han, sebab Xiao Han tidak mau menyerah meski berulang kali gagal dalam menombak ikan.
Masalahnya bukan berasal dari si ikan, melainkan dari cara Xiao Han menombak. Tangan kurus Xiao Han tidak terlalu kuat dalam menombak, sehingga memberikan peluang untuk ikan buruannya kabur.
Merasa kasihan melihat Xiao Han yang terus-menerus gagal, gadis tersebut berniat membantu Xiao Han.
Gadis itu menadakan telapak tangan, dari telapak tangan gadis tersebut keluar sebuah pagoda berwarna biru muda bertingkat lima.
Dia hendak meningkat kekuatan, kecepatan serta semua atribut Xiao Han dengan menggunakan kemampuannya sebagai spirit master tipe pendukung.
Namun saat melakukan hal itu gadis itu di buat tersenyum kecil melihat Xiao Han berhasil menangkap seekor ikan besar dengan usahanya sendiri.
"Usaha tidak menghianati hasil,
aku terlalu memandang rendah Xiao Han. Meski belum membangkitkan ecense spiritnya, ia masih memiliki tekad untuk tidak menyerah."