Chasing Happiness

Chasing Happiness
02.Balasan pahit



Ular di belakang bergerak lebih cepat dari langkah kaki kurus Xiao Han.


Saat Xiao Han berada dalam jangkauannya, ular tersebut membuka mulut siap menerkam Xiao Han. Bersamaan saat ular itu hendak menerkam, dengan cerdik Xiao Han melompat masuk ke dalam lobang yang terbentuk dari akar pohon besar.


Alhasil ular tersebut menabrak akar pohon tempat Xiao Han bersembunyi.


Karena cepat mengambil tindakan kali ini nyawa Xiao Han terselamatkan, ia duduk merangkul lutut memperhatikan ular weling yang berusaha menghancuran akar yang menghalanginya.


Ular weling itu terlihat sangat marah dengan membenturkan kepalanya ke rongga akar tempat Xiao Han bersembunyi.


Brak !


Braaaak !


Suara benturan terdengar semakin keras saat ular weling itu menolak menyerah dan berulangkali membenturkan kepalanya untuk menghancurkan rongga akar yang menjadi tempat persembunyian Xiao Han.


Xiao Han sadar jika tidak aman bagi dirinya berada di tempat itu lebih lama karena akar yang melindunginya mulai hancur.


Di saat ular weling hampir berhasil menghancurkan tempat berlindung Xiao'Han. Xiao Han melihat sebuah celah di bagian belakang pohon, iapun keluar melewati celah tersebut.


Beberapa saat setelah Xiao Han berhasil kabur, ular weling berhasil menghancurkan akar tempat berlindung Xiao Han namun tidak menemukan siapapun di sana.


Tidak lama kemudian ular itu sadar jika Xiao Han berlari melewati celah di belakang pohon. Ular itu nampak bingung, hingga di kejauhan ia dapat melihat Xiao Han tengah berlari menjauh.


Ular tersebut berdesis kesal lalu kembali mengejar Xiao Han, di antara pepohonan tinggi Xiao Han merasa kedua kakinya mulai sakit karena menginjak sesuatu yang tajam saat sedang berlari.


Merasa jika ular tadi masih mengejar, Xiao Han memaksakan diri untuk Kembali berlari dengan keadaan pincang serta telapak kaki mengeluarkan darah.


Benar saja. Tidak jauh di belakang ular weling nampak sudah menyusul, ia menghancurkan apa saja yang menghalanginya saat melihat Xiao Han berada beberapa meter di depan.


Dengan perasaan panik Xiao Han memaksakan diri untuk berlari dengan cepat memasuki sebuah semak belukar berduri.


Setelah keluar dari semak tadi tubuh Xiao Han terlihat di penuhi dengan luka goresan, nafasnya juga mulai terputus-putus sampai sesuatu menyandung kakinya hingga membuat tubuh kecil Xiao Han terjatuh.


Dengan keadaan lemas tidak berdaya Xiao Han terungkup, iapun berbalik dan menemukan ular weling menyeringai memandanginya.


Karena sangat panik sementara kakinya sulit untuk di gerakan, Xiao Han merangkak mencoba mencapai kapaknya yang terpental saat ia jatuh ke bawah pohon di depan.


Seakan memiliki dendam terselubung ular weling dengan beringas menyerang Xiao Han hingga membuat tubuh kecilnya terpental menabrak pohon.


Dengan keadaan terduduk lemas dengan posisi bersender di sebuah pohon, Xiao'Han menatap ular weling di depan sambil memegangi perutnya.


Nyatanya melihat Xiao Han yang sudah tak berdaya tidak membuat ular itu berhenti menyiksanya, dengan beringas ia menyerang Xiao Han dengan ekornya hingga membuat Xiao Han pasrah terpental ke sama kemari.


Bruuuk


Xiao Han merasa tubuhnya tidak lagi sanggup bertahan, dengan keadaan tengkurap di tanah ia melihat ke depan dan menemukan jarak kapaknya sudah tidak jauh lagi.


Untuk kesekian kalinya Xiao Han merangkak untuk meraih kapaknya, saat ujung jari Xiao Han hampiri berhasil menggenggam kapak lagi-lagi ular weling menyerangnya dengan sangat kuat sampai Xiao Han menabrak pohon di depan.


Dengan keadaan lemas Xiao Han bersender di sebuah pohon, darah segar nampak mengalir di sudut bibirnya.


Xiao Han memegangi tulang rusuknya yang sepertinya patah karena menghantam pohon. Sangking sakitnya, Xiao Han sampai tidak bisa merasakan tiap-tiap bagian tubuhnya.


Saat wajah ular weling itu berada tepat di hadapannya, Xiao Han mengayunkan kapak di tangannya hingga berhasil memotong lidah ular weling.


Ular itu melepar kesakitan seraya membenturkan kepalanya ke pohon berulang kali hingga akhirnya ia tergeletak sekarat.


Pandangan Xiao Han semakin buram, iapun merangkak lalu berhenti tepat di depan Kapala ular weling.


Xiao Han mengerahkan semua tenaga yang tersisa dan mengapak kepala ular weling itu berulang kali sampai ular itu mati mengenaskan.


Karena sudah terluka parah Xiao Han pingsan tidak lama setelah ular weling mati. Tiba-tiba Cincin roh berwana putih di perkirakan berusia 10 tahun, keluar dari tubuh ular weling.


Tiba-tiba dari telapak tangan Xiao Han keluar sebilah pedang karatan, pedang itu segera menghisap cincin roh di atas kepala mayat ular weling.


Pedang tersebut kembali masuk ke telapak tangan Xiao Han setelah berhasil menghisap seluruh energi cincin roh ular weling tanpa menyisakan apapun.


Tidak lama kemudian sepuluh orang pria dewasa datang bersama dengan gadis kecil yang Xiao Han selamatkan.


"Ayah di sana !"


Seru gadis itu seraya menunjuk ke arah Xiao Han yang tergeletak di samping mayat ular weling.


Beberapa pria di utus untuk memastikan Xiao Han, beberapa pria di utusan itu lebih terkejut dengan mayat ular weling di samping Xiao Han.


Ular itu di katakan masih anakan karena ular weling dewasa memiliki ukuran jauh lebih besar dari anakan mayat ular weling di samping Xiao Han.


"Paman ! Kamu harus lihat ini."Seorang pria yang berada di sekitar Xiao Han berteriak lumayan keras.


Pria yang di maksud ternyata adalah ayah dari gadis kecil yang Xiao Han selamatkan, pria itu mengangguk ke arah teman-temannya.


Iapun berjalan menghampiri teman-temannya bersama dengan gadis kecil di sampingnya.


"Paman, kami menemukan anak kecil ini tergeletak pingsan di samping mayat ular weling berusia 10 tahun. Apakah kita harus membawanya pulang ?"


Ayah dari gadis kecil sebelumnya memperhatikan Xiao Han."Bukankah dia anak si sampah Xiao Yun ?"


Salah seorang pria mengangguk membenarkan perkataan pria bertubuh tinggi besar di hadapannya.


"Tinggalkan saja dia, kalian bawa saja ular ini untuk di makan bersama-sama dengan warga lain."


Pria tersebut berkata sambil berjalan hendak meninggalkan tempat itu, seraya menenteng tangan anaknya.


Gadis kecil itu membanting dan melepas genggaman ayahnya."Ayah ! aku bisa selamat karena anak itu, sementara kamu malah membiarkan seseorang yang menyelamatkan ku mati di sini."


Pria itu menatap anaknya."Putri ku, dia adalah aib desa kita. Tidak ada gunanya dia hidup, sekarang ayo pulang, ibumu pasti sangat khawatir."


Gadis kecil itu menatap ayahnya dengan perasaan kecewa."Aku tidak menyangka ayah akan berkata seperti itu setelah bocah tadi berani mati untuk menyelamatkan ku."


"Anak ku...


Gadis kecil tersebut berbalik hendak kembali melihat Xiao Han, tetapi ayahnya segera menggendong tubuh gadis itu dan membawanya pergi.


Beberapa pria yang datang bersama dengan ayah dari gadis sebelumnya bersama-sama menggotong tubuh ular weling yang mati, lalu berjalan pergi meninggalkan Xiao Han sendirian di tengah hutan rimba.