Chasing Happiness

Chasing Happiness
20.Pelatihan pertama



Karena bingung dengan kutipan pendek dari kemampuan mata iblis tahap pertama, Xiao Han mencoba membacanya berkali-kali sampai dirinya merasa bosan.


"Ugh ! Apa-apaan ini, aku sama sekali tidak mengerti dengan dua kutipan pendek ini namun kurasa inilah petunjuk untuk menguasai kemampuan mata iblis."


Xiao Han terus membaca dan terus membaca dengan keyakinan yang tidak pernah padam, meski hari sudah gelap dan hutan di terangi oleh beberapa tanaman bercahaya, Xiao Han masih tetap membaca dua kutipan tersebut.


Dua kutipan itu seakan menyimpan cara bagaimana melatih pengelihatan, namun nampaknya Xiao Han masih belum mengerti bagaimana cara mencerna dua kutipan tersebut.


Meski belum kunjung menemukan titik terang, Xiao Han tidak menyerah dan terus mencoba mencerna dua kutipan itu.


Xiao Han membaca jauh lebih lama dari biasanya sampai membuat kedua matanya terasa perih, namun hal seperti itu tidak membuat Xiao Han menyerah.


Membaca dan membaca, Xiao Han terus menerus mendalami dua kutipan tersebut dan menemukan dua buah fakta yaitu angin dan pengelihatan.


Angin dan pengelihatan merupakan makna tersembunyi yang harus di pecahkan lagi apa maksud dari kedua fakta tersebut.


Mendapatkan dua buah fakta tersebut telah menjadi sebuah angin segar bagi Xiao Han, iapun semakin giat dan semakin semangat untuk mengkaji dua buah fakta tersebut.


Malam terasa sangat damai,


suara jangkrik dan kicauan burung menjadi teman bagi Xiao Han dalam mempelajari kitab iblis.


Setelah mendapat dua buah fakta dari dua kutipan pendek, Xiao Han tidak lagi membaca dua kutipan tersebut karena dirinya hanya harus menyimpulkan dua buah fakta yang di temukan.


"Angin dan pengelihatan..."


Gumam Xiao Han lirih seraya menatap langit malam.


"Angin berhembus tenang sehingga membuatnya menjadi sebuah perumpamaan kehidupan, namun mata adalah organ yang tidak bisa melihat darimana datangnya angin dan bagaimana rupa warnanya angin..


Xiao Han kembali membuka kitab iblis dan membaca halaman satu,


ternyata di sana tidak hanya terdapat sebuah kemampuan mata iblis namun juga sebuah seni pedang.


Seni pedang terlihat tidak di curahkan dalam tulisan namun sebuah gambar seseorang yang memeragakan semua gerakan yang tercantum.


"Kemampuan berpedang ? Mungkinkah bisa di ganti dengan katana ?? Sambil memecahkan kemampuan mata iblis, kurasa tidak ada salahnya mempelajari kemampuan berpedang ini..


"Biar kulihat, ternyata kemampuan berpedang ini bernama teknik Slash of the nine directions."


Note : Tebasan sembilan penjuru


Semangat Xiao Han semakin mengebul-ngebul, iapun berdiri dengan membawa pedang katana.


Pedang itu terasa sangat berat bagi Xiao Han, bahkan untuk membawanya Xiao Han harus menahan nafas dan menyeretnya.


Xiao Han teringat bagaimana mudahnya Qian Yu menenteng pedang ini,


hal tersebut semakin membuat Xiao Han kagum terhadap sosok Qian Yu.


Dengan susah payah dengan tubuh ringkinya Xiao Han mencoba melakukan sebuah tebasan sesuai dengan kitab.


Saat akan melakukan tebasan Xiao Han mendengar suara retakan tulang pada bahunya, seketika Xiao Han tersungkur dan memegangi bahunya.


Sementara pedang katana terjatuh dan tertancap dekat dengan Xiao Han, nampak Xiao Han sedang menahan sakit pada bagian bahunya.


Meski bukan dokter Xiao Han tau bahunya mengalami cidera berupa tulang retak, sehingga untuk beberapa jam tangan kanannya tidak bisa di gerakan.


Xiao Han tidak menangis apalagi menjerit, dirinya hanya menahan serta merasakan rasa sakit yang di alami sehingga dirinya dapat terbiasa.


iapun berdiri dan menghampiri sebuah pohon yang tidak terlalu jauh.


Begitu ada di depan pohon Xiao Han langsung menghantamkan bahunya ke batang pohon, bahkan sampai membuat beberapa daun pohon tersebut gugur.


Hal itu tidak di lakukan Xiao Han dengan sembarang, sebenarnya bahu Xiao Han bisa kembali di gerakan jika bagian yang retak di geser ke tepat sebelumnya.


Kedua mata Xiao Han memerah karena menahan rasa sakit namun dirinya menolak untuk menangis.


Tiba-tiba di pikiran Xiao Han terbiasa wajah Qian Yu yang seketika membuat dirinya menjadi kuat.


Xiao Han mengambil ancang-ancang lalu berlari dan menghantamkan bahunya pada batang pohon hingga kembali terdengar suara retakan.


Setelah perjuangan dari rasa sakit itu tangan kanan Xiao Han kembali bisa di gerakan meskipun masih terasa sakit di bagian bahu.


Xiao Han terduduk lemas di bawah batang pohon dengan tatapan tertuju pada pedang katana yang tertancap beberapa meter di depan.


"Uh ! Kurasa aku harus melatih fisik ku terlebih dulu sebelum menggunakan pedang katana."


Setelah di rasa cuku beristirahat,


Xiao Han membuka baju dan melakukan pus up sebanyak yang dia bisa dengan tangan cideranya.


Setelah pus up sebanyak seratus kali,


Xiao Han langsung terkapar lemas karena tidak memiliki kekuatan lagi.


Nafas Xiao Han terasa berat dan tidak teratur, serta pikirannya menjadi beku akibat tubuhnya sudah melebihi batas maksimal dari ketahanannya.


"Ternyata begini rasanya jika melewati batas tubuh, rasanya sangat lelah namun juga membakar lemak tubuh ku."


Xiao Han duduk beberapa waktu lalu bangkit berdiri dengan tubuh di basahi keringat, iapun kembali mengenakkan baju lalu berjalan pelan menghampiri pedang katana.


Dengan susah payah Xiao Han menarik pedang itu dan hanya mampu menyeretnya sehingga saat dirinya berjalan bagian ujung pedang katana membelah jalan yang di lalui.


Xiao Han menyudahi pelatihan pertamanya saat bulan berada di puncak, iapun berjalan pulang sementara pikirannya masih menerawang jauh arti dari fakta angin dan pengelihatan.


Xiao Han yakin bahwa kedua fakta itu adalah kunci dari mendapatkan kemampuan mata iblis, seperti yang di ketahui untuk memecahkan sebuah teka-teki bukan perkara mudah.


Xiao Han membutuhkan banyak waktu untuk mengetahui arti dari dua fakta, sehingga Xiao Han memilih untuk berlatih memperkuat ketahanan fisik dan di lanjutkan dengan berlatih ilmu pedang sembilan penjuru.


Meski pelatihan yang di lakukan Xiao Han terkesan acak-acakan namun cara ini bisa mempersingkat waktu,


sebab sambil berlatih ilmu pedang sembilan penjuru Xiao Han juga memikirkan arti dari dua fakta.


Setelah keluar dari hutan Xiao Han berjalan pergi ke sungai, iapun membersihkan tubuh di sana selama beberapa waktu hingga akhirnya selesai lalu berjalan pulang.


Begitu sampai Xiao Han segera masuk ke dalam gubuk. Iapun meletakkan pedang katana bersender pada dinding gubuk, sementara kitab dan kantong berisi kristal aneh Xiao Han simpan di bawah tembikar.


Begitu semua sudah siap Xiao Han menyalakan api tungku, iapun mengambil satu lagi ginseng air usia muda untuk di jadikan bahan percobaan.


Kali ini Xiao Han mencatat semua kegagalan di dalam otaknya,


iapun kembali melakukan hal yang sama seperti sebelumnya yakni merebus ginseng air usia muda.


Sambil menunggu air yang merebus ginseng mendidih, Xiao Han berbaring di tembikar dan memandangi langit-langit gubuk memikirkan dua fakta.