Chasing Happiness

Chasing Happiness
38.Penguasaan tertinggi



Xiao Han tidak menyangka ternyata tubuhnya terlihat lebih dewasa dari kenyataannya, bahkan wajah


Xiao Han nampak sangat tampan meski berperawakan datar.


Setelah kaca di hadapannya menghilang, Xiao Han menatap Liu Yan."Memangnya jika aku berumur 20 tahun lebih kau akan menyukai ku ? Huu, kurasa tidak karena aku hanya memiliki satu pasangan."


Liu Yan mendengus dan membuka muka serata melipat kedua tangan di depan dada."Kamu terlalu percaya diri, aku lebih suka dengan laki-laki yang terlihat dewasa dari segi manapun."


Xiao Han tersenyum penuh makna."Kamu yakin..?


Liu Yan terdiam, laki-laki tipenya justru di miliki semua oleh Xiao Han.


"Te-tentu saja, tidak mungkin aku menyukai anak kecil seperti mu."Kata Liu Yan sambil membuang muka karena tersipu malu.


Xiao Han memandang keluar gubuk."Hari masih pagi, kurasa aku harus pergi sekarang untuk menyempurnakan kemampuan ku."


"Eh ? Bagaimana dengan ku ?"Tanya Liu Yan sambil menunjuk dirinya sendiri.


Xiao Han berjalan pelan ke luar gubuk."Lakukan saja apa yang sering kamu lakukan selama tinggal di sini."


"Nak, sebaiknya kamu jangan terbang karena di dunia ini hanya kamu yang dapat melakukannya. Jika di ketahui oleh orang lain, mungkin akan menjadi masalah lain nantinya."Jelas peri pedang dengan suara yang hanya Xiao Han seorang diri yang bisa mendengarnya.


Xiao Han mengagguk mengerti,


iapun berjalan pergi menuju gunung demi menuntaskan pelatihan mata iblis tahap pertama yang sedikit lagi bisa di sempurnakan.


Liu Yan diam-diam menguntit Xiao Han dari belakang menggunakan beberapa daun sebagai alat kamuflase, yang sebenarnya hal itu tidak membantu sama sekali.


Peri pedang mengatakan kepada Xiao Han jika Liu Yan sedang mengikutinya,


dengan cepat Xiao Han berpikir untuk membuat bingung Liu Yan.


"Pancing hewan spirit rendah untuk mengalihkan perhatiannya."Kata Xiao Han dengan nada kecil kepada peri pedang.


Peri pedang mengikuti arahan Xiao Han dengan memancing hewan spirit rendah menggunakan semacam hawa pemikat.


Tiba-tiba dari dalam semak muncul seekor bagas berkulit hitam langsung menyerang Liu'Yan, dengan terampil


Liu Yan mampu menghabisi bagas itu tanpa kesulitan yang berarti namun ia kehilangan jejak Xiao Han.


Liu Yan berlari ke tempat terakhir kali ia melihat Xiao Han."Kemana perginya pria itu ? Dasar pria aneh.


Di saat Liu Yan dengan kebingungan mencari Xiao Han, pria yang di cari terlihat sudah berada di atas puncak gunung berhadapan dengan goa sarang burung walet.


"Jangan mengecewakan ku nak."Kata peri pedang.


"Tenang saja, aku akan menguasai teknik ini dalam satu hari, namun sepertinya aku akan terluka parah setelahnya namun kamu pasti akan menyembuhkan ku."


Di dalam diri Xiao Han, peri pedang tersenyum kecil."Huu, mengenai hal itu tenang saja, aku tidak mungkin membiarkan mu mati."


"Syukurlah jika begitu, maka sekaranglah saatnya."Tatapan Xiao Han berubah serius, ia melempar kerikil ke dalam goa di depan.


Dari dalam goa keluar ratusan burung walet, kecepatan burung itu nyaris tidak terlihat namun Xiao Han tidak bergeming meski kawanan burung itu terbang cepat ke arahnya.


Biasanya Xiao Han akan menghilangkan tangan untuk melindungi wajah, namun sekarang berbeda, ia tidak melakukan teknik perlindungan apapun dan membiarkan kawanan burung itu menyayat tubuhnya.


Xiao Han tetap membuka mata meski sangat berbahaya, bola matanya nampak ke sana kemari melihat pola gerakan kawanan walet.


Di waktu yang tepat Xiao Han mengeluarkan sebilah katana dari kalung penyimpan, iapun dengan lincah melakukan teknik tebasan sembilan penjuru.


Satu persatu serangan Xiao Han berhasil membelah satu burung walet menjadi dua bagian. Hingga dari waktu ke waktu, serangan Xiao Han semakin tajam dan tau dari mana asal serangan.


Mata emas Xiao Han juga perlahan berubah menjadi keunguan, sehingga dengan mudah dia bisa tau dari mana serangan berasal meski sasaran bergerak dengan sangat cepat.


Xiao Han merasa cukup puas dengan hasil yang di dapat, meski hampir mati kekurangan darah.


Dengan cepat peri pedang membantu meregenerasi semua luka Xiao Han, bahkan secara otomatis baju yang di gunakan Xiao Han juga kembali bagus seperti semula.


Setelah semua luka sudah sembuh,


Xiao Han berdiri.


"Mata iblis..


Secara spontan mata Xiao Han memancarkan cahaya keunguan,


dengan menggunakan teknik ini membuatnya mampu melihat pergerakan seekor nyamuk sekalipun.


Namun setelah lima menit secara otomatis kemampuan itu menghilang, Xiao Han bisa meningkatkan waktu penggunaan mata iblis


namun harus terlebih dahulu melewati semua tahapannya.


"Nak sebaiknya kita bergegas pulang, kurasa gadis itu sedang dalam masalah."Kata peri pedang.


Xiao Han mengagguk lalu berjalan menuruni gunung, iapun juga sempat memburu beberapa ayam dan menangkap seekor kelinci gemuk.


Di dalam perjalanan pulang Xiao Han melihat Liu Yan duduk sendirian di bawah sebuah pohon sambil merangkul kedua lutut dan mendudukkan kepala.


Xiao Han menggeleng pelan lalu berjalan menghampiri Liu Yan, iapun berhenti di depan gadis itu.


"Tingkah mu sekarang tidak mencerminkan seorang perempuan dewasa."Kata Xiao Han.


Liu Yan sontak mengangkat wajah,


iapun melirik beberapa ayam di tangan Xiao Han hingga perharinya tertuju pada seekor kelinci putih gemuk di gendongan Xiao Han.


"Akan kau apakan Kelinci itu ?"Tanya Liu'Yan dengan penasaran.


Xiao Han melirik kelinci di gendongnya lalu kembali menatap Liu Yan.


"Rencananya kelinci ini akan ku bakar bersama dengan ayam yang ku temukan."


Entah sejak kapan kelinci di gendongan Xiao Han menghilang dan sudah berada di gendongan Liu Yan yang sudah berdiri di samping Xiao Han.


"Aku memang pembunuh,


namun paling tidak aku masih memiliki hati untuk tidak membunuh hewan menggemaskan ini."Kata Liu Yan sambil mengelus kelinci di gendongnya.


Xiao Han menggaruk pipi dengan telunjuk."Seterah kamu saja, aku tidak bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada kelinci itu."


Liu Yan mendengus kesal."Huu !


Hanya karena aku tidak bisa memasak, jangan meremehkan ku dalam bidang mengurus hewan."


Xiao Han mengangkat kedua bahu sambil memasang raut tidak percaya."Seterah kamu saja, alangkah baiknya jika kelinci itu di lepas karena sepertinya dia lebih takut denganmu."


Benar saja apa yang di katakan Xiao Han, kelinci di gendongan Liu Yan nampak lebih ketakutan ketimbang saat dia akan di bakar.


Liu Yan tidak mau mengalah meski dirinya merasa terpukul melihat reaksi kelinci itu ketika berada di pelukannya.


"Huuu..Akan ku pastikan kelinci ini akan jinak dalam beberapa hari."


Setelah mengatakan itu Liu Yan berjalan pergi, meninggalkan Xiao Han yang kebingungan dengan sikapnya yang kekanak-kanakan.