
Perempuan tersebut terlihat membeku karena baru kali ini seseorang bisa menghindar serangannya, meski beberapa murid seperti Kim Ryu dan Liu Yan juga demikian, sebenarnya hanya Xiao Han yang mampu melewati semua rintangan dengan waktu tercepat.
Bahkan Xiao Han melewati semua rintangan sebelumnya tanpa menerima luka sedikitpun, meski sebagai seorang guru yabg sudah terlatih, perempuan tersebut tidak pernah menyangka bahwa kemampuan Xiao Han sudah begitu hebat padahal tidak pernah berlatih saat dia berada di sini.
"Nona, apakah kamu tidak apa-apa ?"
Xiao Han melambai kan tangan di depan wajah perempuan paruh baya di hadapannya.
Sontak lamunan perempuan tersebut pecah ketika mendengar suara
Xiao Han, dia nampak ling-lung dan akhirnya kembali fokus.
Perempuan itu batuk kecil lalu berbalik menghadap tungku,"Lepaskan bajumu, aku akan segera membuat totem kirin."
Xiao Han mengagguk lalu membuka bajunya, iapun di persilakan perempuan sebelumnya untuk duduk di depan dengan posisi membelakanginya.
"Kirin jenis apa yang kamu inginkan ?"Tanya perempuan itu sambil menyiapkan beberapa alat.
Xiao Han tidak terlalu banyak berpikir dan memberi tahu kepada perempuan itu untuk membuat totem kirin jenis naga namun lebih sederhana.
Perempuan tersebut hanya diam ketika
mendengar permintaan simpel dari
Xiao Han, iapun bersiap-siap dengan sepuluh buah jarum tipis yang di tancapkan pada beberapa bagian di punggung Xiao Han.
Kegunaan jarum-jarum itu adalah untuk menahan laju titik darah serta merilekskan otot dan sistem saraf, sehingga Xiao Han tidak akan merasa sakit ketika nanti proses pembuatan totem di lakukan.
Melihat punggung Xiao Han dari belakang entah mengapa membuat wanita berpenampilan tomboy itu tertegun, pasalnya punggung Xiao Han benar-benar kokoh sampai menutupi tubuhnya yang berukuran lebih kecil.
"Ak-aku akan mulai.."Perempuan itupun mulai menggunakan beberapa alat aneh yang bisa mengeluarkan cairan panas berwana hijau.
Karena sistem sarafnya sudah mati rasa, Xiao Han tidak merasakan apapun ketika perempuan tersebut mulai mengukir gambar naga dengan cairan panas berwana hijau cerah.
Beberapa waktu kemudian hawa terasa sedikit lebih panas, tato di punggung
Xiao Han sudah terlihat polanya yang mulai membentuk sebuah gambar naga hijau yang di ukir dari punggung sampai tulang ekor.
Dari awal mulai Xiao Han nampak biasa saja, berbeda dengan wanita di belakangnya yang mulai berlagak aneh di lihat dari wajahnya yang memerah serta deru nafasnya yang hangat seakan mengeluarkan uap putih menyentuh kulit punggung Xiao Han.
"Nona, apakah kamu yakin tidak apa-apa ? Meski aku tidak bisa melihat mu,
aku tau sepertinya kamu sedang kurang sehat.."
Xiao Han berpikir untuk menyudahi kegiatan ini karena sepertinya ada yang aneh dengan wanita pembuat Totem tersebut, namun wanita itu mengatakan dirinya tidak apa-apa dan tetap melanjutkan pekerjaannya.
Dari waktu ke waktu tato kirin Xiao Han mulai nampak hidup, hingga setelah butuh waktu selama lima jam barulah tato kirin Xiao Han selesai di buat dan nampak sangat cocok dengan tubuhnya.
"Sudah selesai, sekarang tunggu di sini aku akan mengambil buku anggota untuk mendata mu."Wanita itu berdiri dan berjalan masuk ke sebuah ruangan,
tidak lama kemudian ia keluar dari ruangan tersebut dengan membawa sebuah buku tebal di tangan.
Perempuan itu berjalan menuju ke sebuah meja resepsionis lalu berdiri di belakangnya.
"Kemari-lah,"Kata perempuan itu.
"Katakan nama dan asal mu."Perempuan itu nampak sedang menulis sesuatu di dalam buku tebal di atas meja.
"Xiao Han, umur 15 thn. Aku berasal dari desa Hinzi."
Perempuan itu nampak fokus menulis dengan pena bulu di tangan, setelah selesai ia menutup buku lalu mengambil sebuah benda bundar seperti mutiara namun terbuat dari kaca.
Benda ini namakan bola kristal, benda ini dapat membangkitkan ecense seseorang untuk menilai seberapa bagus ecense yang di miliki.
"Letakan tanganmu di atas bola kristal."Perempuan itu berkata datar sambil menopang dagu dengan sebelah tangan di atas meja.
Xiao Han meletakan telapak tangannya di atas bola kristal, secara otomatis kedua ecense nya keluar kecuali pedang excalibur sebab di tahan oleh peri pedang dikarenakan takut nantinya Xiao Han menjadi incaran orang-orang jahat jika informasi mengenai senjata dewa bocor.
Perempuan pembuat totem merasa sedikit terkejut melihat kedua ecense ganda
Xiao Han, namun di dalam akademi
Xiao Han bukan satu-satunya orang yang di lahirkan dengan ecense ganda sehingga perempuan tersebut bersikap biasa saja.
"Sekarang urusan kita sudah selesai,
kamu sudah resmi menjadi bagian akademi scarlet."Wanita itu mengambil bola kristal dan menyimpannya ke dalam cincin penyimpan.
Xiao Han berterimakasih kepada perempuan tersebut lalu berjalan pelan menuju pintu keluar, saat akan pergi perempuan di dalam kembali memanggilnya.
"Se-selamat bergabung Xiao Han, nama ku Lie Ning."Kata perempuan bernama Lie Ning itu dengan malu-malu.
Xiao Han tersenyum."Baiklah Lie Ning, terimakasi sudah mau membantu."Xiao Han berjalan keluar sambil melambai."Sampai jumpa lain waktu."
Lie Ning hanya diam di tempatnya berdiri sambil memandang ke arah pintu,
kali ini dia tidak bisa berbohong kepada dirinya sendiri karena sepertinya dia sudah mabuk oleh ketampanan Xiao Han.
"Dasar aku,"Lie Ning mengacak-acak rambut, lalu menyenderkan kepala di atas meja resepsionis."Siapa saja tolong aku menghilangkan sifat sundere ini."
Sementara itu di teras kediaman guru besar, Liu Yan terlihat sedang mengobrol dengan beliau mengenai sesuatu.
"Guru, dua minggu lagi turnamen besar di ibu kota murong akan di selenggarakan. Apakah anda sudah memutuskan untuk ikut atau tidak ?"
Guru besar tersenyum masam dan sedikit menghela."Yan'er, kamu tau sendiri kan kita sedang kesulitan di bidang keuangan. Meski tau kita tidak memliki kesempatan untuk menang, paling tidak kita akan mendapatkan kompensasi yang lumayan besar jika mengikuti turnamen itu."
Liu Yan menunduk dan nampak sedih."Sampai kapan kita akan begini guru ? Aku takut akademi kita akan di pandang sebelah mata oleh orang karena selalu kalah di setiap turnamen."
Guru besar mengusap kepala Liu Yan untuk menghibur gadis itu meski dirinya sendiri sebenarnya bingung dengan nasib akademi yang telah di rintis turun-temurun oleh keluarganya.
"Bersabarlah Yan'er, semoga saja murid-murid cepat sadar bahwa ninja selalu bertarung bersama dan tidak terpecah belah pihak seperti sekarang ini."
"Kenapa guru tidak langsung turun tangan untuk mengajar mereka agar tidak terpecah menjadi dua belah pihak ?"
Guru besar tersebut kecil."Yan'er, aku ingin murid-murid berubah karena mengikuti kata hati bukan paksaan dengan kata-kata
"Seorang ninja di latih untuk mampu mengetahui kesalahannya sendiri dan memiliki niat untuk berubah, karena mengikuti kata hati adalah kekuatan dengan ketenangan."