Chasing Happiness

Chasing Happiness
32.Dapat melihat namun tidak dapat di rasakan



Keringat benar-benar sudah membasahi tubuh Xiao Han, baju yang selama ini ia kenakan nampak basah.


Xiao Han merasa sangat sulit untuk mengambil nafas, di perkirakan dirinya sudah berada di pertengahan jalan sementara di bagi bawah hanya terlihat kabut tipis.


Karena tidak ada perlengkapan yang memadai, sebagai imbasnya jari-jari Xiao Han lecet dan mengeluarkan darah akibat tajamnya dinding tebing.


Xiao Han tetap berusaha fokus dan memperkuat kesadarannya agar tidak tumbang, hingga akhirnya tangan-tangan Xiao Han mulai dapat merasakan bagian datar dan landai.


Xiao Han mengangkat tubuhnya ke atas. Dirinya terkagum-kagum melihat sebuah kawasan kecil di atas gunung dengan keadaan landai.


Xiao Han memperhatikan keadaan sekitar yang nampak tidak ada apapun sama sekali, kecuali sebuah goa batu besar beberapa meter di depan.


"Padahal kita sudah melewati jalan curam, tidak di sangka di atas gunung terdapat tempat landai namun kenapa tidak ada pepohonan dan tumbuhan sama sekali di tempat ini ??"


"Tempat ini berada jauh dari dataran, tidak ada tumbuhan manapun yang mampu hidup di sini. Sekarang lepaskan baju mu, kita akan segera memulai pelatihan mata iblis."


Xiao Han menuruti perkataan peri pedang excalibur, iapun membuka baju dan menyimpannya di dalam kalung penyimpan.


Peri pedang excalibur menunjuk ke arah goa yang berada beberapa meter di depan.


"Di dalam goa itu terdapat ratusan burung walet tipe angin, sebaiknya kamu berhati-hati, berusahalah untuk bertahan selama lima menit."


Xiao Han mengangguk mengerti,


lalu peri pedang excalibur terbang masuk ke dalam tanda lingkaran pada dada bagian kiri Xiao Han.


Dengan berani Xiao Han melepaskan rantai yang mengikat batu, iapun berjalan menuju goa di depan.


Sesampainya di depan mulut goa,


Xiao Han bisa mendengar kicauan burung walet di dalam.


Xiao Han mengambil kerikil lalu melemparnya ke dalam goa.


Tiba-tiba, keadaan di dalam goa menjadi sunyi serta suara hiruk di dalamnya juga menghilang.


Meski samar-samar Xiao Han tau ada yang tidak beres, iapun berjalan mundur secara perlahan.


Tiba-tiba, dari dalam goa, ratusan burung walet berwarna biru bercampur putih terbang ke arah Xiao Han dengan kecepatan nyaris seperti kilat.


Sontak Xiao Han reflek mengeluarkan ecense pertama, ratusan rantai melingkari tubuh Xiao Han untuk melindunginya dari berbagai serangan.


Namun hasilnya sangat mengejutkan, burung-burung walet itu tetap melesat cepat menembus pertahanan pertama Xiao Han.


"Ecense skill kedua ! Tombak naga langit !!"


Saat rantai yang melindunginya hancur, secepat mungkin Xiao Han mengayunkan tombaknya untuk mengelak dari ratusan serangan burung walet.


Tetapi tidak ada satupun serangan Xiao Han berhasil melukai burung walet, dengan beringas burung itu terbang dan menyayat tubuh Xiao Han dengan paruh mereka yang setajam pisau.


"Tetap tenang ! Fokus dan perhatian pergerakan burung-burung itu dengan matamu !"Perintah peri pedang excalibur langsung dari pikiran Xiao Han.


Xiao Han menyilang tangan di depan wajah untuk melindungi mata,


iapun menahan rasa sakit dan mencoba memperhatikan pergerakan ratusan burung walet yang terbang mengitarinya.


"Bagaimana cara ku memperhatikan pergerakan mereka, sementara aku saja tidak bisa melihatnya ? Mereka seakan tidak ada di mana-mana, namun rasa sakit ini begitu nyata."


"Diam ! Dengarkan aku atau kamu mati di santap burung


"Kamu harus tetap berpikir setenang air, pusatkan titik fokus pada mata dan berusahalah untuk merasakan dari mana bahaya mengancam atau dari mana serangan berasal."


Meski tidak jelas Xiao Han dapat melihat ratusan bayangan hitam terbang memutari tubuhnya. Secepat kilat Xiao Han melakukan gerakan memutar tombak, hasilnya tidak ada satupun burung yang terbunuh namun Xiao Han sudah terjatuh tidak sadarkan diri.


Namun nyatanya satu burung walet terluka di bagian sayap, hal itu membuat terkejut peri pedang excalibur yang menyadarinya.


"Huu..Kamu memang hebat, tidak ada spirit master menengah yang mampu bertahan dari serangan segerombol burung walet tipe angin lima belas menit lebih lama darimu."Kata peri pedang excalibur menaruh rasa kagum kepada Xiao Han.


Tiba-tiba hawa mencengkam memenuhi udara, hawa ini berasal dari pedang excalibur di dalam tubuh Xiao Han, efeknya membuat semua burung walet tipe angin terbang menjauhi tubuh Xiao Han yang tergeletak.


"Karena hari ini aku sedang senang, aku akan membantu menyembuhkan luka-luka mu."


Sebuah cahaya merah darah munucul dari bagian dada lalu menyelimuti tubuh


Xiao Han, perlahan namun pasti, luka yang di sebabkan oleh serangan burung ataupun sisa luka dari latihan selama ini mulai meregenerasi.


Kemampuan regenerasi peri pedang excalibur memang tidak terlalu cepat, karena hanya sedikit kekuatan yang kini di milikinya.


Hari-pun berganti malam,


Xiao Han terbangun dengan keadaan ling-lung karena semua luka yang selama ini menghiasi tubuh indahnya sudah menghilang tanpa bekas.


Xiao Han mengganti posisinya dengan duduk bersila, perasaan bingung terlihat jelas dari raut wajah Xiao Han.


"Peri pedang, mungkinkah selama ini kamu yang menyembuhkan tiap-tiap luka di tubuh ku ?"Tanya Xiao Han menduga-duga.


Xiao Han menunggu selama beberapa menit namun tidak ada jawaban dari peri pedang excalibur. Ia mencoba memanggil beberapa kali, tetapi tetap saja peri pedang tidak menjawab.


Karena hari sudah larut malam, Xiao Han bangkit berdiri lalu kembali mengenakan bajunya yang sebelum ini di simpan pada kalung penyimpan.


Sesudah setelah siap, Xiao Han berjalan pulang, dirinya melewati tebing sebelumnya dengan mudah menggunakan rantai yang di ikat pada batu besar yang berletak di pinggir tebing.


Sesampainya kembali di jalur utama gunung, Xiao Han berjalan pelan menyusuri hutan menuju pohon Qian Yu berencana beristirahat di sana.


Begitu sampai Xiao Han lebih dulu melihat ukiran nama Qian Yu di batang pohon besar tersebut. Dirinya merasa amat sangat rindu, namun jalan seperti ini mungkin sudah takdir baginya.


"Qian Yu.."Xiao Han berkata lirih dengan tatapan sendu."Aku benar-benar ingin melihat mu malam ini, kumohon, bisakah kita bertemu ?"


"Uuhh..Ada apa denganmu nak ?


Aku baru saja beristirahat sebentar setelah menyembuhkan mu,


apakah kali ini serangan burung itu membuatmu gila ??"Tanya peri pedang dengan nada seperti perempuan batu bangun tidur.


Xiao Han tersenyum kecil."Ternyata memang kamu yang selama ini sudah merawat ku. Terimakasih."


"Apakah dia sangat berharga bagimu ?


Jika benar, aku bisa membantumu sebentar."


Xiao Han tetap tersenyum kecil sambil mengusap nama Qian Yu yang terukir di batang pohon."Memangnya kamu bisa apa jika kekuatan mu saja belum terkumpul semuanya ??"


"Hahaha...Kamu ini terlalu meremehkan senjata dewa seperti ku."


Cahaya merah lagi-lagi keluar dari dada bagian kiri Xiao Han,


cahaya itu melayang ke samping Xiao Han, kumpulan cahaya itu lalu membentuk tubuh seorang perempuan setinggi dada Xiao Han.


Begitu cahaya itu sudah terbentuk dengan sempurna, mata Xiao Han langsung melebar melihatnya.


"Qian Yu..!