
*4njing sepi banget ni novel, emang ceritanya jelek amat apa ?
Berbeda dengan sebelumnya, hewan spirit itu langsung kembali menyerang ke depan dengan tubuhnya yang berapi-api.
Xiao Han yang kesal langsung menghunuskan Tombaknya ketika burung bertubuh manusia itu berjarak beberapa jengkal dengannya.
*Jleebb
Segumpal darah keluar dari mulut
Xiao Han ketika pedang dari hewan spirit tersebut menembus perutnya.
Sementara tombak Xiao Han terlihat menembus perut hewan tersebut, namun tiba-tiba tombak Xiao Han meleleh dan luka di perut burung bertubuh manusia tersebut menghilang.
"Uhuk, kau.."Xiao Han nampak tidak percaya dengan apa yang terjadi, sedangkan peri pedang terlihat syok melihat luka Xiao Han sudah sangat parah.
Burung itu mencabut pedang yang menancap di perut Xiao Han
dengan kasar, hingga segumpal darah kembali keluar dari mulut Xiao Han yang berlutut lemas.
Burung bertubuh manusia itu mengangkat pedang hendak akan memenggal kepala Xiao Han,
namun sebelum dia melakukan itu tiba-tiba kedua kaki dan tangannya di ikat oleh rantai.
"Hahahaha ! Yang mempunyai kemampuan regenerasi bukan hanya kamu."Xiao Han berdiri seperti biasa dengan luka besar sebelumnya tiba-tiba sudah menghilang.
Xiao Han Kembali memunculkan sebilah tombak berniat mengakhiri pertarungan, tetapi burung itu melepaskan rantai yang membelenggu tubuhnya dengan api hingga meleleh.
Sadar dirinya bukan lawan Xiao Han, burung itu terbang dengan cepat ketika rantai yang mengikat tubuhnya sudah meleleh.
Xiao Han yang melihat itu tidak tinggal diam dan segera mengeluarkan banyak rantai untuk menahan hewan spirit itu, namun semua rantainya mampu di hindari dengan baik oleh burung bertubuh manusia tersebut.
Tidak mau hewan buruannya lepas tanpa perlawanan, Xiao Han terbang menggunakan tombak sebagai pelentara tempat berkumpulnya tenaga dalam.
Terjadi kejar-kejaran di atas langit antara Xiao Han dan seekor burung bertubuh manusia. Xiao Han terlihat ketinggalan dengan jarak beberapa meter di belakang hewan spirit tersebut.
Peri pedang yang kesal karena dari tadi tidak juga mendapat lingkaran roh buruannya menyuruh Xiao Han untuk bergerak lebih cepat.
"Memangnya kamu kira aku sedang apa ? Diam dan duduk dengan tenang."Ujar Xiao Han kesal, lalu berusaha untuk mengejar ketertinggalannya.
Jarak Xiao Han dan hewan spirit di depan semakin kecil. Sadar lambat-laun akan terkejar oleh Xiao Han, hewan spirit itu terbang lebih tinggi hingga keduanya terlihat berada di atas awan.
Karena manusia biasa normalnya
Xiao Han akan merasakan sesak nafas karena udara di atas langit lebih sedikit, serta tubuhnya serasa di tekan oleh sesuatu yang tidak terlihat.
"Bertahanlah nak, tubuh mu berat karena gaya gravitasi. Kamu hanya perlu fokus ke depan dan tujuan mu."
Xiao Han mengagguk lalu terbang semakin cepat hingga mengalahkan gaya gravitasi. Karena terlalu fokus dengan hewan spirit di depan, Xiao Han tidak sadar jika dirinya sudah berada jauh dari akademi bahkan hutan sebelumnya.
Sementara itu...
Di tempat yang berbeda di sebuah reruntuhan kuno yang mengambang di atas langit, seorang perempuan cantik terlihat sedang bertarung dengan seorang pria yang menggunakan jubah tempur seperti kesatria.
Perempuan tersebut nampak sudah terluka di mana-mana, karena sadar tidak bisa bertahan dia mengeluarkan sebuah energi lingkaran yang menembakkan sebuah laser sepanas matahari.
Cahaya laser itu melesat dan menabrak tubuh pria di depan, namun ternyata setelah sebuah ledakan besar terjadi, pria itu masih hidup meski jubah tempurnya sudah hancur dan terluka parah.
Perempuan tersebut terduduk lemas karena tidak lagi mempunyai tenaga yang tersisa untuk bertarung.
Melihat hal tersebut pria yang masih menggunakan helm tempur itu berjalan dengan tergopoh-gopoh hendak akan menghampiri perempuan tersebut untuk di bunuh.
Perempuan itu hanya bisa pasrah melihat lawannya mulai mendekat, hingga dari langit sebuah siluet emas tiba-tiba datang ke arah mereka dan menabrak tubuh pria yang hendak membunuhnya.
*Braaaaak
Siluet itu adalah Xiao Han, dia terpental dan menghantam sebuah bangunan setelah dirinya menabrak sesuatu.
Setelah di tabrakan sekalipun, pria berbadan besar itu mampu kembali bangkit namun sebuah siluet biru datang dan menghantam tubuhnya.
Siluet biru ternyata adalah burung bertubuh manusia sebelumnya, dia dan Xiao Han jatuh karena tubuh keduanya terikat oleh rantai yang sama.
tubuhnya malah terpental dan dadanya tertancap oleh sebuah besi setelah menabrak sesuatu.
Sesuatu yang di maksud adalah pria sebelumnya, dia mati setelah dua kali apes di hantam oleh benda keras berkecepatan tinggi, hal itu sama saja seperti sebuah meteorit.
Perempuan sebelumnya nampak ling-lung, dia menoleh ke arah Xiao Han yang sepertinya pingsan karena sudah mencapai batasan tubuhnya sebagai manusia biasa.
Karena masih memiliki hati sekaligus berterimakasih karena adanya Xiao Han dia dapat bertahan hidup. Perempuan tersebut berjalan pincang menghampiri Xiao Han sambil memegangi bahunya yang cidera.
Saat berjarak beberapa meter dari
Xiao Han, perempuan tersebut di hadang oleh peri pedang.
"Aku akan membunuhmu jika berani macam-macam dengan anak itu."
Peri pedang merentangkan kedua tangan.
"Apa maksudmu ? Aku malah ingin membantunya."Perempuan itu menatap heran peri pedang.
"Kamu bisa melihat ku ?"Rasa terkejut jelas terukir di wajah peri pedang,
karena sejauh ini hanya Xiao Han yang mampu melihat hujudnya.
Perempuan sebelumnya mengagguk."Ya, apakah ada yang aneh ??"
Karena bingung peri pedang menyentuh dahi sambil menggeleng."Jika kamu memang ingin membantu, tolong seret tubuh pemuda itu ke mayat manusia burung di sana."Peri pedang menunjuk ke arah mayat burung yang mati tidak jauh dari tempatnya sekarang.
Perempuan muda tersebut mengagguk dan menyanggupi permintaan peri pedang, iapun berjalan menghampiri Xiao Han yang terbaring lemas di lantai.
Rasa terkejut serta kagum terukir di wajah gadis tersebut ketika melihat wajah
Xiao Han yang tidak bisa di gambaran dengan kata-kata.
"Sudahlah, kamu akan puas melihat-lihat nanti jika dia masih hidup."Ujar peri pedang menyadarkan gadis tersebut.
Sontak gadis itu kembali sadar lalu dengan hati-hati memapah Xiao Han agar bisa berdiri, pelan-pelan gadis itu membawa Xiao Han menuju mayat manusia burung di depan.
Ketika sampai peri pedang segara menghisap cincin roh berusia 1.000 berwana ungu tua yang melayang di atas kepala mayat manusia burung tersebut.
Setelah selesai tubuh Xiao Han tiba-tiba bereaksi dengan mengeluarkan cahaya kemerahan menandakan transformasi tulang punggung manusia burung sedang terjadi secara alami.
Begitu transformasi selesai di punggung Xiao Han muncul satu buah sayap berwana hitam, entah apa yang membuat warna sayap itu berubah namun membuatnya nampak keren.
Karena burung itu sebelumnya mempunyai kemampuan regenerasi, otomatis kemampuan regenerasi
Xiao Han semakin kuat dan dengan cepat semua luka di tubuhnya menghilang mengejutkan gadis sebelumnya yang melihat kejadian itu.
Tiba-tiba tubuh wanita sebelumnya perlahan menjadi butiran cahaya indah, peri pedang yang melihat hal itu sontak kaget karena diam-diam dia juga sudah membagikan sedikit tenaga agar gadis itu bisa bertahan.
"Hei, ada apa dengan tubuh mu ?"Tanya peri pedang.
Perempuan itu tersenyum."Nama ku
Ling Qian, aku berasal dari dunia kultivator. Tubuh ku tidak bisa bertahan lama di dunia ini dan cepat atau lambat secara otomatis aku akan mati."
Peri pedang merasa sangat terkejut,
dia menoleh ke arah mayat pria sebelumnya ternyata tubuh orang itu juga sudah terpecah menjadi cahaya.
"Kau... Bersabarlah aku akan menolong mu."Peri pedang merasa tidak tega harus membiarkan orang yang membantu
Xiao Han mati, iapun kembali menjadi sebuah pedang excalibur lalu menebas udara kosong.
Hasil dari tebasan itu menciptakan sebuah retakan antar dimensi dunia spirit master dan dunia kultivator.
"Cepatlah masuk, aku tidak bisa bertahan lama dengan kekuatan ku sekarang."
Ujar peri pedang dengan nada seakan sedang menahan sakit.
Perempuan itu menoleh ke arah Xiao Han, iapun mengucapkan selama tinggal dan berjanji akan mengingat jasa Xiao Han sampai kapanpun.
Lalu iapun berjalan memasuki retakan dimensi, perlahan retakan itu tertutup ketika peri pedang sudah kehabisan tenaga dan akhirnya pingsan.