Chasing Happiness

Chasing Happiness
44.Alat transportasi dewa



Beberapa saat kemudian Liu Yan terbangun, iapun menggeliat hingga dadanya sedikit terlihat namun Xiao Han nampaknya tidak tertarik meski Liu Yan melakukannya dengan sengaja.


"Jangan bermain-main, aku tidak mau membuang waktu."


Xiao Han beranjak dari kasur dan segera mengenakan bajunya kembali, lalu pergi meninggalkan Liu Yan yang nampak masih ling-lung.


"Aku bingung, sebenarnya yang memimpin siapa."Kata Liu Yan sambil sesekali menguap.


Xiao Han terlihat berjalan menuju ke sebuah pintu yang masih berada di dalam kamar penginapan, saat pintu di buka, Xiao Han menemukan sebuah bak aneh yang berisi air panas.


"Benda aneh apa ini ? Apakah di sekitar tempat ini tidak ada sungai untuk mandi."


Xiao Han menoleh ke kanan dan kiri, karena bingung iapun memutuskan untuk pergi menemui pemilik penginapan.


Pemilik penginapan terlihat sedang berbincang dengan perempuan resepsionis, tanpa ekspresi


Xiao Han berjalan menghampiri pemilik penginapan yang tidak sadar dengan kehadirannya.


"Tuan, apakah ada sungai untuk mandi di sekitar sini "Tanya Xiao Han.


"Sungai ?"Pemilik penginapan terlihat bingung,"Bukankah kamar penginapan anda sudah di sediakan kamar mandi ?


Xiao Han menggaruk kepala."Kamar mandi ? Bukan aku tidak butuh itu, aku menanyakan di mana sungai terdekat karena aku ingin mandi."


Pria buncit tersebut semakin bingung."Iya, maksud ku. Jika anda ingin mandi, anda tinggal menggunakan kamar mandi."


"Aku sudah tidur di kamar malam ini, sekarang aku ingin mandi."


Xiao Han berkata dengan nada sedikit tinggi, membuat pria buncit itu semakin kebingungan karenanya.


Wanita resepsionis memperhatikan wajah Xiao Han."Tuan muda, dari mana anda berasal ?"


"Aku datang dari desa terpencil tidak jauh dari kota Han,"Xiao Han berkata ramah.


Wanita cantik resepsionis itu mengagguk mengerti."Jika anda ingin mandi,


anda hanya tinggal mencari kamar yang memiliki bak dengan air panas di dalamnya."


Seketika Xiao Han mengerti, iapun berterimakasih kepada wanita resepsionis lalu berjalan kembali ke kamar penginapannya.


"Bagaimana caramu melakukannya ?"Tanya pemilik penginapan kepada wanita resepsionis.


"Mudah saja, aku sudah bertahun-tahun berada di belakang meja resepsionis, sehingga tidak jarang menemukan orang-orang yang masih tidak tau dengan kamar mandi."


Pria buncit berkarisma itu mengagguk paham, iapun memerintahkan kepada beberapa pelayannya untuk mengantar makanan ke kamar Xiao Han.


Sementara itu Xiao Han sampai di kamarnya, ia segera berjalan menuju tempat tadi dia menemukan bak aneh, namun pintu kamar itu sudah tertutup padahal tadi sudah di buka.


Tanpa basa-basi Xiao Han membuka pintu itu dan menemukan Liu Yan sedang mandi, untungnya gadis itu sedang berendam busa sehingga hanya sedikit bagian tubuhnya yang bisa di lihat.


"Kita baru beberapa hari kenal, namun kamu sudah ingin melecehkan ku ?


Paling tidak kamu harus mengatakannya lebih dulu."Kata Liu Yan santai dengan mata terpejam.


Xiao Han memandang datar Liu Yan,


"Huhh aku tidak tertarik degan mu. Cepatlah, aku juga ingin mandi."


"Jika kamu tidak pergi, bagaimana cara ku untuk cepat selesai."Kata Liu Yan dengan perasaan mulai kesal.


Xiao Han hanya diam lalu berjalan keluar dan menutup pintu kamar mandi.


"Peri pedang, apa yang harus ku lakukan ? Aku merasa bosan."Kata Xiao Han.


"Tidak jauh dari penginapan ini aku merasakan dua energi ecense yang saling bertubrukan, ku rasa ada pertarungan di sekitar sini."Jelas peri pedang.


Sesampainya di sebuah gang sempit dekat dengan penginapan sebelumnya, dari kejauhan Xiao Han melihat seorang anak laki-laki di hampiri oleh beberapa pria dewasa.


Terdapat cekcok di antara mereka,


hingga akhirnya seorang pria mengayunkan ecense spiritnya berupa pedang, dengan sigap Xiao Han muncul di belakang bocah kecil tersebut lalu menahan serangan yang datang dengan tangan kosong ketika pedang itu hendak mengenai wajah sang bocah.


"Apa ?!"Pria itu terkejut melihat kedatangan Xiao Han yang tiba-tiba, apalagi serangannya berhasil di hentikan dengan tangan kosong.


Xiao Han membalut tangan kanannya dengan api, lalu tanpa belas-kasihan memukul wajah pria pertama dengan kekuatan penuh hingga membuatnya terpental jauh.


Tiga orang pria yang tersisa terkejut melihat pemimpin mereka tau-tau sudah terpental, mereka dengan kompak menyerang Xiao Han dengan ecense spirit masing-masing.


Xiao Han mengeluarkan katana dari kalung penyimpan, lalu dengan mudah mampu menyambut semua serangan yang datang bahkan sambil melindungin sang bocah yang nampak berdiri di belakangnya.


"Tebasan sembilan penjuru !


Xiao Han melakukan gerakan katana seperti sedang menari, semakin lama gerakannya semakin cepat hingga membuat ketiga pria itu kesulitan bertahan meski sudah melakukannya bersama-sama.


"Tu-tunggu, berhenti !"Seorang pria berteriak ketakutan melihat Xiao Han tidak segan-segan membunuh.


"Sudah cukup ! Kami menyerah !!"


Satu lagi pria berkata seperti seorang pecundang yang berjalan mundur sambil ngompol.


Xiao Han tidak berhenti dan tetap bergerak maju sampai teknik tebasan sembilan penjuru habis.


Xiao Han menatap ketiga lawannya masih bisa selamat meski nyaris mati jika


saja teknik tebasan sembilan penjuru tidak habis.


Pria pertama yang baru sadar pasca di tendang sampai mental segera berlutut menghadap Xiao Han."Ampuni kami..Kami tidak bersalah, bocah tadi itu sudah merampok kami."


Wajah Xiao Han menegang."Jadi..Aku."


Sambil menangis pria itu berkata,


"Benar tuan, aku benci mengatakannya, meski kami memang berpenampilan seperti perampok tapi yang sebenarnya menjadi korban adalah kami."


Xiao Han menoleh kebelakang namun bocah sebelumnya sudah tidak ada,


lalu dia kembali menatap kelompok pria di hadapannya.


"Di-dia sudah pergi,"Xiao Han menggaruk kepala,"Apakah aku harus menggantinya ?"


"Tidak usah tuan, masih bisa hidup saja kami sudah sangat senang."


Keempat pria itupun berlari ketakutan setelah di hajar sampai babak-belur, semen Xiao Han hanya terpelongo karena sudah salah sangka.


"Sudahlah nak, jadikan kesalahan hari ini menjadi sebuah pelajaran.


Pelajaran yang kamu dapat adalah untuk mengetahui siapa yang salah lebih dulu."Kata peri pedang.


Dengan membawa perasaan tidak enak hati Xiao Han berjalan pulang, dia sudah lebih dulu menyimpan katana kembali ke kalung penyimpan.


Sesampainya di kamar penginapan Xiao Han di sabut oleh Liu Yan, gadis itu nampak sudah menunggu di ruang tengah sambil duduk menghadap meja yang sudah penuh dengan makanan.


"Apa yang kau tunggu ? Sore ini kita harus langsung sampai di akademi, karena aku memiliki sedikit urusan."


Xiao Han mengagguk,"Aku akan mandi lebih dulu,"Xiao Han berjalan menuju kamar mandi."Lagian apakah kita bisa sampai sore ini ?


Liu Yan mengagguk,"Tentu saja, guru besar sudah mengirim alat transportasi dewa yang bisa mengantar kita langsung menuju akademi scarlet."