Chasing Happiness

Chasing Happiness
54.Hutan akademi



Beberapa hari kemudian berlalu, Xiao Han mulai terbuka dengan teman-temannya yang kini sudah semakin banyak, berbeda dengan dirinya dulu yang selalu sendiri tanpa ada yang menemani.


Untuk beberapa hari terakhir Xiao Han masih belum berlatih karena Kim Ryu tidak kunjung datang ke kediamannya, Xiao Han sudah pernah mencoba bertanya kepada Lie Ning selaku member yang mengatur misi untuk ninja di akademi.


Ternyata beberapa hari yang lalu Kim Ryu pergi menjalankan misi dan di prediksi akan kembali satu minggu lagi, selama itu pula Xiao Han memliki banyak waktu luang untuk melakukan sesuatu yang lain.


Siang ini Xiao Han terlihat sedang pus up di depan halaman rumahnya, hari ini dia berencana untuk melakukan sesuatu yang bisa memperbaiki hubungan ninja laki-laki dan perempuan.


Setelah di rasa cukup Xiao Han berjalan pergi meninggalkan rumah. Sesampainya di perbatasan Xiao Han belok ke kanan dan terus berjalan sampai menemukan paviliun totem.


Xiao Han masuk ke dalam paviliun sederhana tersebut dan langsung di sambut oleh Lie Ning yang masih berdiri di belakang meja resepsionis.


"Selamat datang Xiao Han, akhir-akhir ini kamu sering menemui ku. Apa kamu membutuhkan sesuatu ?"Lie Ning terlihat sedang menulis sesuatu di bukunya.


Xiao Han berdiri di hadapan Lie Ning.


"Teman ku bilang sebelum pergi ke hutan aku harus menemui mu, apakah benar ?"


Lie Ning menutup buku lalu menatap Xiao Han."Ya, karena kali ini adalah kali pertama mu pergi ke hutan, ada beberapa hal yang harus kamu ketahui."


"Hu ? Memangnya apa saja ?"


"Tidak banyak, kamu boleh berburu di hutan yang sudah ku tandai dengan kain hijau. Kain hijau artinya kawasan aman, selain itu jika kamu lebih dalam memasuki hutan maka akan menemukan kain merah, artinya itu adalah kawasan berbahaya karena banyak hewan spirit tingkat tinggi."


Xiao Han sedikit mengagguk."aku mengerti, lalu di mana jalan untuk pergi ke hutan ?"


Lie Ning menunjuk ke luar."Dari sini kamu belok kanan, jalan saja terus dan kamu akan segera menemukan hutan."


Karena sudah tau harus berbuat apa


Xiao Han berterimakasih kepada Lie Ning lalu berjalan keluar paviliun.


Seperti yang di katakan Lie Ning,


Xiao Han langsung ambil jalur kanan setelah berada di luar paviliun.


Semakin jauh Xiao Han berjalan, pepohonan nampak semakin lebat hingga akhirnya jalan setapak yang dari awal di lalui terputus dan di gantikan dengan jalan tanah yang sedikit semak.


Suara burung terdengar di mana-mana, serta terdapat banyak tumbuhan yang mampu mengeluarkan cahaya terang meski di siang hari sekalipun.


Jalan hutan terasa sedikit gelap karena rimbunnya pepohonan yang menjulang tinggi, Xiao Han dengan lincah melompat dari dahan ke dahan hingga dia berada di puncak sebuah pohon.


Dari ketinggiannya sekarang Xiao Han melihat ke segala arah dan dapat melihat hutan akademi yang sangat luas.


"Peri pedang, menurutmu apakah ada banyak hewan spirit di sini ?"


Peri pedang terbang keluar dari dada sebelah kiri Xiao Han dan duduk di pundaknya."Entahlah nak, aku tidak merasakan adanya kehadiran hewan spirit di sini."


Xiao Han mengelus dagu."Sebaiknya kita cari dulu, siapa tau ada banyak hewan biasa di hutan ini."


"Memangnya untuk apa kamu berburu ?"Tanya peri pedang karena tidak mengerti dengan rencana Xiao Han yang tiba-tiba saja ingin berburu.


Kedua alis peri pedang terangkat dan nampak marah."Aku benci dengan rencana mu nak, jangan bersikap terlalu baik dengan orang lain. Bukankah kamu sudah pernah begini ? Lalu apa hasilnya, kamu pulang dengan tubuh babak-belur."


Xiao Han tersenyum."Kali ini berbeda, mereka bukan penduduk desa melainkan teman ku."


Peri pedang mendengus kasar."Seterah kamu saja. Untuk seterusnya aku tidak mau melihat mu terlalu baik dengan orang lain."


"Ya, tentu saja."Setelah berkata demikian Xiao Han melesat dari pohon ke pohon hingga di bawah dia melihat kain biru yang melingkar di batang pohon.


Xiao Han bergerak turun mendekati pohon yang di maksud, ketika sudah berada di bawah ternyata memang benar pohon itu di lilit oleh kain berwarna biru.


"Sepertinya kita sudah memasuki kawasan aman, aku akan mulai dari sana."Xiao Han berjalan memasuki hutan di depan,


dia berjalan ke sembarang arah karena tidak ada bekas jalan yang di lalui.


Ketika sedang berjalan Xiao Han bingung karena suara hiruk burung sebelumnya tiba-tiba menghilang, serta keadaan di hutan kawasan aman begitu sunyi nyaris tidak ada satupun hewan yang lewat ataupun terlihat.


Xiao Han berjalan di antara akar karena pohon yang begitu besar membuatnya terlihat seperti kurcaci. Rasa heran jelas terukir di wajah, karena setelah berjalan cukup lama Xiao Han sama sekali tidak melihat hewan bahkan mahluk hidup selain dirinya.


"Aneh sekali, hutan ini terasa begitu sunyi. Bagaimana menurutmu ?"Xiao Han menoleh ke kanan dan kiri.


Peri pedang melipat kedua tangan di depan dada."Jika kamu memang berniat berburu maka tidak ada pilihan lain bagimu kecuali masuk ke kawasan merah."


Meski berbahaya kawasan ini pastinya sangat kaya dengan hewan dan tumbuhan, sebab hanya sedikit orang yang berani ke sana, sehingga hutan itu masih terjaga dari tangan manusia.


Xiao Han pikir perkataan peri pedang memang benar, dia juga mengira kawasan biru kosong karena hewan di kawasan ini selalu di buru oleh orang-orang.


Sehingga memaksa Xiao Han untuk pergi ke kawasan merah, meski berbahaya


Xiao Han lebih merasa tergiur dengan apa yang nanti dia dapat ketimbang takut dengan hewan spirit tingkat tinggi.


Karena sudah di putuskan untuk pergi ke sana, Xiao Han kembali melesat dari pohon ke pohon menuju ke kawasan merah yang sepertinya berada di bagian terdalam hutan.


Beberapa saat kemudian sampailah


Xiao Han di depan sebuah pohon raksasa yang bagian dahanya di lingkari oleh kain merah. Pohon itu sangat besar sampai ukuran Xiao Han tidak lebih besar dari seekor semut.


Rasa kagum jelas terukir di wajah Xiao Han ketika dia melihat ukuran pohon di hadapannya, iapun berjalan pelan untuk lebih dekat dengan pohon yang di maksud.


"Menurutmu berapa umur pohon ini ?"Xiao Han nampak terkagum-kagum sambil menyentuh akar pohon dengan telapak tangan.


Peri pedang nampak bisa saja karena sudah pernah melihat yang lebih besar."Pohon ini setidaknya sudah hidup jutaan tahun, kayu yang di hasilkan oleh pohon ini berkualitas sangat tinggi namun membutuhkan alat khusus untuk memotongnya. Lagian, pohon ini tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan keagungan pohon hitdrazil, sangking besarnya pohon itu bangsa elf sampai membuat istana di atasnya."


"Kamu pernah ke sana ? Memangnya di mana tempat pohon yang kau katakan tadi ??"


"Tentu saja aku pernah ke sana,


jika tidak berarti aku sudah membohongi mu. Untuk melihat pohon hitdrasil kamu harus menyebrang ke alam roh lebih dulu."