
Pagi hari kemudian Xiao Han terbangun setelah saat pajar menjelang ia terbangun karena Hao Chen ingin pergi untuk melakukan sesuatu yang tidak di katakan nya kepada Xiao Han.
Karena pagi ini adalah hari pertama Xiao Han, Xiao Han pikir ia harus pergi ke paviliun totem untuk mendata diri setelah kemarin sempat tertunda.
Untuk berusap Xiao Han menggunakan embun pagi yang terdapat di dedaunan pohon, entahlah, Xiao Han merasa sangat nyaman karena merasa air embun pagi lebih menyegarkan dari air apapun.
Setelah dari rumah Xiao Han berjalan pergi menuju perbatasan antara kediaman laki-laki dan perempuan. Dalam perjalan Xiao Han tidak jarang bertemu dengan teman, mereka terlihat sedang berlatih dengan guru masing-masing sehingga tidak punya waktu untuk bermain.
Xiao Han juga memaklumi hal tersebut karena memang mengerti bahwa mereka juga memiliki kehidupan lain, dan Xiao Han mengerti dirinya tidak bisa terus-terusan menyulitkan orang lain.
Wajahnya yang tampan dan sifatnya yang mudah bergaul membuat Xiao Han di sukai oleh teman-teman sebayanya.
Meski tidak saling kenal, mereka sudah berbaik hati menunjukkan simpati kepada Xiao Han dan mau berteman dengannya.
Tetapi mungkin tidak sekarang karena banyak pelatihan yang harus di lakukan ninja lain dengan guru masing-masing. Sebab satu ninja di latih oleh satu guru, tidak bisa lebih kecuali guru mengajar lebih dari satu murid.
Setelah berjalan beberapa saat Xiao Han sampai di jembatan pembatas,
begitu di depan terdapat perempatan jalan, Xiao Han berbelok ke kanan seperti yang di ingat nya.
"Kemana gadis kemarin yang menyamar menjadi laki-laki ?"Gumam Xiao Han heran ketika tidak melihat gadis yang biasa duduk di bawah pohon dekat dengan perempatan jalan.
Xiao Han tetap berjalan lurus hingga dia menemukan sebuah gerbang tori berukuran besar serta puluhan gerbang tori berukuran lebih kecil berjejer di belakang gerbang pertama.
Di depan sana terlihat seperti tidak ada rumah lagi, semuanya seperti hutan pinus di kanan dan kiri jalan.
"Apakah aku salah jalan ? Tidak mungkin kan untuk menuju paviliun totem harus melewati hutan dulu."Gumam Xiao Han di dalam hati.
Sempat mengira sudah mengambil jalan yang salah, Xiao Han akhirnya tetap melewati jalan di depan karena seingatnya jalan sebelumnya tidak ada kelokan.
Saat berjalan, Xiao Han merasa hawa sangat adem karena hutan Pinus yang terawat menyuguhkan pemandangan hijau serta banyak suara burung di sekelilingnya.
Xiao Han terus berjalan sambil menikmati keadaan yang asri, hingga akhirnya dia berhenti ketika di depan sana gerbang tori sudah habis dan terlihat sebuah rumah kecil dengan asap putih membumbung di atasnya.
"Munginkah.."Xiao Han segera melangkah kembali menuju rumah di depan, namun tiba-tiba ratusan jarum tajam sepanjang jari melesat ke arah Xiao Han.
*Tang, Tang !
Dengan sigap Xiao Han mengeluarkan katana dan menangkis semua jarum yang datang, hingga semua jarum tersebut berserakan di bawah kaki Xiao Han.
Entah dari mana datangnya jarum-jarum tersebut yang pasti sangat berbahaya, untungnya Xiao Han sudah terlatih sehingga serangan kejutan seperti tadi bukanlah sesuatu yang sulit untuk di hindari olehnya.
Namun bukan itu masalahnya, Xiao Han pikir untuk apa serangan tersebut datang jika bukan karena tujuan tertentu.
Mudahnya serangan yang tadi datang adalah ujian, lagian Xiao Han tau serangan tadi bukanlah yang terakhir, masih terdapat beberapa jebakan yang belum Xiao Han ketahui.
Dengan langkah waspada Xiao Han kembali melangkah, tangan kanannya menggenggam kuat ganggang katana dan siap mengayunkan katana jika di perlukan.
*Whosss !
Dari balik pohon Pinus kiri dan kanan muncul dua buah palu besi berduri berukuran besar, palu itu di ikat dengan sesuatu sehingga keduanya melayang ke arah Xiao Han.
Setelah ujian kedua berhasil di lalui, jarak Xiao Han dan rumah di depan hanya terpaut sepuluh meter.
Xiao Han kembali berjalan pelan,
kali ini tidak ada jebakan lagi sampai akhirnya Xiao Han sampai dan berdiri tepat di depan rumah yang di tuju.
Saat akan mengetuk tangan Xiao Han terhenti ketika sejengkal lagi menyentuh pintu rumah itu. Otot-otot kaki
Xiao Han refleks melompat kebelakang ketika mendengar suara dentingan dari dalam rumah.
*Braaaaak
Pintu rumah itu tiba-tiba terhempas dan terbuka, dari dalamnya keluar sebuah robot banteng berukuran besar.
Xiao Han segera waspada karena sepertinya banteng di depan adalah ujian terkahir, pastinya ujian terakhir adalah ujian yang paling sulit.
Tanpa ragu ataupun menunggu banteng itu menyerang lebih dulu, Xiao Han sudah lebih dulu melesat cepat ke depan dan melakukan tebasan bertubi-tubi ke tubuh robot banteng tersebut.
Sontak banteng itu menyeruduk Xiao Han namun kedua tanduknya terpotong akibat ganasnya Xiao Han dalam bermain pedang katana.
Tidak berhenti di sana banteng itu kembali ingin menyerang dengan dua kaki bagian depan, namun lagi-lagi dengan lincah Xiao Han memotong kedua kaki besi banteng itu seakan pedangnya sedang mengiris tahu.
Lalu serangan di akhiri Xiao Han dengan memotong kepala robot banteng hingga membuatnya terpenggal dan terpental jauh dari tubuhnya.
Karena merasa sudah berhasil dan ujian sudah selesai, Xiao Han menyimpan kembali pedang katana ke dalam kalung penyimpan.
Rumah di depan tiba-tiba ambruk dan di baliknya terdapat rumah lain yang lebih bagus. Xiao Han segera berjalan menuju rumah tersebut.
Sesampainya di sana Xiao Han segera mengetuk pintu, tiba-tiba pintu terbuka sendiri hingga membuat Xiao Han terkejut dan hendak mengeluarkan katana lagi.
Namun aksinya terhenti ketika melihat di dalam rumah terdapat seorang perempuan tengah duduk menghadap tungku dengan api menyala.
"Selamat datang di paviliun totem, itu artinya kamu sudah berhasil melewati beberapa ujian sebelumnya. Lekas masuk dan lepaskan pakaian mu, dan biarkan aku mengetahui makhluk apa yang ingin kau buat jadi tato kirin."Perempuan tersebut berkata dengan nada datar, serta tetap di posisinya menghadap tungku.
Xiao Han merasa ada yang aneh,
entah dia merasa ujian tadi terlalu easy atau ujiannya memang sudah tuntas begitu saja.
Meski merasa sedikit janggal Xiao Han tetap melangkah masuk ke dalam rumah tersebut. Saat akan melangkah lebih masuk, tiba-tiba wanita sebelumnya berbalik dan melempar sebuah jarum perak kecil seperti sehelai benang.
Kepala Xiao Han tersentak kebelakang dan membuatnya terjatuh seakan jarum tadi mengenai kepalanya.
Saat wanita itu menganggap Xiao Han telah gagal, dia malah termenung melihat Xiao Han kembali bangkit dan terlihat menahan jarum tadi dengan cara menggigitnya.
Xiao Han mengambil jarum yang di gigitnya lalu berjalan menghampiri wanita di depan, dengan polos ia mengembalikan jarum itu kepada sang wanita.
Xiao Han menarik tangan gadis itu dan meletakan jarum di atas telapak tangannya."Simpan benda ini baik-baik, kau pasti membutuhkannya untuk menjahit."