Chasing Happiness

Chasing Happiness
39.Perubahan ecense spirit



Setelah Xiao Han dan Liu Yan tiba di gubuk. Xiao Han segera berjalan masuk lalu menghidupkan tungku api untuk menyiapkan makan malam.


Sementara itu Liu Yan terlihat sudah menghilang entah kemana,


nampaknya dia begitu menyukai mainan barunya berupa kelinci.


Waktu seakan bergerak lebih cepat, malam juga semakin larut,


serta masakan yang Xiao Han buat untuk Liu Yan juga sudah dingin namun Liu Yan tidak juga Kembali.


Saat itu Xiao Han terlihat berbaring santai di atas tembikar setelah menghabiskan makan malamnya.


Xiao Han tidak memikirkan apa yang terjadi dengan Liu Yan, memikirkan tujuan kedepan sudah cukup membuat pemuda itu sibuk, lagian Liu Yan memiliki kemampuan berada di atas Xiao Han.


Sehingga tidak ada hewan spirit yang mampu menyulitkan Liu Yan.


Xiao Han nampak gusar, dirinya selalu memikirkan permintaan Qian Yu dan juga akademi scarlet.


Sejujurnya Xiao Han tidak tau akademi scarlet adalah akademi jenis apa,


namun ia terpaksa harus ikut dan bergabung karena dengan begitu ia bisa menjadi kuat, belum lagi akan ada banyak pengalaman yang menanti.


Ketika sedang asik berpikir Xiao Han di kejutkan dengan keadaan Liu Yan yang tiba-tiba, perempuan itu berdiri di ambang pintu dengan perasaan panik terukir di wajahnya.


Pandangan Xiao Han tertuju pada kelinci di gendongan Liu Yan, seketika Xiao Han langsung mengerti dan tersenyum serta mendengus kecil.


"Huu..? Ada apa.. Bagaimana apakah kamu menikmati mainan barumu ??"Tanya Xiao Han dengan acuh.


Liu Yan sudah terlanjur merasa panik


sehingga tidak punya waktu untuk marah melihat sikap Xiao Han yang terlihat seperti mengejeknya.


"Kumohon kali ini bantu aku,


sepertinya kelinci ini sedang sakit perut setelah ku beri makan, dia muntah dan tertidur sampai sekarang."


Meski agak malas akhirnya Xiao Han berdiri dan berjalan menghampiri Liu Yan, Xiao Han mengambil kelinci yang terlihat sudah kaku itu dari gendongan Liu Yan.


Xiao Han memperhatikan kelinci itu sebentar lalu menatap Liu Yan."Kamu memberi nya makan apa ?


"Aku memberi nya rumput ini.."


Liu Yan memperlihatkan beberapa helai rumput hijau segar di telapak tangannya kepada Xiao Han.


Xiao Han hanya diam saja karena rumput itu beracun, dia lebih memilih diam untuk menjaga perasaan Liu Yan.


"Kelinci ini sudah mati, bahkan tidak sampai lima jam sejak kamu mengambil kelinci ini dari ku."


Liu Yan sontak kaget dan merasa bersalah."Ma-maafkan aku, aku tidak sengaja membunuhnya."


"Jangan salahkan dirimu, kehidupan tidak jauh dari kematian, dan kamu adalah malaikat pencabut nyawanya."


"Maaf itu pujian atau hinaan ?"


Kata Liu Yan tetap dengan ekspresi bersalahnya.


"Tafsirkan saja sendiri."Xiao Han berjalan pergi menuju tungku, lalu meletakan kelinci yang baru mati itu di sampingnya.


"Ngomong-ngomong besok aku sudah tidak ada kerjaan di sini, jadi kamu boleh mengambil janji ku untuk pergi ke akademi scarlet."


Xiao Han berdiri di hadapan Liu Yan dan menatapnya."Tidak, aku hanya menepati janji ku kepada mu. Lagian tidak ada gunanya terus berada di sini, aku ingin melihat dunia luar."


Liu Yan memasang raut kesal."Haha.. iya dasar b4angsat seterah kamu saja mau bilang apa, kamu harus tetap ikut bersama ku."


"Tenang saja, aku akan melakukannya meski terpaksa."Xiao Han berjalan keluar gubuk."Gunakan gubuk ini untuk tidur, aku akan pergi dan kembali besok pagi."


Liu Yan menghentak kaki karena perkataannya selalu saja di bantah oleh Xiao Han."Iya serah kamu saja,


semoga saja pagi ini kamu terbangun di dalam perut beruang."


Xiao Han melambaikan tangan sambil berjalan pelan."Ide yang bagus, mungkin aku akan mencobanya."


Hati Liu Yan seraya semakin mendidih."Tenang Liu Yan, kamu tidak harus merasa emosi dengan tingkah anak kecil itu karena kamu sudah dewasa."


Liu Yan menghirup nafas dalam-dalam untuk kembali rileks, iapun berbalik dan berjalan memasuki gubuk


hingga ia menemukan sejumlah makanan di sebelah tungku.


Liu Yan melipat tangan di depan dada lalu mendengus."Memangnya siapa yang mau makan masakan pria dingin itu..


Meski hatinya menolak, Liu Yan tetap tidak tahan dengan aroma masakan itu hingga ia berjalan mendekati beberapa mangkuk berisi makanan.


"Ku-kurasa tidak ada salahnya mencoba sedikit,"Liu Yan mengigit sedikit potongan daging ayam."Enak sekali ! Terasa seperti masakan ibu ku."


Awalnya Liu Yan memang berencana mencicipi, namun rasa masakan yang enak membuat bibir merah merona nya menjadi sangat lahap.


Sementara itu Xiao Han terlihat sedang berbaring di atas pohon Qian Yu,


seperti biasa dirinya selalu di temani oleh peri pedang yang duduk di dahinya.


"Nak, kenapa kamu tidak mencoba kekuatan barumu setelah berhasil membunuh naga air dan api."


Xiao Han langsung duduk hingga membuat peri pedang hampir terjatuh karenanya.


"Benar ! Aku sama sekali belum mencoba kedua ecense ku seharian ini."


"Ya, bagaimana kita mulai dari rantai ?"Usul peri pedang yang kini terbang di sekitar wajah Xiao Han.


Xiao Han mengagguk lalu dengan posisi masih duduk ia mengeluarkan satu rantai dari tangan kanannya. Rantai itu nampak sudah berwana merah terang, tidak lagi karatan seperti dulu.


"Kamu haru berterimakasih kepada ku nak.. Karena aku telah menyelaraskan rantai mu dengan elemen api, sehingga rantai itu dapat membakar lawan mu."


Xiao Han mengagguk lalu dia mengeluarkan sebuah tombak dari telapak tangan sebelah kiri,


tombak itu terlihat sudah berwarna hijau cerah seperti giok.


"Nah nak, sekarang jika kamu bertarung menggunakan tombak, akan ada efek air tajam yang akan mengikuti gerakan mu."


Xiao Han menyimpan kembali kedua ecense spiritnya lalu berterimakasih kepada peri pedang, dia bukan hanya menyelamatkan nyawa Xiao Han beberapa kali namun dia juga merupakan sosok guru terbaik bagi Xiao Han.


Meski peri pedang berikap sedikit sombong dan angkuh, Xiao Han tau dia juga manusia yang memiliki hati.


Keduanya nampak asik melihat bintang, terlintas di benak Xiao Han untuk mengunjungi makam Qian Yu yang belum pernah di lihatnya.


Setelah memantapkan diri jika besok ia akan pergi melihat makam Qian Yu,


Xiao Han tertidur lelap bersama dengan peri pedang.