Chasing Happiness

Chasing Happiness
03.Usaha kembali pulang



Malam hari pun tiba.


Di mana di waktu sekarang hutan akan menjadi tempat yang sangat berbahaya dan mematikan untuk di tempati oleh seorang bocah kecil.


Tubuh Xiao Han mengeluarkan keringat dingin sampai membasahi tubuh.


Karena merasa sangat kesakitan, Xiao Han sampai mengigau bertemu mendiang ayah dan ibu di dalam mimpi.


Xiao Han tiba-tiba sadar lalu menjerit memanggil ayah dan ibunya, namun tidak ada siapapun di sekitar Xiao Han kecuali kesunyian hutan di malam hari.


Rasa sakit di perut dan sekujur tubuhnya kembali dapat Xiao Han rasakan, sampai menjerit tertahan agar tidak menarik perhatian hewan spirit.


Di malam hari hewan spirit akan menjadi lebih aktif dan sensitif dengan bau dan aroma darah. Sadar tubuhnya di penuhi lumuran darah, Xiao Han merangkak ke sebuah kubangan lumpur.


Sesampainya di sana Xiao Han mengambil sedikit demi sedikit lumpur lalu di oleskan ke seluruh bagian tubuh.


Meski sakit cara ini ampuh untuk menghilangkan sesuatu yang menarik perhatian hewan spirit.


Di malam hari pengelihatan hewan spirit berubah dengan cara melihat temperatur suhu serta aroma darah.


Kebetulan lumpur tidak hanya bisa menyembunyikan aroma, tapi juga temperatur suhu sehingga cocok digunakan untuk berkamuflase jika sewaktu-waktu berada di dalam keadaan terdesak.


Xiao Han kembali merangkak menuju pohon sebelumnya, lalu beristirahat sebentar di sana untuk memulihkan tenaga yang hilang.


Entah karena apa Xiao Han merasa rasa sakitnya berangsur-angsur mengurang. Rasa bingung Xiao Han semakin menjadi-jadi saat tidak melihat mayat ular weling di manapun.


"Mungkinkah saat aku pingsan ada seseorang yang datang dan mengambil jasad ular weling ?"Gumam Xiao Han.


Xiao Han sedikit merasa sedih terhadap sikap warga desa kepada dirinya.


"Mereka tega sekali, memangnya aku berbuat jahat seperti apa sampai di tinggal sendirian di sini."


Meski merasa sakit hati sekaligus sedih, Xiao Han tetap tersenyum dan mengambil maka baik hari ini.


"Ya..Paling tidak mereka tidak membunuhku."Xiao Han menghela nafas lega seraya menatap langit.


Xiao Han meraih langit dengan tangan kanan."Ayah dan ibu jangan khawatir,


aku akan tetap hidup dan membuat kalian berdua bangga."


Tanpa terasa air mata Xiao Han menetes mengingat wajah ayah dan ibunya.


Meski sebentar paling tidak ada beberapa kenangan bersama mereka yang masih dapat Xiao Han ingat.


Xiao Han memegangi perut yang tadi terasa sangat sakit, beberapa saat kemudian entah mengapa semua rasa sakit di sekujur tubuh Xiao Han mulai mereda dengan sendirinya.


Begitu sudah mempertimbangkan situasi, Xiao Han memilih untuk berjalan pulang karena tidak bagus berada di dalam hutan pada malam hari.


Xiao Han berjalan tertatih-tatih mengambil kapak yang tergeletak tak jauh di depan. Setelah di dapatkan, Xiao Han kembali berjalan menuju ke sebuah pohon kecil tidak jauh dari tempat berdiri.


Dengan mengandalkan sebuah kapak Xiao'Han memotong satu buah ranting, ranting itu ia gunakan sebagai alat bantu untuk menopang tubuhnya.


Xiao Han menoleh ke kanan dan kiri, ternyata ia sudah masuk ke bagian paling dalam hutan yang tidak pernah di jamah oleh manusia manapun.


Xiao Han pernah mendengar dari cerita jika semakin masuk ke bagian terdalam hutan, maka besar kemungkinan akan mudah untuk menemukan hewan spirit berbahaya dan buas.


Sambil berjalan tertatih-tatih Xiao Han menoleh ke kanan dan kiri tanpa menurunkan sedikitpun kewaspada.


Di keadaannya kali ini, akan berbahaya bagi Xiao Han jika bertemu hewan spirit.


Dari balik semak dan di atas batang pohon Xiao Han dapat mendengar banyak suara aneh, kemungkinan suara-suara itu berasal dari hewan spirit yang sedang bersembunyi.


Untungnya lumpur yang menutupi tubuh Xiao Han memberikan perlindungan kamuflase sempurna, sehingga membuat keberadaan Xiao Han tidak di ketahui oleh hewan spirit manapun.


Tiba-tiba di depan Xiao Han melihat seekor hewan spirit tipe macan tengah tertidur lelap, hewan itu berukuran sepuluh kali manusia sehingga takhayal jika dia di takuti oleh spesies lain.


Xiao Han berjalan mengendap-endap mengitari hewan spirit tipe macan di depan, bahkan untuk menarik nafas tidak berani Xiao Han lakukan.


Setelah berhasil melewati macan tersebut barulah Xiao Han bisa bernafas lega, iapun mengingat-ingat jalan untuk pulang yang tadi ia lalui.


Tetapi setelah berjalan lama mengandalkan ingatan. Xiao'Han menelan pahitnya hidup begitu sadar ia hanya berputar-putar di daerah yang sama, Xiao Han bingung sebab tidak tau pasti lokasi hutan tempat sekarang dirinya berada.


Sampai Xiao Han melihat beberapa kawannan hewan spirit tipe rusa, hewan jenis ini biasa hidup berkelompok dan memiliki bentuk seperti rusa biasa namun memilik cahaya keunguan di beberapa bagian tubuhnya.


Menurut dari apa yang pernah ayah Xiao Han katakan, rusa akan pergi ke sungai di malam hari untuk minum air.


Xiao Han berjalan mengendap-endap beberapa meter di belakang kawanan rusa di depan, nampaknya hewan itu tengah berjalan menuju suatu tempat yang tidak Xiao Han ketahui.


Xiao Han memilih mempercayai cerita ayahnya dan berjalan mengikuti kawanan rusa di depan, iapun terus mengikuti rusa-rusa tersebut sambil menjaga jarak agar tidak menakuti mereka.


Tiba-tiba sesuatu mengejutkan terjadi saat sekor hewan spirit tipe macan yang tadi sempat Xiao Han lihat tengah menghadang jalan rusa di depan.


Hal ini juga mengancam keselamatan Xiao Han, jika semua rusa-rusa itu mati di tangan hewan spirit tipe harimau maka putus juga harapan Xiao Han untuk kembali dengan selamat.


Xiao Han memutar otak bagaimana cara mengalihkan kawanan rusa di depan untuk berlari secara acak, guna membingungkan perhatian dari hewan spirit tipe macan.


Di saat tengah berpikir Xiao Han melihat sebuah rumah lebah. Karena tubuh Xiao Han tidak dapat di lihat, lebah itu kemungkinan tidak akan menyerangnya sehingga aman bagi Xiao Han untuk menggunakan sarang itu sebagai senjata.


Xiao Han berjalan menuju ke sebuah pohon dan mengambil sarang lebah yang ada di sana. Lalu Xiao Han memanjat sebuah pohon yang tepat berada di atas kepala hewan tipe harimau.


Harimau itu nampak menunggu kedatangan kawanan rusa yang tadi sempat berhenti untuk makan.


Merasa saat ini adalah waktu yang tepat, Xiao Han menjatuhkan sarang lebah di tangannya sampai menimpa kepala harimau di bawah.


Belum sempat merasakan bagaimana rasa daging rusa, harimau itu sudah lebih dulu merasakan sakitnya di sengat oleh satu koloni lebah, sampai membuatnya berlari ke sana kemari seraya mengaung kesakitan.


Setelah kawanan rusa kembali datang, mereka tidak melihat apapun yang mengancam di depan sehingga bisa melanjutkan perjalanan.


Dengan cerdik Xiao Han menuruni pohon dan kembali berjalan mengikuti kawanan rusa di depan sampai akhirnya dia menemukan sebuah sungai.