Chasing Happiness

Chasing Happiness
47.Percakapan guru dan murid



*Sepi banget 4njing bacanya dua kali


 


Tiba-tiba Xiao Han terbangun di pagi selanjutnya, iapun duduk dan menoleh ke kanan dan kiri serta tidak lupa memeriksa keadaan tubuhnya yang sebelum ini sempat terluka sangat parah.


"Huu..."Xiao Han mengelus dada sambil menghela nafas."Ku kira aku akan mati, untungnya tidak."


Peri pedang tiba-tiba muncul dan duduk di pundak Xiao Han, di menceritakan kepada Xiao Han bahwa dia pingsan seharian penuh dan sekarang adalah hari kedua berburu.


Semalaman suntuk peri pedang pingsan karena kehabisan tenaga, namun sekarang sudah tidak apa karena senjata dewa sepertinya memiliki kemampuan hebat dalam mengumpulkan energi.


Xiao Han merasa sakit hati ketika tau baju kesukaannya koyak di bagian perut dan bagian lainnya. Peri pedang tidak bisa berbuat banyak, karena sepertinya Xiao Han harus membeli pakaian baru untuk memperbaiki penampilannya.


"Padahal pakaian ini ada sejak Qian Yu masih hidup, hanya dengan melihatnya aku bisa ingat semua kenangan yang aku dan Qian Yu lalui ketika menemukan benda ini."


Peri pedang menghela nafas."Astaga jangan cengeng, kamu bisa membeli yang baru dan simpan saja baju itu di dalam kalung penyimpan."


Xiao Han berdiri lalu pandangannya tidak sengaja melihat mayat manusia burung yang tergeletak di lantai, karena merasa penasaran Xiao Han berjalan menghampiri mayat itu.


"Apakah kamu mau membawa mayat itu nak ? Ku dengan daging manusia burung sangat lezat."


Xiao Han tersenyum kecut."Kurasa tidak, aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi wanita ketika memakan burung bertubuh manusia."


Peri pedang hanya mengangguk-angguk seperti orang bodoh, lalu Xiao Han berjalan menuju bagian ujung reruntuhan kuno yang mampu melayang ini.


"Aku baru tau ada Bangunan seperti ini, menurut mu bagaimana ?"


"Hal seperti ini biasa saja nak, kamu belum saja melihat 12 kuil sanctuary. Mungkin mata mu akan keluar ketika melihatnya."


Xiao Han memandang langit di depan."Respon mu berlebihan, lagian aku tidak berpikir ingin melihatnya."


"Huu..Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang ?"


"Apa lagi ? Tentu saja melanjutkan perburuan."


"Oh yeah ! Itu baru murid ku."


Xiao Han melompat dari ketinggian hingga tubuhnya melesat jatuh dari langit, sebuah tombak tiba-tiba keluar dari telapak tangan kiri Xiao Han dan mengambang di atas langit.


Dengan santai dan elegan Xiao Han berdiri di atas tombak itu lalu melesat cepat kembali ke hutan akademi.


Sesampainya kembali di hutan bagian berbahaya Xiao Han mendarat dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.


Berbeda dengan hutan bagian aman, hutan bagian berbahaya terasa sangat gelap serta perasa sesak dengan hawa mencengkam menyelimuti seisi hutan.


Dari balik semak ataupun kegelapan,


Xiao Han bisa merasa ada banyak hewan spirit memperhatikannya namun sepertinya tidak ada satupun dari mereka yang berniat menyerang.


Xiao Han mengabaikan hewan spirit yang lemah karena ingin mencari hewan spirit yang cukup bagus, karena peri pedang mengatakan bahwa semakin tinggi tingkatan hewan spirit maka daging yang mereka hasilkan juga berkualitas tinggi dan pastinya lezat.


Ketika sedang berjalan dari arah depan Xiao Han mendengar rentetan suara ledakan, iapun berlari menuju sumber suara dan bersembunyi di balik pohon ketika sampai.


Beberapa meter di depan sana terlihat dua ekor hewan spirit tengah bertarung di tanah lapang, satu dari mereka merupakan seekor beruang batu dan satunya berupa seekor macan kumbang hanya saja berukuran lebih besar dari normalnya.


Kedua hewan itu terlihat mengeluarkan kemampuan terbaik untuk mengalahkan satu sama lain, salah satu dari mereka tidak ada yang unggul, keduanya sama-sama sudah terluka parah.


Xiao Han lebih memilih untuk menonton karena menurutnya pertarungan kedua hewan itu sangat keren, hingga suatu kejadian membuatnya tercengang ketika melihat beruang batu mengangkat kedua tangan dan menghantam kepala macan kumbang hingga membuatnya tersungkur tidak bernyawa.


Tidak lama kemudian beruang itu juga tersungkur akibat luka di mana-mana, Xiao Han yang melihat hal itu segara keluar dari tempat persembunyian dan berjalan menghampiri beruang batu yang nampak sudah sekarat.


"Ayo nak, tunggu apa lagi ?


Habisi beruang itu, jarang-jarang kamu bisa menepuk dua lalat sekaligus."Peri pedang tersenyum puas.


Xiao Han mengeluarkan tombak naga langit hendak akan membunuh beruang itu, namun niatnya terhenti ketika dari balik semak keluar beberapa anak beruang.


"Nak ap-apa yang akan kamu lakukan ?"


Xiao Han tersenyum."Nanti kamu akan tau sendiri."


Peri pedang yang mengetahui maksud Xiao Han memijat dahi sambil menggeleng."Dasar gil4."


_________________________________


Malam harinya di sebuah goa di dalam hutan rimbun, Xiao Han terlihat sedang duduk di atas sebuah batu kecil sambil membakar sebuah anak beruang.


Hari ini Xiao Han sudah berhasil membunuh cukup banyak hewan spirit, rata-rata hewan yang di buru semuanya menginjak usia 100 Tahun di mana hanya Xiao Han yang mampu melakukannya.


"Peri pedang, kenapa kamu tidak berubah menjadi besar saja ?"Ujar Xiao Han sambil membolak-balikkan panggangan.


Peri pedang tersenyum menggoda."Apakah kamu berhasrat dengan guru sendiri ?"


Xiao Han menggeleng."Bukan itu maksudku, hanya saja aku membutuhkan teman yang lebih nyata."


Melihat reaksi Xiao Han yang seperti orang sedih, peri pedang tersenyum penuh makna lalu berubah besar menjadi hujud nya saat dia masih hidup.


"Nah, apakah kau senang nak ?"


Peri pedang tersenyum menggoda nampak percaya diri dengan penampilannya.


Xiao Han hanya menatap datar peri pedang yang berdiri di samping,


meski peri pedang memang sangat cantik berambut hitam panjang dengan balutan pakaian hitam dan merah yang sedikit terbuka memperlihatkan tubuhnya yang menggiurkan, tetap saja Xiao Han tidak merasakan apa-apa.


Xiao Han kembali menatap api unggun dengan pandangan sedih."Kamu memang cantik."


Peri pedang duduk di sebelah Xiao Han lalu mengusap punggungnya."Ada apa lagi ? Kenapa kamu sedih."


Dahi Xiao Han mengerut."Akhir-akhir ini aku merasa sedikit aneh, entah mengapa aku sama sekali tidak tertarik dengan wanita."


Peri pedang terkejut."Kamu impoten ?"


"Jangan bicara seenaknya, aku ini laki-laki tetap saja tergiur dengan yang seperti itu."Kata Xiao Han dengan sedikit kesal.


Peri pedang tersenyum menggoda,


lalu membuka sedikit pakaian di bagian dadanya dan memperlihatkannya kepada Xiao Han."Bagaimana dengan yang ini ?"


Xiao Han hanya menatap datar dua gunung surga peri pedang."Oh, ternyata seperti itu bentuk dada wanita.. Sangat aneh."


Peri pedang merasa sedikit kecewa karena cara ini tidak juga membantu Xiao Han, iapun hanya duduk termenung menatap kobaran api unggun.


"Peri pedang, bukankah kamu dulu memliki pasangan ?"Tanya Xiao Han sambil memakan daging anak beruang yang dia bakar.


"Bagaimana kamu tau ?"Peri pedang menatap Xiao Han dengan heran karena seingatnya ia sama sekali tidak menceritakan apa-apa tentang kekasihnya.


"Kamu mau makan ?"Tanya Xiao Han sambil menyodorkan satu buah anak beruang utuh yang sudah di bakar kepada peri pedang.


"Tidak, aku sedang diet makan anak beruang, lagian Kenapa kamu membunuh mereka. Eh, kenapa kamu malah membalik topik pembicaraan ?!"


Xiao Han menggaruk kepala,"Itu karena aku ingat bagaimana kamu diam-diam mencium dahi ku."


Seketika wajah peri pedang memerah lalu dengan cepat mencoba untuk tetap tenang."Ya, di dunia ku, hal seperti itu biasa saja. Semua orang bisa melakukannya jika mau."


"Benarkah ?"Xiao Han nampak tidak percaya.


Peri pedang semakin di buat salah tingkah."Te-tentu saja, kapan aku pernah membohongi mu ? dan berhenti menatap ku seperti itu !"


Reaksi peri pedang terkesan lucu dan membuat Xiao Han tertawa,


lalu keduanya pun tertawa karena merasa lucu hingga suara mereka memenuhi goa.