Chasing Happiness

Chasing Happiness
34.Seni meringankan tubuh



Di keadaan tempat landai dan tandus itu, Xiao Han terbangun dengan tubuh kembali normal setelah tadi mendapatkan luka dimana-mana.


Saat itu peri pedang nampak duduk di dada Xiao Han, menatapnya dengan perasaan aneh.


"Kamu sudah bisa memprediksi pormasi burung walet tipe angin ?"


"Yah..Aku bisa mempelajari pormasi mereka setelah kemarin di hajar tanpa memberikan perlawanan,


intinya aku bisa karena belajar dari kegagalan."Kata Xiao Han dengan posisi masih berbaring karena lelah.


"Penjelasan mu cukup logis,


ternyata kamu anak yang pintar karena bisa mempelajari sesuatu dengan cepat."Kata peri pedang.


"Jika masih belum mampu sepenuhnya, maka tidak bisa di katakan sudah berhasil-kan.."


Peri pedang berdiri lalu melipat kedua tangan di depan dada."Ya Ya Ya, seterah kamu saja. Sekarang pergilah ke hutan dan bunuh satu hewan spirit untuk ku."


Xiao Han berdiri dan menatap langit yang masih sangat cerah,"Kurasa kita masih punya banyak waktu, tidak ada salahnya hari ini kita berburu."


Xiao Han mengenakan bajunya lagi lalu berjalan menuju hutan, meski kawasan ini adalah gunung, tetap saja hanya sedikit hewan spirit yang mau berada di sini sebagian tidak mau keberadaan mereka di ketahui oleh manusia.


Setelah menuruni puncak gunung.


Xiao Han berjalan menyusuri jalan utama menuju gunung, tiba-tiba di arah depan dia melihat tiga orang pria dewasa yang di duga adalah penduduk desa. Mereka nampak membawa bambu runcing sambil mengobrol bersama.


Cepat-cepat Xiao Han bersembunyi di dalam semak-semak, iapun memperhatikan penduduk desa itu yang akan menaiki gunung.


"Jika di lihat-lihat, sepertinya mereka ingin berburu."Batin Xiao Han.


Tiga orang tersebut mulai berjalan mendekati semak tempat Xiao Han bersembunyi, sehingga obrolan mereka sudah dapat di dengar.


"Hei apakah kamu tau ?"Tanya seorang pria yang berjalan di tengah-tengah.


"Tau apa ?"Seorang pria yang berjalan di samping kanan bertanya dengan bingung.


"Serius kamu gak tau ?"Tanya pria pertama, sambil menatap aneh teman-temannya.


Pria terakhir mengusap wajah."Ya ampun..Jika kamu tidak memberitahu kami, bagaimana bisa kami mengetahui apa yang mau kamu sampaikan."


Pria pertama menggaruk kepala."Baik-baik akan ku ceritakan. Apakah kalian tau akhir-akhir ini kita kekurangan air ?


Kedua pria teman dari pria pertama mengagguk mengiyakan dan menebarkan perkataan pria pertama.


"Sungai deras yang selama ini memberikan kita air tiba-tiba saja sekarang hanya terdapat sedikit air yang mengalir, orang-orang sudah ada yang mencoba untuk mencari akar kesalahan itu dengan menyusuri hulu sungai, namun mereka tidak menemukan apa-apa."Jelas pria pertama sambil mengelus dagu.


"Kurasa hal ini ada kaitannya dengan monster air yang berdiam di sebuah sungai, dia menggunakan batu besar untuk menghalangi laju sungai agar bisa berhibernasi."Kata pria kedua.


Pria ketiga kembali mengusap kepala tidak tahan dengan kebohongan dua orang temannya.


"Kamu masih mengingat cerita itu ? Sadarlah kawan, cerita itu hanyalah mitos belaka, lagian kita mendengarnya saat masih kecil."


Ketiga pria itupun berjalan pergi melalui Xiao Han, setelah dirasa aman Xiao Han beranjak keluar dari semak-semak.


"Apakah kamu tertarik dengan cerita itu ?"Tanya peri pedang yang kini terlihat sedang duduk di bahu Xiao Han.


Xiao Han mengelus dagu."Ya kamu benar, aku tidak hanya tertarik namun sepertinya penduduk desa sedang menghadapi krisis air."


"Lalu apakah kamu mau membantu mereka ? Sadarlah, perjuangan kamu tidak mungkin di hargai."


"Meski begitu paling tidak kita bisa menghisap lingkaran roh untukmu,"Xiao Han melirik peri pedang lalu tersenyum."Nah, bagaimana ? Apakah kamu mau ikut ??"


Xiao Han mulai berjalan menuruni gunung."Kata-kata mu terdengar seperti orang yang di perbudak."


"Bukankah memang begitu ?"


"Kurasa tidak, aku tidak menganggap mu seperti kebanyakan ecense spirit bisa karena kamu memiliki pikiran dan hati seperti manusia."


Peri pedang terdiam, ia menatap wajah Xiao Han dari samping dengan perasaan senang karena baru pertama kali di anggap oleh manusia setelah ia di rubah menjadi senjata dewa.


"Ngomong-ngomong, mungkin cerita tiga pria tadi benar jika ada seekor monster yang menghalangi laju sungai ?"Tanya Xiao Han dengan pandangan fokus ke jalan di depan.


"Ya..Aku juga tidak bisa memastikan masalah itu benar atau salah, tapi setahuku memang ada hewan spirit yang suka tinggal di dalam sungai untuk berhibernasi."


"Aku merasa semakin penasaran,


semoga saja memang ada hewan spirit di hulu sungai."Kata Xiao Han.


"Hulu sungai ? Bukan kamu salah,


hewan spirit yang kemungkinan besar memang ada itu biasanya tinggal di tempat awal sungai mengalir."


Xiao Han mengelus dagu."Sungai yang di gunakan oleh penduduk desa adalah sungai yang sama dengan sungai di belakang gubuk ku, awal dari aliran sungai itu berasal dari danau yang berada jauh di selatan, jadi maksudmu hewan spirit itu berasal dari sana ?


"Ya kemungkinan besar dia menang berada di sana."Kata peri pedang dengan yakin.


"Tapi danau yang ku maksud berada jauh di selatan, mungkin butuh satu atau dua hari baru bisa sampai."


"Jangan risau, bukankah kamu memiliki tenaga dalam yang cukup banyak ? Kenapa tidak gunakan itu untuk terbang."


Xiao Han menghela nafas."Mudah bagimu berkata seperti itu, bahkan cara menggunakannya saja aku tidak tau."


"Tidak susah bagaimana cara menggunakannya, keluarkan saja dulu ecense kedua mu."


Seperti yang di katakan peri pedang,


Xiao Han mengeluarkan ecense spirit kedua berupa tombak karatan.


"Letakkan tombak itu di tanah, lalu berdirilah di atasnya."Kata peri pedang.


Meski sempat berpikir dirinya sedang di permainkan oleh peri pedang, Xiao Han tetap melakukan apa yang di arahkan oleh peri kecil itu.


"Lalu apa yang harus ku lakukan ?"Tanya Xiao Han dengan posisi berdiri di atas tombaknya.


"Pejamkan mata dan rasakan tenaga dalam yang berpusat di bagian titik nadi dan di bagian perut mu."


Xiao Han memejamkan mata lalu dia memperfokus pikirannya, samar-samar dia mulai dapat merasakan suatu energi besar seperti yang di katakan peri pedang.


"Semua yang ada di dalam tumbuh mu tunduk kepada perintah mu, sekarang alirkan tenaga itu ke kedua kaki mu hingga tersalur pada tombak itu dan arahkan tombak itu kemanapun yang kamu mau dengan menggunakan pikiran."Kata peri pedang.


Xiao Han melakukan apa yang di katakan peri pedang, perlahan tubuhnya mampu mengambang beberapa meter di udara.


Karena baru pertama kali mencoba,


secara alami Xiao Han kehilangan keseimbangan saat dia membuka mata dan menyadari dirinya sudah berada di ketinggian ratusan kaki.


"Kamu harus tenang, pikiran yang fokus menjadi titik awal menggunakan seni meringankan tubuh."Jelas peri pedang untuk menuntun Xiao Han yang nampak mulai kehilangan keseimbangan.


"Ak-aku takut ketinggian..