Chasing Happiness

Chasing Happiness
18.Santai



Tidak ada yang terjadi pada saat Xiao Han dan Qian Yu melewati hutan,


mungkin semua binatang spirit masih bersembunyi di tempat masing-masing sehingga perjalanan kali ini begitu santai juga tidak ada rintangan yang berarti bagi Xiao Han dan Qian Yu.


Saat matahari berada di pertengahan antara siang ke sore,


barulah Xiao Han dan Qian Yu nampak berjalan keluar dari hutan lebat yang berletak di belakang desa.


Saat sebelum keluar dari goa,


Xiao Han sudah lebih dulu menyembunyikan kitab iblis di balik pakaiannya agar Qian Yu tidak bertanya hal yang macam-macam.


Akan merepotkan apabila gadis kecil cerewet itu tau Xiao Han memiliki sebuah kitab hebat yang berasal dari tahun kuno.


Xiao Han juga berencana mengejutkan Qian Yu dengan teknik yang nanti akan di ajarkan oleh kitab iblis, butuh waktu satu hingga dua hari itupun jika Xiao Han mampu menguasainya.


Di dalam lubuk hatinya,


Xiao Han masih tidak yakin bisa mempelajari kitab tersebut mengingat pemilik dari kitab sebelumnya adalah seorang pendekar legendaris yang bahkan hanya mampu menguasai dua lembar dari isi kitab tersebut.


Xiao Han yakin dengan adanya kemauan, tidak ada sesuatu yang tak bisa di capai kecuali tidak ada kemauan.


Sambil berjalan bersama menuju sungai di belakang gubuk, pikiran Xiao Han selalu berada pada kitab iblis dan ingin segera mempelajarinya.


Diam-diam Xiao Han melirik Qian Yu di samping, gadis itu terlihat asik berjalan dan bersenandung hingga tidak sadar dirinya sedang di perhatikan.


'Adik Yu kemungkinan besok pagi akan kembali datang, aku harus mengatur jadwal untuk menguji coba kitab ini pada diri ku sendiri. Namun, kuras tidak ada salahnya mencoba malam ini


'Kitab ini sangat jarang sekali di temukan, suatu keajaiban bagiku bisa menemukan salah satunya.'Gumam Xiao Han di dalam hati seraya masih melirik Qian Yu.


Tiba-tiba Qian Yu melirik ke arah Xiao Han yang sedang meliriknya.


"Ada apa Han'gege ? Kenapa kamu melihatku seperti itu ??"


"Siapa yang melihatmu ?


Aku hanya terkejut melihat seorang gadis bersih seperti mu memiliki kotoran besar di mata."Dalih Xiao Han.


Sontak Qian Yu mengucek mata namun tidak menemukan apa-apa di sana,


iapun menghentikan langkah begitu juga dengan Xiao Han.


Qian Yu menatap marah Xiao Han."Kamu jangan mempermainkan ku !!"


Xiao Han dengan cerdik berjalan mengitari Qian Yu lalu memetik sebuah daun tanpa sepengetahuan Qian Yu.


"Kotoran pada mata hanya sebuah kode untuk mu."Xiao Han melakukan gerakan seolah mengambil daun dari atas kepala Qian Yu."Nah, lihatlah. Aku sudah berbaik hati mau mengambil daun ini dari atas kepalamu."


Qian Yu terdiam melihat daun hijau di tangan Xiao Han, ia tidak sadar dirinya sudah di bodohi oleh Xiao Han sehingga Qian Yu kembali berjalan tanpa berkata-kata.


Merasa bersalah Xiao Han berjalan menghampiri Qian Yu. Setelah berada di samping Qian Yu,


Xiao Han mengaku sudah membodohi Qian Yu dan dirinya jugalah yang berpura-pura mengambil daun yang di petik dari atas kepala Qian Yu.


Qian Yu hanya berdehem karena masih merasa kesal. Xiao Han yang kebingungan segera menghibur Qian Yu dengan memainkan sebuah melodi indah dari sebuah daun tipis.


Cara yang di lakukan Xiao Han berhasil menarik perhatian Qian Yu dan melirik ke arahnya, gadis itu dengan ketus mengambil daun di tangan Xiao Han.


"Huu ! Jika kamu berani memainkan melodi tadi pada gadis lain, aku akan sangat marah."


"Adik Yu, sekarang kamu masih berumur tujuh tahun, di saat ini kami masih belum bisa di katakan seorang gadis meski kamu memang pintar."


Xiao Han tersenyum."Jika kamu membandingkan ku dengan anak desa, jawabannya adalah tidak.


Aku tidak di nilai oleh orang lain


kecuali diriku sendiri."


"Aku bebas menilai diriku sendiri,


toh tidak ada yang perduli."Kata Xiao Han sambil tersenyum.


Qian Yu merasa tidak enak hati setelah mendengar perkataan Xiao'Han."Han'gege, bisakah kamu memainkan melodi tadi hingga kita sampai ke sungai ?"


"Tentu saja, aku akan memainkan melodi ini sebanyak yang adik Yu mau asalkan kamu tidak lagi marah kepadaku."


Qian Yu tersenyum lucu dan mengangguk ke arah Xiao Han sebagai tanda sudah memaafkan Xiao Han.


Melihat senyuman Qian Yu membuat Xiao'Han senang, iapun mendekatkan bagian tipis daun ke bibirnya lalu meniup daun itu secara perlahan.


Suara melodi menenangkan dari permainan Xiao Han nampak seirama dengan aliran angin yang menerpa dedaunan.


Qian Yu melirik Xiao Han,


dirinya merasa terpukau dengan kecerdasan Xiao Han, dia tidak nampak seperti anak usia tujuh tahun karena memiliki kecerdasan tinggi.


Jika saja Xiao Han tinggal di desa,


pasti dia akan di anggap sebagai anak paling jenius mungkin melebihi Qian Yu sekalipun yang kini di nobatkan sebagai anak paling jenius di desa.


Meski Qian Yu adalah anak dari tetua desa, ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Xiao Han meski dirinya sangat ingin sekalipun.


Meyakinkan puluhan penduduk desa hanya dengan mengandalkan satu mulut akan sangat susah, begitulah kesulitan Qian Yu jika ingin membersihkan nama Xiao Han dari rumornya.


Beberapa menit kemudian sampailah


Xiao Han dan Qian Yu di pohon dekat sungai yang menjadi tempat mereka bermain sore kemarin.


Xiao Han buru-buru mengambil banyak ranting kering yang dapat dengan mudah di temukan di bawah pohon.


Di rasa semua ranting yang di kumpulkan sudah cukup, Xiao Han segera memantik api dengan dua batu.


Api nampak berkobar besar, Xiao Han dan Qian Yu duduk bersama di bawah pohon sembari menunggu semua ranting berubah menjadi bara api.


Untuk membantu Xiao Han,


Qian Yu menusuk ayam yang sudah di bersihkan dengan ranting panjang agar mudah saat di bakar.


Sementara itu Xiao Han kembali bangkit dan berjalan memasuki semak belukar, beberapa waktu kemudian Xiao Han kembali datang membawa sarang madu dan sebuah daun lebar.


Qian Yu yang masih duduk bersender di bawah pohon menatap heran Xiao Han yang berjalan ke arahnya.


"Kenapa kamu membawa madu, Han'gege ? Apa guna dari madu itu ??"


Xiao Han tersenyum mendengar pertanyaan Qian Yu."Nanti kamu akan tahu, sekarang bantu aku mengoleskan madu ini pada seluruh bagian ayam yang akan di bakar."


Qian Yu mengagguk dan menuruti perkataan Xiao Han, merekapun mengoleskan madu temuan Xiao Han pada dua ayam yang akan di bakar.


Setelah semua ayam sudah di oles dengan madu serta bara api sudah siap,


Xiao Han segera membakar kedua ayam di tangannya dengan telaten.