
Setelah Ch ini,
maka untuk Ch kedepan saya berniat sedikit mempercepat alur pada cerita ini karena dirasa terlalu lambat..
Jantung Xiao Han berdegup kencang seakan ingin melompat keluar saat dirinya sudah berada di tengah-tengah desa.
Namun Qian Yu selalu tersenyum untuk menenangkan Xiao Han,
sehingga Xiao Han memiliki kekuatan aneh yang membuatnya dapat kembali melangkah dan melawan rasa takut.
Xiao Han menggegam kuat
telapak tangan Qian Yu dan tidak akan melepaskannya. Banyak orang desa terlihat di depan, bahkan juga nampak anak seumuran mereka menyapa Qian Yu dan tidak jarang juga menanyakan siapa Xiao Han bagi Qian Yu.
Dengan santai Qian Yu menjawab jika Xiao Han adalah sahabatnya,
sehingga tidak ada lagi pertanyaan yang datang jika sudah mengatakan hal tersebut.
Tiba-tiba dari arah samping Qian Yu di hampir oleh tiga orang perempuan seumuran dengannya.
Tatapan Qian Yu tiba-tiba menjadi tajam saat ketiga gadis yang di pimpin oleh perempuan berambut merah berperawakan nakal berhadapan dengannya.
Tanpa di beritahu sekalipun
Xiao Han dapat menebak ada masalah
di antara Qian Yu dan ketiga perempuan di hadapannya.
"Apa yang kamu inginkan Ruo Yi ?
Aku tidak punya waktu untuk meladeni mu hari ini."Kata Qian Yu dengan dingin.
Ruo Yi adalah pemimpin dari ketiga perempuan tersebut, dia nampak berdiri paling depan seraya memandang raut menghina.
"Gadis kecil ini ternyata sudah berani melawan, apa kamu sudah lupa dengan kejadian lalu ?"Ruo Yi berkata dengan nada tak kalah dingin.
Tatapan Qian Yu berubah tajam,
tanpa terasa ia menggegam terlalu kuat tangan Xiao Han hingga membuatnya sedikit meringis.
"Masalah yang lalu bukan urusan anak kecil seperti kita ? Sebaiknya kamu menyingkir dari jalan ku."
Ruo Yi menolak menyingkir, ia malah semakin berani dengan memandang rendah Qian Yu.
"Bukan urusan kita ? Hu !! Kamu harus ingat, ayah ku-lah yang seharusnya menjadi tetua desa. Jika bukan karena ayah mu main curang dan di angkat menjadi tetua desa,
maka kamu tidak akan berani bersikap arogan kepada ku."
Qian Yu terdiam karena perkataan Ruo Yi memang benar, hal itupun semakin membuat Ruo Yi ingin menghancurkan Qian Yu dengan tangannya.
Sudut bibir Ruo Yi sedikit terangkat dan berubah menjadi senyuman penuh kemenangan."Tahu diri juga kamu, sekarang mari kita berikan sedikit pelajaran padamu."
Ruo Yi mengangkat tangan berniat menjambak rambut Qian Yu
yang tidak dapat berkata-kata dan hanya bisa terdiam.
Namun dengan sigap Xiao Han menggegam pergelangan tangan Ruo Yi, sehingga berhasil menghentikan aksi gadis nakal itu.
"Apa yang coba kamu lakukan ?"
Kata Ruo Yi kepada Xiao Han dengan dingin.
Karena pikiran yang jernih di butuhkan untuk menyelesaikan masalah ini,
Xiao Han memasang raut wajah biasa.
"Maafkan aku. Aku tidak tau adalah masalah apa di antara kalian, namun permasalahan orang dewasa biarlah mereka yang mengatasi.
Jika kamu berani bermain hakim dengan alasan dendam, kamu hanya akan mempermalukan keluarga mu sendiri."
Ruo Yi terdiam dengan perasaan marah, iapun menarik tangannya dari genggaman Xiao Han dan berjalan pergi bersama kedua temannya.
Xiao Han melirik Qian Yu seraya tersenyum manis."Ku kira kamu sangat di sukai oleh orang, ternyata kamu juga memiliki lawan."
Qian Yu menghela nafas."Huu.. Begitulah, tidak ada gunanya memikirkan hal seperti itu sekarang."Qian Yu membalas senyuman Xiao Han.
"Ayo kita kembali berjalan."
Xiao Han mengagguk, lalu kembali melanjutkan perjalanan tidak perduli dengan banyaknya orang-orang yang memperhatikan.
Kediaman itu nampak yang paling bagus dan lebar dari rumah lain, juga terlihat sebuah kereta kuda terparkir di depan kediaman tersebut.
Qian Yu berjalan bersama Xiao Han memasuki gerbang kediaman,
merekapun berjalan melewati taman kecil hingga sampai di depan teras rumah.
Wajah Xiao Han seketika memucat melihat seorang pria berbadan tinggi besar tengah duduk bersanding dengan seorang perempuan cantik,
sementara di depan kedua pasangan itu nampak seorang pria paruh baya seperti yang di katakan Qian Yu sebelumnya.
Pria tersebut nampak berpakaian rapih seperti pria terpandang, begitu juga dengan ayah dan ibu Qian Yu yang menggunakan pakaian bagus,
membuat mereka terlihat seperti dewa dan dewi di mata Xiao Han.
Untungnya Xiao Han juga menggunakan pakaian bagus meski hasil temuan,
tidak terbayang bagaimana jika Xiao Han berpenampilan acak-acakan seperti dulu di hadapan ayah dan ibu Qian Yu.
"Sial, itu pasti akan sangat memalukan."Batin Xiao Han dengan cemas.
Qian Yu memanggil ayah dan ibunya sambil menenteng tangan Xiao Han gadis itu tersenyum.
"Ayah, ibu. Aku sudah menemukan anak dari paman Yen Chun."
Perkataan Yen Siulan membuat pria bisu bernama Yen Chun terkejut,
bahkan air yang sebelumnya ia minum kembali keluar akibat tersedak.
"Apa yang coba gadis jahil ini rencanakan ?"Batin Yen Chun.
Ibu dari Qian Yu menatap Xiao Han lalu membandingkan wajahnya dengan milik Yen Chun.
"Kalian berdua tidak mirip sama sekali, apakah kalian adalah ayah dan anak ?"Tanya ibu Qian Yu dengan curiga.
Yen Chun mencoba menjelaskan bahwa Qian Yu sedang berbohong,
namun naas dirinya bisu sehingga suara yang keluar terdengar seperti gumaman tidak jelas.
Melihat hal itu Qian Yu segera menengahi."Te-Tentu saja tidak mirip ibunda, adik ini berkata kepadaku jika dia lebih mirip dengan ibunya."
Ibu Qian Yu menatap lekat Xiao'Han."Benarkah ? Apa yang di katakan anak ku benar ??"
Xiao Han yang awalnya membeku buru-buru mengagguk."Be-benar apa yang di katakan adik Yu, bibi."
Ibu Qian Yu hanya terdiam karena harus ia akui jika Xiao Han memang tampan, bahkan tidak heran anaknya sendiri menyukai Xiao Han.
Sekarang giliran ayah Qian Yu yang menatap Xiao Han, pria itu nampak gahar sehingga membuat Xiao Han ketakutan saat di tatap olehnya.
"Siapa namamu ? Kali ini aku bertanya kepadamu, Yu'er tidak perlu menjawab."Tanya ayah Qian Yu dengan suara datar.
Otak Xiao Han berpikir dengan cepat, lalu menemukan nama yang cocok untuk dirinya.
"Paman, namaku adalah Yen Ryu."Kata Xiao Han dengan lihai.
Ayah Qian Yu tidak langsung percaya namun dia hanya diam saja, di dalam benaknya ia seakan pernah melihat Xiao Han tetapi tidak ingat kapan.
"Ka-kalau begitu apa aku boleh pergi sekarang ibunda dan ayahanda ?"Kata Qian Yu dengan gugup takut gerak-geriknya di ketahui oleh sang ayah.
"Tentu saja boleh sayang,"Ibu Qian Yu menatap suaminya."Bagaimana denganmu suamiku ? Kamu pasti juga akan mengijinkan anak kita pergi kan."Kata ibu Qian Yu dengan nada sedikit menggertak suaminya.
Ayah Qian Yu membuang muka dan berdehem, sementara ibu Qian Yu nampak tersenyum puas dengan keputusan suaminya, lalu menatap Xiao Han yang di kenalnya dengan panggilan Yen Ryu.
"Nah, untukmu Yen Ryu. Tolong jaga anak kami satu-satunya ini."Kata ibu Qian Yu kepada Xiao Han.
Xiao Han mengagguk meski wajahnya terlihat pucat."Tentu saja bibi, akan ku ingat pesan mu."
Ibu Qian Yu beralih menatap tuan Yen Chun yang sedari tadi bergumam tidak jelas, kenyatannya pria itu sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjelaskan kepada semua orang bahwa Qian Yu sedang berbohong.
"Ada apa denganmu tuan Yen Chun ? Kamu nampak sedikit aneh."Kata ibu Qian Yu dengan sedikit khawatir.
Yen Chun kembali akan untuk meyakinkan bahwa Qian Yu sedang berbohong, namun dengan sigap Qian Yu langsung mengajak pria paruh baya itu pergi ke kereta kuda yang terparkir di depan rumah.
Tuan Yen Chun nampak gusar namun tidak dapat berbuat apa-apa, iapun berjalan duluan ke kereta kuda sementara Qian Yu dan Xiao Han berjalan di belakangnya.
"Langit... Karma apa lagi ini ?"Batin Yen Chun mengutuk nasibnya.