Chaction: Chaos and Destruction

Chaction: Chaos and Destruction
Buah jatuh tak jauh dari pohon



Setelah kejadian tersebut, Raiden (Rin), Sara, dan Azami menjelaskan secara rinci tentang apa yang sudah terjadi setelah kepergian Raiden


Raiden:


Berat sekali kehidupan kalian


Raiden (Rin):


Yahh..tapi kami sudah melewatinya kan?


Raiden:


Andai saja aku bisa membantu


Azami:


Tidak tidak, itu tidak mungkin, karena sudah menjadi takdir kamu untuk menghadapi itu semua


Azami:


Persis seperti yang Quyu katakan


Raiden:


Benar juga, takdir


Raiden:


Ngomong-ngomong, apa Sara memang selalu mengerjakan seluruhnya sendirian?


Raiden (Rin):


Semenjak kepergian Ibu, dia lah yang mengurus semua keperluan di kediaman ini


Raiden:


Hehhh....dia tidak pernah berubah


Azami:


Bibi Raiden, bagaimana Quyu disana?


Raiden:


Ehm, dia menjadi lebih santai di alam sana


Raiden:


Tapi tetap saja dia tidak pernah bisa diam


Raiden:


Setiap waktu dia habiskan untuk terus berkeliling di sana


Azami:


Ya ampun, dia tidak pernah berubah


Raiden:


Apa boleh buat......


Suasana menjadi hening sejenak


Slurp....


Raiden (Rin) menyeruput teh nya


Raiden:


Oh ya, apakah kamu masih ingat dengan ilmu yang kuajarkan padamu?


PFFTTHH!!!!


Raiden (Rin) seketika menyemburkan tehnya


Raiden (Rin):


I-ilmu yang mana Ibu....?


Raiden:


Jangan bilang kamu sudah melupakannya


Raiden (Rin):


Ti-tidak kok..aku masih mengingatnya


Raiden:


Kalau begitu buktikan


Raiden (Rin):


Ba-ba-baik.....


Tangan Raiden (Rin) gemetaran memegang cangkir tehnya


Raiden (Rin):


’Bagaimana ini? Aku belum menguasainya’


Raiden (Rin) mengambil sebuah lidi dari dalam pakaiannya, kemudian memasukannya kedalam mulut


Raiden:


Tembakan


Raiden (Rin):


TUH!!!


Lidi yang berada di mulut Raiden (Rin) terjatuh dari mulutnya


Raiden:


Kamu berani berbohong sekarang....?


Raiden (Rin):


Hiiiii....!!!


Raiden (Rin) melarikan diri secepat mungkin


Raiden:


Mau kemana kamu?!


Bzzttt!


Raiden memakai kecepatan kilat untuk mengejar Raiden (Rin)


Raiden (Rin):


Curang!


Bzzztt!!


Raiden (Rin):


’Terima kasih Suna!’


Raiden (Rin) dikejar terus oleh Raiden hingga ke tempat yang sangat jauh


Thump!


Azami:


Oya oya, seharusnya kamu membiarkan bagian terbaiknya terjadi


Castella:


Ya, seharusnya


Tap Tap Tap


Sara:


Loh, dimana nona Raiden?


Azami:


Dia sedang ada urusan dengan anaknya


Sara:


Ah, begitu ya


Sara membereskan cangkir teh milik Raiden (Rin)


Castella:


Apa tidak mau beristirahat dulu?


Sara:


Tidak, saya tidak ingin


Castella:


Ya ampun, sesekali beristirahat tidak ada salahnya bukan?


Sara:


Saya dulu pernah mencobanya, tapi malah menjadi gelisah dan tidak tenang


Castella:


Hmm~


Castella menggeleng-gelengkan kepalanya


Shuu....


Sebuah gerbang tiba-tiba muncul di dekat Castella


Castella:


Ada apa Arumi?


Arumi datang dengan wajah cemberut


Arumi:


Kedua Raiden itu mengganggu istirahatku


Castella:


Duhh..benar juga


Ctik!


Castella menjentikan jarinya dan seketika Raiden serta Raiden (Rin) muncul dihadapan mereka dalam keadaan terikat oleh sebuah tali


Castella:


Kalian berdua membuat keributan di wilayah kalian sendiri loh


Raiden:


Ma-maaf....


Arumi:


Apakah semua keturunan Rex petir memang sifatnya kekanak-kanakan?


Raiden:


Hei, kekanak-kanakan itu adalah sifat alami seseorang yang tidak dapat diubah tahu


Arumi:


Rupanya benar


Arumi pergi masuk ke gerbangnya


Castella:


Astaga, sifat kalian saling bertolak belakang


Raiden:


Biarlah, menjadi mertua yang cerewet juga tidak ada salahnya


Castella:


’Sifat kedua orang ini.......’


Jreng!


Raiden:


Uwah!! Kita dihukum!!


Raiden (Rin):


Suna, lepaskan Ibu!


Castella menggantung Raiden serta Raiden (Rin) pada tempat jemuran pakaian


Azami:


Bwahahahahaha......!


Castella:


Huff..meresahkan


Castella meninggalkan keduanya


Sara:


’Astaga’