
Setelah kejadian tersebut, Raiden (Rin), Sara, dan Azami menjelaskan secara rinci tentang apa yang sudah terjadi setelah kepergian Raiden
Raiden:
Berat sekali kehidupan kalian
Raiden (Rin):
Yahh..tapi kami sudah melewatinya kan?
Raiden:
Andai saja aku bisa membantu
Azami:
Tidak tidak, itu tidak mungkin, karena sudah menjadi takdir kamu untuk menghadapi itu semua
Azami:
Persis seperti yang Quyu katakan
Raiden:
Benar juga, takdir
Raiden:
Ngomong-ngomong, apa Sara memang selalu mengerjakan seluruhnya sendirian?
Raiden (Rin):
Semenjak kepergian Ibu, dia lah yang mengurus semua keperluan di kediaman ini
Raiden:
Hehhh....dia tidak pernah berubah
Azami:
Bibi Raiden, bagaimana Quyu disana?
Raiden:
Ehm, dia menjadi lebih santai di alam sana
Raiden:
Tapi tetap saja dia tidak pernah bisa diam
Raiden:
Setiap waktu dia habiskan untuk terus berkeliling di sana
Azami:
Ya ampun, dia tidak pernah berubah
Raiden:
Apa boleh buat......
Suasana menjadi hening sejenak
Slurp....
Raiden (Rin) menyeruput teh nya
Raiden:
Oh ya, apakah kamu masih ingat dengan ilmu yang kuajarkan padamu?
PFFTTHH!!!!
Raiden (Rin) seketika menyemburkan tehnya
Raiden (Rin):
I-ilmu yang mana Ibu....?
Raiden:
Jangan bilang kamu sudah melupakannya
Raiden (Rin):
Ti-tidak kok..aku masih mengingatnya
Raiden:
Kalau begitu buktikan
Raiden (Rin):
Ba-ba-baik.....
Tangan Raiden (Rin) gemetaran memegang cangkir tehnya
Raiden (Rin):
’Bagaimana ini? Aku belum menguasainya’
Raiden (Rin) mengambil sebuah lidi dari dalam pakaiannya, kemudian memasukannya kedalam mulut
Raiden:
Tembakan
Raiden (Rin):
TUH!!!
Lidi yang berada di mulut Raiden (Rin) terjatuh dari mulutnya
Raiden:
Kamu berani berbohong sekarang....?
Raiden (Rin):
Hiiiii....!!!
Raiden (Rin) melarikan diri secepat mungkin
Raiden:
Mau kemana kamu?!
Bzzttt!
Raiden memakai kecepatan kilat untuk mengejar Raiden (Rin)
Raiden (Rin):
Curang!
Bzzztt!!
Raiden (Rin):
’Terima kasih Suna!’
Raiden (Rin) dikejar terus oleh Raiden hingga ke tempat yang sangat jauh
Thump!
Azami:
Oya oya, seharusnya kamu membiarkan bagian terbaiknya terjadi
Castella:
Ya, seharusnya
Tap Tap Tap
Sara:
Loh, dimana nona Raiden?
Azami:
Dia sedang ada urusan dengan anaknya
Sara:
Ah, begitu ya
Sara membereskan cangkir teh milik Raiden (Rin)
Castella:
Apa tidak mau beristirahat dulu?
Sara:
Tidak, saya tidak ingin
Castella:
Ya ampun, sesekali beristirahat tidak ada salahnya bukan?
Sara:
Saya dulu pernah mencobanya, tapi malah menjadi gelisah dan tidak tenang
Castella:
Hmm~
Castella menggeleng-gelengkan kepalanya
Shuu....
Sebuah gerbang tiba-tiba muncul di dekat Castella
Castella:
Ada apa Arumi?
Arumi datang dengan wajah cemberut
Arumi:
Kedua Raiden itu mengganggu istirahatku
Castella:
Duhh..benar juga
Ctik!
Castella menjentikan jarinya dan seketika Raiden serta Raiden (Rin) muncul dihadapan mereka dalam keadaan terikat oleh sebuah tali
Castella:
Kalian berdua membuat keributan di wilayah kalian sendiri loh
Raiden:
Ma-maaf....
Arumi:
Apakah semua keturunan Rex petir memang sifatnya kekanak-kanakan?
Raiden:
Hei, kekanak-kanakan itu adalah sifat alami seseorang yang tidak dapat diubah tahu
Arumi:
Rupanya benar
Arumi pergi masuk ke gerbangnya
Castella:
Astaga, sifat kalian saling bertolak belakang
Raiden:
Biarlah, menjadi mertua yang cerewet juga tidak ada salahnya
Castella:
’Sifat kedua orang ini.......’
Jreng!
Raiden:
Uwah!! Kita dihukum!!
Raiden (Rin):
Suna, lepaskan Ibu!
Castella menggantung Raiden serta Raiden (Rin) pada tempat jemuran pakaian
Azami:
Bwahahahahaha......!
Castella:
Huff..meresahkan
Castella meninggalkan keduanya
Sara:
’Astaga’