
Raiden dan Castella akhirnya sampai di ruang makan. Castella terheran-heran dengan makanannya karena ini adalah kali pertamanya Ia mencicipi makanan luar wilayah Saxa
Raiden:
Apa? Makanannya tidak sesuai?
Castella:
Tidak tidak, bukan seperti itu Ibu. Aku tidak pernah melihat makanan ini sebelumnya
Raiden:
Ini adalah makanan khas Tonitru
Castella:
Tonitru? Apa itu nama daratan ini?
Raiden:
Ya, begitulah. Mari duduk makan
Mereka berdua duduk berhadapan di sebuah meja kecil
Plak
Raiden menyatukan kedua tangannya
Raiden:
Selamat makan!
Castella:
Hah?
Raiden:
Ini adalah budaya kami
Castella:
Oww....
Plak!
Castella:
Selamat makan!
Raiden mengambil sumpit dan mulai makan, sedangkan Castella masih bingung bagaimana cara memakan makanannya
Raiden:
’Dia tidak mengambil sumpitnya??’
Castella:
Humm.....
Castella:
Ibu, dimana sendoknya?
Blegg..
Raiden tersedak mendengarnya karena selama ini dia tidak tahu jika ada orang yang akan berkata seperti itu
Castella:
I-Ibu? Ibu tidak apa-apa?
Raiden mengulurkan jempolnya selagi tersedak makanannya. Tak lama kemudian Raiden akhirnya kembali normal
Glup..
Raiden:
Hehh....kami tidak makan menggunakan sendok
Raiden mengambil gelas berisi air dan meminumnya
Castella:
Jadi aku akan makan menggunakan batang kayu ini?
Pffttttt.....
Raiden tersedak lagi saat meminum air
Castella:
Ibu???
Raiden:
Memang benar jika itu terbuat dari kayu, tapi dia juga memiliki nama, yaitu sumpit
Castella:
Ah, jadi aku akan makan dengan sumpit ini?
Raiden:
Benar
Castella:
Seperti ini?
Castella menusuk salah satu makanan dan memakannya, wajah Raiden pun menjadi sangat terkejut
Raiden:
’Dia melakukannya dengan wajah yang polos’
Sara:
Nona Raiden?
Raiden:
Tak apa, aku sendiri yang akan melakukannya
Castella:
Apa aku melakukan kesalahan?
Raiden:
Sudah pasti, tapi tenang saja itu bukan masalah besar
Castella:
Tapi, kesalahan tetaplah kesalahan Bu
Raiden:
Karenanya kau akan menebusnya dengan berlatih menggunakannya
Castella:
Baiklah, mengingat aku disini untuk berlatih
Raiden:
’Latihanmu akan sangat susah’
Raiden:
Sara, tolong berikan dia sebuah sendok
Sara:
Dimengerti
Bzztt....
Sara menghilang dalam wujud kilat
Castella:
Hwaaaa.....apa itu??
Raiden:
Itu adalah cara kami berlari
Castella:
Tapi itu aneh!
Raiden:
Aneh karena kau baru pertama kali melihatnya
Raiden melanjutkan makannya. Tidak lama kemudian
Bzzttt.....
Sara kembali dengan membawa sebuah sendok di tangannya
Sara:
Silahkan
Castella:
Terima kasih
Castella akhirnya bisa mulai menghabiskan makanannya
Castella:
’Rasa makanannya unik’
(Mereka berdua menyelesaikan makannya)
Raiden:
Terima kasih makanannya
Castella:
Terima kasih makanannya
Sara pun membereskan meja makannya
Castella:
Selanjutnya apa Bu?
Raiden:
Baiklah, aku akan memberimu nama dahulu
Castella:
Tapi aku sudah memiliki nama, Castella
Raiden:
Tidak, ini adalah pemberian dariku
Castella:
Baiklah kalau begitu
Raiden:
Namamu adalah Reisuna. Rei berarti sinar, dan Suna dari kata Sunao yang berarti penurut
Castella:
Sepertinya tidak buruk, aku menerimanya
Castella:
Lalu, selanjutnya apa?
Raiden:
’Sebenarnya aku ingin menyegel kekuatanmu agar tidak membuat kekacauan di daratan ini’
Raiden:
’Tapi segel seperti apa yang harus kuberikan?’
Seketika Raiden membuat salinan dirinya di dalam pikirannya
Raiden (1):
Bagaimana jika kita menyegel perilakunya?
Raiden (2):
Tidak setuju, lebih baik kekuatannya saja
Raiden (1):
Bagaimana jika dia dalam bahaya?
Raiden (2):
Lalu bagaimana jika dia membuat kekacauan?
Raiden (1):
Akan lebih baik jika kita membatasinya agar tidak menghancurkan pulau ini
Raiden (2):
Tapi lebih baik jika dia tidak bisa menggunakan kekuatan batunya
Raiden (1):
Kita tanyakan saja pada dia
Raiden (2):
Baik
Kedua Raiden tersebut bersatu kembali
Raiden:
Selanjutnya adalah.....Sluurrrpppp.....
Raiden meminum minumannya selagi berpikir dengan cepat tentang bagaimana Ia akan meminimalisir kerusakan kedepannya
Raiden:
’Benar juga, kalau tidak salah Ibu meninggalkan batu itu padaku!’
Raiden menghabiskan minumannya
Raiden:
Selanjutnya adalah mengesahkan kehadiranmu dalam silsilah Rex petir
Castella:
Benarkah? Bagaimana caranya?
Raiden:
Ikut aku
Raiden berdiri dan berjalan ke tempat yang ingin Ia tuju selagi Castella mengikutinya.
Raiden berhenti di salah satu gerbang besar di kediamannya
Raiden:
Castella:
Hwahhh....besar sekali
Raiden:
Ayo masuk
Castella:
Ya
krrrrreeeekkkk.....
Raiden:
Maaf jika bunyinya cukup mengganggu, gerbang ini sudah cukup tua
Castella:
Belum pernah diperbaiki?
Raiden:
Sudah 30 tahun yang lalu
Castella:
Hormat pada tuan gerbang
Castella memberi hornat pada gerbang yang besar itu
Raiden:
Tolong jangan berbuat hal yang konyol
Castella:
Ah maaf
Raiden:
Ayo masuk
Raiden berjalan masuk hingga ke bagian tengah ruangan yang terdapat batu dengan tali yang diikat dibagian tengahnya
Raiden:
Ini dia
Castella terkejut melihatnya karena terdapat darah yang menutupi sebagian besar batu tersebut
Castella:
Da-darah apa ini Ibu?
Raiden:
Sudah tentu ini darah para leluhurku yang akan menjadi para leluhurmu juga
Castella:
Apa yang harus aku lakukan agar bisa menaruh darahku disini?
Raiden:
Berikan tanganmu
Castella mengulurkan tangannya
Shing!
Raiden menyayat telapak tangannya hingga darah mengucur deras
Castella:
Awww......
Rauden:
Tahanlah
Shing!
Raiden menyayat tangannya dan darah mengucur deras dari tangan mereka berdua. Raiden memegang tangan Castella yang berdarah dengan tangannya yang berdarah juga, lalu menyirami batu tersebut dengan darah mereka. Selagi Castella lengah, Raiden mengalirkan sebuah segel dari darah yang mengalir dari tangannya. Segelnya masuk ke seluruh tubuh Castella
Castella:
Apa ini? Tubuhku mati rasa
Raiden:
Diamlah
Castella menoleh ke arah Raiden dan melihat mata Raiden menyala-nyala, Castella pun menggunakan kekuatannya untuk mencari informasi tentang apa yang Ia alami dalam ingatan Raiden
Castella:
Ibu, kenapa kau memasang segel padaku?
Raiden:
Aku tidak ingin kau menyebabkan kekacauan disini nantinya
Castella:
Jika itu yang Ibu takutkan, aku akan menerima segel ini dan menuruti semua yang Ibu perintahkan padaku
Raiden:
’Dia tidak menolaknya meskipun dia mengetahuinya?’
’Raiden.....’
Raiden:
’Suara ini.....!’
’Percayalah pada anak itu seperti aku mempercayaimu’
Suara itu berasal dari roh Ibu Raiden sang Rex petir sebelum Raiden
Raiden:
’Aku tidak ingin tanah yang dilindungi oleh para pendahuluku rusak karena sebuah kelalaian’
’Raiden, lakukanlah apa yang Ibu katakan’
Raiden:
’Tapi Ibu’
’Lakukanlah....’
Suara tersebut tidak lagi muncul di pikiran Raiden dan Ia pun langsung berhenti melakukan penyegelan pada Castella
Brukk!
Castella terjatuh diatas batu tersebut
Raiden:
Oh tidak
Kekuatan membaca ingatan milik Castella aktif dan Ia membaca ingatan yang terdapat pada batu tersebut. Ia melihat wajah wajah para leluhur Rex petir dan tubuhnya langsung menciptakan salinan-salinan wujud para Rex petir terdahulu dalam bentuk patung-patung kecil dari batu
Raiden:
’I-ini?!’
Raiden mengamati ketujuh patung itu dan paham betul jika semuanya adalah para leluhurnya
Castella:
Ahhh......
Castella tak bisa bergerak, tubuhnya mati rasa dibuat Raiden
Raiden:
Suna! Maafkan aku!
Castella tak mampu menjawab dan menatap Raiden dengan pandangan kosong, Raiden mengangkat tubuhnya dan memeluk erat Castella
Raiden:
Ibu berjanji bahwa Ibu akan selalu percaya padamu, maafkan Ibu
Raiden menggunakan kekuatan penyembuhan dan mengubah darahnya menjadi obat penyembuh
Raiden:
Minum ini
Raiden meminumkan darahnya ke Castella
Castella:
Tidak..apa....aku paham......maksud Ibu
Raiden:
Tolong diamlah dulu, agar penyembuhanmu berlangsung cepat
Raiden terus meminumkan darahnya ke Castella
Raiden:
’Aku sudah keterlaluan padanya’
Raiden:
’Semua ini karena aku tidak percaya padanya’
Castella pun akhirnya bisa bergerak kembali, Ia bangkit duduk untuk mengembalikan kesadarannya sepenuhnya
Raiden:
Apa kau sudah merasa lebih baik?
Castella:
Sudah tidak apa
Raiden:
’Aku harus menebus kesalahanku’
Raiden:
Tubuhmu pasti lemas, aku akan membawamu pergi beristirahat di kamarmu
Castella:
Aku masih bisa bergerak, tolong jangan khawatir
Castella mencoba menggerakkan kakinya
Castella:
’Kenapa ini? Kakiku tidak merespon perintah dariku’
Castella mengangkat kakinya satu per satu dengan tangannya dan mencoba berdiri lagi
Raiden:
Ada apa?
Castella:
Aku tidak tahu, kakiku tidak mau menuruti perintah dariku
Raiden menyentuh kaki Castella
Raiden:
’Kakinya lumpuh!’
Raiden memucat setelah tahu jika kaki Castella lumpuh akibat dirinya
Castella:
Ada apa Ibu?
Raiden:
Ka-kakimu hanya tidak bisa bergerak saja, kakimu perlu istirahat
Castella:
Gawat, berarti aku tidak bisa menguasai elemen petir untuk beberapa waktu kedepan
Raiden:
Tidak akan lama
Raiden:
’Aku harap demikian’
Raiden:
Ibu akan menggendongmu sampai ke kamar, pegangan yang erat
Castella:
Ya, maaf aku merepotkan
Raiden:
Tidak apa
Raiden:
’Kau masih bisa meminta maaf setelah aku melukaimu, kau terlalu baik Suna’
Raiden menggendong Castella hingga ke kamarnya, kemudian membaringkannya
Raiden:
Berbaringlah dulu disini untuk sementara waktu
Castella:
Ya
Raiden mengelus kepala Castella dengan lembut
Raiden:
’Tidurlah!’
Castella pun tertidur, Raiden memberi Castella tidur paksa agar Ia tidak merasakan kakinya yang lumpuh
Raiden:
Aku akan meminta dia menyembuhkan kakinya
Raiden pergi keluar dari kamar Castella
Raiden:
’Azami, aku memerlukan bantuanmu’
Huuuuuffffffff.......
Angin berhembus lembut menandakan kedatangan Azami
Azami:
Ada apa memanggilku Rin?