
Azami:
Ada apa memanggilku Rin?
Raiden:
Bantu aku mengobati anak ini
Azami menengok kedalam kamar Castella
Azami:
Ada apa dengannya?
Raiden menceritakan kepada Azami apa saja yang telah Ia lakukan pada Castella
Azami:
Kamu tidak berubah ya Rin
Raiden:
Bantulah aku menyembuhkan kakinya, Azami
Azami:
Baiklah, tetapi kamu harus menyediakan
bahan-bahan yang aku butuhkan
Raiden:
Akan kulakukan!
Azami:
Kalau begitu tunggu sebentar
Azami membisikkan bahan-bahannya kepada Raiden
Raiden:
Ta-tapi itu tidak mungkin!
Azami:
Hanya itulah yang bisa menyembuhkannya
Raiden kebingungan harus bagaimana
Azami:
Penuhilah kata-katamu, Rin
Raiden:
Aku akan mengusahakannya secepat mungkin
Azami:
Panggilah aku jika bahan-bahannya sudah siap
Hhhhuuuusssshhhhh......
Azami menyatu dengan angin dan menghilang dari pandangan Raiden
Raiden:
Huft..susah juga
Raiden:
’10 tetes air mata yang murni, 7 helai rambut, penyesalan, kasih sayang, hati yang tulus, dan sebuah kalung’
Raiden:
Biarlah, aku akan berusaha mempersiapkannya!
Raiden mulai menyiapkan bahan-bahannya, Ia menampung air matanya yang mengalir saat membaca novel romansa, mencabut 7 helai rambutnya, dan membeli sebuah kalung di hari itu juga
Raiden:
Sudah siap!
Raiden:
’Azami, bahannya sudah siap, kemarilah’
Seketika Azami muncul di hadapannya
Raiden:
Ini dia bahan-bahannya
Azami melihat bahan-bahannya dan ekspresi wajahnya tidak menunjukkan bahwa
bahan-bahan yang diberikan sudah tepat
Raiden:
Ada apa Azami?
Azami:
Rin, apa kamu tidak bisa menuruti hatimu?
Raiden:
Apa maksudnya?
Azami:
Lihatlah air mata ini, Ia tidak murni,
Azami:
Rambut ini hanya menunjukkan keegoisan
Azami:
Dan kalung ini, kamu tidak membuatnya menjadi hal yang berwarna
Azami:
Serta perasaan yang dibutuhkan tidak berada dalam dirimu
Raiden:
Apa kita tidak bisa langsung melakukannya?
Azami:
Apa kamu ingin melihat hasilnya?
Azami menyatukan kedua telapak tangannya
Nguungg....
Azami memanggil sebuah bola kristal. Azami memegangnya dan menyatukan semua
bahan-bahan yang disiapkan oleh Raiden
Azami:
Perlihatkanlah pada kami hasilnya
Bola kristal tersebut membawa Azami dan Raiden ke dunia paralel yang memperlihatkan Castella sedang merintih kesakitan hingga
kejang-kejang
Castella:
Ibu!! Sakit!!!! Rasanya Sakit!!!!!!
Castella:
Aaagggghhhhhh!!!!!!
Wajah Raiden pucat pasi dan ketakutan melihatnya
Azami:
Lihatlah, itu adalah hasil ketidakpedulianmu dan tidak ada rasanya rasa bersalah dari dalam dirimu
Azami:
Lihatlah dia, merintih kesakitan karena orang yang Ia percayai dan Ia sayangi
Azami:
Ia menunjukkan kesetiaannya padamu, dan kau membalasnya dengan penderitaan
Azami:
Ia ingin seorang Ibu, kau memberinya penyakit
Azami:
Ia ingin berkembang, kau membuatnya tumbang
Azami terus-menerus memberikan kata-kata yang menusuk kepada Raiden, alhasil Raiden semakin merasa bersalah. Raiden menangis dan rambutnya mulai rontok, Ia mengingat kembali apa yang Ia alami dengan Ibunya
Raiden:
Tidakkkk.....aku tidak ingin melakukannya, maafkan aku!!
Azami:
’Ini saat yang tepat’
Azami mengembalikan dia dan Raiden ke kenyataan tanpa disadari oleh Raiden
Azami:
’Seharusnya ini sudah cukup untuk sebuah kalung’
Azami menyatu dengan udara dan membawa Castella ke tempat Raiden berada
Azami:
’Mulailah pengobatannya’
Azami membawa jiwa Raiden dan Castella ke sebuah ruang yang hampa dan kosong, kemudian mempertemukan mereka berdua
Raiden:
Maaf..maafkan aku! Aku tidak pantas untukmu!
Raiden masih menangis didalam ruangan tersebut, Ia tidak sadar jika jiwa Castella melihat semua yang Ia rasakan dan Ia pikirkan
Castella:
Ibu.....
Tangisan Raiden mengecil saat mendengar suara Castella
Raiden:
Suna, apa itu kamu?
Raiden mengelap air matanya
Castella:
Ya, ini aku
Raiden melihat dengan jelas bahwa itu adalah Castella, matanya berkaca-kaca selagi berjalan mendekati Castella
Castella:
Ibu berkunjung kedalam mimpiku ya
Castella mengatakannya dengan polos dan ceria
Raiden:
Kamu..kamu....masih tidak mengerti apa yang Ibu maksud
Castella:
Aku tahu kenapa Ibu menangis, Ibu pasti kesepian kan?
Air mata Raiden pun tak tertahankan dan Ia langsung memeluk Castella selagi menangis tersedu-sedu
Raiden:
Suna! Maafkan Ibumu ini Suna!! Ibu telah menyakitimu! Ibu tidak memberikanmu kasih sayang seorang Ibu!!
Castella membalas pelukannya Raiden dengan kata-kata yang lembut
Castella:
Aku tidak mengerti apa yang Ibu katakan,
aku sama sekali tidak marah pada Ibu
Castella:
Ibu juga tidak melakukan kesalahan
Castella:
Berhentilah menangis Ibu
Castella memeluk Raiden
Castella:
Aku menyayangimu Ibu
TIIINNGGGG!!!!
Mereka berdua kembali ke kenyataan. Castella masih terbaring dan Raiden masih duduk ditempatnya, sedangkan Azami sedang sibuk dengan obat yang Ia sedang racik
Azami:
Selesai.....
Azami menyerahkan obat tersebut pada Raiden
Azami:
Minumkanlah ini padanya
Raiden menerimanya kemudian meminumkannya kepada Castella
Castella:
Blegh..pahit!
Castella tersadar dan kakinya sembuh setelah diminumkan obat buatan Azami
Raiden:
Syukurlah kamu sudah sembuh Suna!
Castella:
Ehh..? Ibu? Rambutmu berubah menjadi putih?
Azami:
Ini adalah dampak dari pengobatannya, kalian sudah 4 hari berada disana
Castella:
Azami:
Benar, 4 hari lamanya kekuatannya terpakai
terus-menerus
Raiden:
Seburuk itukah penampilanku sekarang, Azami?
Azami:
Tidak juga Rin
Castella:
Lalu, bagaimana cara mengobati Ibu?
Azami:
Itu mustahil untuk ku mengobati seorang Rex
Castella:
Apa? Kenapa?
Azami:
Kekuatan Rex hanya bisa dipulihkan oleh kekuatan Rex yang sama
Castella:
Apa bisa dengan kekuatan Rex yang berbeda elemen?
Azami:
Aku tak paham maksudmu, tapi jika dipikirkan kembali, itu mustahil
Castella:
Apa alasannya?
Azami:
Inti kekuatannya memiliki elemen berbeda
Castella:
Benar juga
Castella menjadi murung mendengarnya
Raiden:
Sudah, tidak apa, anggap saja ini adalah caraku menebus kesalahanku
Castella:
Tidak akan! Aku akan segera mencari caranya!
Azami:
Bagaimana kau akan melakukannya?
Castella:
Aku bisa meniru kekuatannya, aku hanya perlu meniru kekuatannya agar inti kekuatan elemen petir ku bisa sama seperti milik Ibu
Azami:
Kau bisa meniru kekuatan serta teknik elemen orang lain?
Castella:
Benar!
Azami:
Kalau begitu tidak ada yang bisa kau lakukan, dia adalah Rex petir terakhir
Castella:
Tidak, aku pasti akan mencari cara
Raiden:
Azami benar, aku Rex petir terakhir yang mengingat semua teknik Rex petir
Raiden:
Ingatan sangat sulit untuk dibaca
Raiden:
Meski ada saksi sekalipun, akan susah untuk digambarkan
Castella:
Itu dia! Ingatan!
Castella teringat saat Ia berada di ruangan yang merupakan tempat para Rex petir menaruh darah mereka
Castella:
Batu itu menyimpan darah para leluhur Rex petir terdahulu
Azami:
Apa yang bisa kau lakukan dengan benda itu?
Castella:
Aku bisa membaca ingatan dari sebuah batu
Azami:
Batu itu hanya mengingat saat para Rex terdahulu menempelkan darah mereka
Castella:
Tapi darah itu sudah menempel, dan dari darah itu juga aku bisa melihat semuanya
Azami:
Aku tidak percaya pada apa yang kau lakukan, tapi itu adalah cara terakhir yang kau bisa lakukan
Castella:
Aku segera kesana
Castella berlari keluar ruangan dan pergi ke ruangan leluhur Rex petir
Azami:
Jika anak itu bisa melakukannya, maka keabadian sudah tentu menjadi milikmu
Raiden:
Apa maksudmu Azami?
Azami:
Seorang Rex wafat saat kekuatannya diserahkan pada Rex selanjutnya
Azami:
Tapi dengan bantuan anak itu, kekuatan Rex bisa digandakan
Raiden:
Aku tidak peduli dengan keabadian yang kamu maksud Azami
Raiden:
Aku sudah menemukan tujuan hidupku
Raiden:
Hidup bersamanya selayaknya seorang anak dan Ibu, bagiku sudah lebih dari cukup
Azami:
Heee....jadi Rin yang kukenal sudah mempunyai seorang anak?
Azami:
Dimana Rin yang kukenal dulu?
Raiden:
Aku tetaplah Rin yang kamu kenal, namun saat ini, Rin itu sudah mempunyai anak
Azami:
Haha..menarik menarik
Raiden:
Ngomong-ngomong, bisakah kau ajarkan kekuatan klan mu?
Azami:
Kekuatan klan ku?
Raiden:
Ya, klan cahaya, klan yang bisa membuat kekuatan elemen tak berkutik
Azami:
Untuk apa?
Raiden:
Suna akan menjelajahi wilayah lain, sudah pasti Ia akan bertemu dengan Rex lain sepertiku
Raiden:
Aku tidak ingin dia terluka
Azami:
Tapi itu mustahil, kekuatan dari klan ku diteruskan turun temurun dengan garis darah
Raiden:
Tapi Suna bisa meniru kekuatan Rex tanah dengan sempurna
Azami:
Rex tanah? Jadi dia adalah utusannya?
Raiden:
Tidak, Suna hanya seorang anak kecil, Ia tidak diutus oleh siapapun
Azami:
Kalau begitu, gempa yang terjadi beberapa hari yang lalu adalah ulahnya kan?
Raiden:
Benar
Azami:
Jika dia menguasai elemen tanah, maka kekuatan klan ku tak bisa melawannya
Raiden:
Mengapa demikian?
Azami:
Kekuatan klan ku hanya bisa menahan kekuatan elemen yang tidak memiliki wujud
Azami:
Tanah dan air memiliki wujud, maka jika aku melawan pengguna elemen tersebut, aku akan kalah telak dibuatnya
Raiden:
Mungkin karena itulah klanmu adalah pelayan para Rex petir
Azami:
Bagai kilat senja
Raiden:
Dan bagai petir tunggal
”Ketangkasan sikap dan kuat bunyi suaranya”
”Ahahahahaha.....”
Raiden dan Azami tertawa
Raiden:
Sebuah keberuntungan menjadi sahabatmu, Azami
Azami:
Dan sebuah kehormatan bisa berada di sisimu, Raiden
Castella:
Aku kembali!
Castella datang kembali dengan wujud yang berbeda, rambut dan mata yang berwarna ungu serta lingkaran petir di punggungnya
Castella:
Aku berhasil mendapatkannya
Castella berjalan mendekat ke arah Raiden, Castella membuat bayangan saat Ia berjalan
Azami:
Aura ini begitu kuat, kekuatan Rin sekalipun tak pernah seperti ini
Castella:
Aku mendapatkannya dari leluhur pertama
Raiden:
Luar biasa bukan, Azami
Azami:
Kekuatan ini akan kupindahkan kepada Rin dengan konsekuensi kau tidak dapat menguasai elemen petir
Castella:
Lakukanlah