Chaction: Chaos and Destruction

Chaction: Chaos and Destruction
Jiwa yang terlepas



Sesudahnya, Celene segera pergi mencari Aiwaka dengan mengikuti jejak tanah yang layu. Beberapa lama Ia mengikuti jejaknya, sampailah Ia di depan gerbang reruntuhan yang menuju ke dalam ruang bawah tanah. Celene segera memasuki reruntuhan itu


Celene:


’Gelap sekali disini’


Celene terus berjalan masuk


Celene:


Aiwaka? Dimana kau?


Suara Celene bergema di seluruh reruntuhan


Aiwaka:


Untuk apa kau mencariku?


Suara Aiwaka menggelegar di seluruh reruntuhan, sepasang mata kuning yang bersinar di kegelapan menatapnya dari kejauhan. Celene pun kembali merasakan aura Aiwaka yang semakin mencekam setiap Ia melangkah maju ke dalam reruntuhan


Celene:


’Bagaimana ini?’


Aiwaka:


Cepat katakan apa tujuanmu!


Suara Aiwaka kembali memenuhi reruntuhan dan kini suaranya sampai membuat gelombang yang kuat sekali. Keberanian Celene pun menciut, Ia kembali ketakutan hingga tak bisa menggerakan tubuhnya sedikitpun


Celene:


’Bagaimana caraku menyampaikan permintaan maaf mereka?’


Aiwaka:


Permintaan maaf? Tiada gunanya


Aiwaka pun menghilang dalam kegelapan, reruntuhan tersebut menghempas Celene dan mengeluarkannya secara paksa


Celene:


Akh!


Brrmmmm......


Reruntuhan tersebut runtuh dan rata dengan tanah, Aiwaka memasang kekuatannya untuk mengunci reruntuhan itu dari dunia luar


Celene:


’Aku harus meminta pertolongan Rex api’


Celene pun segera pergi dari reruntuhan tersebut dan mencari Rex api


Crack!!!


Aiwaka membuka ruangan rahasia yang terdapat di reruntuhan itu


Aiwaka:


’Ini adalah gelombang pertarungan terakhir’


Aiwaka mengalirkan kekuatannya pada sebuah pilar batu


Ngiiiinggggg......


Pilar tersebut menerangi ruangan yang gelap gulita, nampaklah puluhan ribu golem yang bercahaya kuning kecoklatan dari tubuh mereka


Aiwaka:


Lindungilah umat manusia!


Aiwaka:


Ini adalah perintah!


Golem-golem tersebut hidup dan mulai membuat barisan untuk bersiap menuju ke medan perang dengan guncangan


Aiwaka:


’Sudah saatnya’


Aiwaka memisahkan jiwanya dari tubuhnya dan menaruh jiwanya dalam pilar batu tersebut. Tubuh Aiwaka serta puluhan ribu golem tersebut terhubung dengan jiwanya.


Sementara itu, Celene berlari dan mendobrak masuk kedalam ruangan Eios


Brakkk!!!!!


Eios:


Hwoa..ada apa?


Celene:


Tuan, ini gawat, segera ikut saya!


Eios:


Phoenix!


Swuuuusshhhhh!!!!!


Dalam sekejap Celene sudah berada diatas Phoenix bersama dengan Eios


Eios:


Katakan kita harus kemana


Celene:


Segera pergi ke bagian pesisir!


Phoenix pun melaju kencang ke bagian pesisir Saxa


Eios:


’Bagian pesisir ya? Ada masalah apa disana?’


Mereka pun sampai di bagian pesisir


Celene:


Disana!


Celene menunjuk ke arah Nechryn dan Vigndr


Eios:


Eh? Rex air dan Rex es? Apa yang terjadi pada mereka?


Celene:


Bantu saya melepaskan mereka dulu


Eios:


Baik, akan kucoba sebisa mungkin


Eios pun berjalan mendekat ke Vigndr dan Nechryn


Eios:


Tunggu sebentar, beri aku waktu untuk memeriksa batunya


Eios memanggil keluar pedangnya dan menempelkan ujungnya pada batu yang mencengkram Vigndr


Eios:


Eios:


Kau pergi menjauh dari sini


Celene:


B-baik


Celene segera berlindung dibalik Phoenix


Eios:


Rex es, keluarkan udara dingin milikmu sekuat mungkin yang kau bisa


Vigndr:


Aku mengerti


Pedang Eios berubah menjadi sebuah pedang satu tangan


Ting!


Pedangnya dihujamkan ke dalam batu yang mencengkram Vigndr


Eios:


’Sesuai dugaanku, batu yang kokoh pun memiliki celahnya’


Eios:


Sekarang


Vigndr pun mengeluarkan udara yang sangat dingin dan Eios mengalirkan panas yang sangat kuat kepada batu yang mencengkram Vigndr


Crack! Crack! Crack!


Crash!!!


Batunya pun hancur


Celene:


’Luar biasa, bahkan dia bisa menghancurkannya!’


Vigndr:


Terima kasih Rex api


Eios:


Ya, sekarang bantu aku menghancurkan batu yang satunya


Eios:


Rex air, pegang bahuku sekuat mungkin


Nechryn:


Ya


Nechryn memegang bahu Eios dengan sekuat tenaga


Eios:


Mulai


Vigndr mengeluarkan lagi udara dingin, Eios pun mengalirkan panas dari dalam tubuhnya kepada Nechryn serta batu tersebut


Ctash!!!


Batunya hancur


Nechryn:


Terima kasih.....


Eios:


Jadi? Apa yang menyebabkan kalian berdua sampai seperti ini?


Nechryn dan Vigndr pun menceritakan apa yang mereka perbuat


Eios:


Kalian tahu? Itu sudah kurang ajar namanya


Nechryn:


Ya, aku menyesali itu


Eios:


Sekarang tak ada gunanya menyesal


Eios:


Hei penyihir, kau tahu dimana Rex batu?


Celene:


Percuma, dia mengunci total tempat itu


Eios:


Seberapa kuat?


Celene:


Sangat kuat


Eios:


Baiklah, kita tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu suasana hatinya membaik


Eios:


Kalian kembalilah ke wilayah kalian, jangan buat para prajurit kalian lengah


”Ya”


Nechryn dan Vigndr pun kembali ke wilayah mereka masing-masing


Eios:


Ayo kembali


Celene:


Saya akan tinggal disini dulu


Eios:


Baiklah, aku pergi


Celene:


Ya, terima kasih banyak tuan


Eios pergi dengan Phoenixnya meninggalkan Celene sendirian


Celene:


’Batu ini akan kuteliti’


Celene segera menyiapkan sihirnya untuk meneliti batu yang diciptakan Aiwaka