
Sesudahnya, Celene segera pergi mencari Aiwaka dengan mengikuti jejak tanah yang layu. Beberapa lama Ia mengikuti jejaknya, sampailah Ia di depan gerbang reruntuhan yang menuju ke dalam ruang bawah tanah. Celene segera memasuki reruntuhan itu
Celene:
’Gelap sekali disini’
Celene terus berjalan masuk
Celene:
Aiwaka? Dimana kau?
Suara Celene bergema di seluruh reruntuhan
Aiwaka:
Untuk apa kau mencariku?
Suara Aiwaka menggelegar di seluruh reruntuhan, sepasang mata kuning yang bersinar di kegelapan menatapnya dari kejauhan. Celene pun kembali merasakan aura Aiwaka yang semakin mencekam setiap Ia melangkah maju ke dalam reruntuhan
Celene:
’Bagaimana ini?’
Aiwaka:
Cepat katakan apa tujuanmu!
Suara Aiwaka kembali memenuhi reruntuhan dan kini suaranya sampai membuat gelombang yang kuat sekali. Keberanian Celene pun menciut, Ia kembali ketakutan hingga tak bisa menggerakan tubuhnya sedikitpun
Celene:
’Bagaimana caraku menyampaikan permintaan maaf mereka?’
Aiwaka:
Permintaan maaf? Tiada gunanya
Aiwaka pun menghilang dalam kegelapan, reruntuhan tersebut menghempas Celene dan mengeluarkannya secara paksa
Celene:
Akh!
Brrmmmm......
Reruntuhan tersebut runtuh dan rata dengan tanah, Aiwaka memasang kekuatannya untuk mengunci reruntuhan itu dari dunia luar
Celene:
’Aku harus meminta pertolongan Rex api’
Celene pun segera pergi dari reruntuhan tersebut dan mencari Rex api
Crack!!!
Aiwaka membuka ruangan rahasia yang terdapat di reruntuhan itu
Aiwaka:
’Ini adalah gelombang pertarungan terakhir’
Aiwaka mengalirkan kekuatannya pada sebuah pilar batu
Ngiiiinggggg......
Pilar tersebut menerangi ruangan yang gelap gulita, nampaklah puluhan ribu golem yang bercahaya kuning kecoklatan dari tubuh mereka
Aiwaka:
Lindungilah umat manusia!
Aiwaka:
Ini adalah perintah!
Golem-golem tersebut hidup dan mulai membuat barisan untuk bersiap menuju ke medan perang dengan guncangan
Aiwaka:
’Sudah saatnya’
Aiwaka memisahkan jiwanya dari tubuhnya dan menaruh jiwanya dalam pilar batu tersebut. Tubuh Aiwaka serta puluhan ribu golem tersebut terhubung dengan jiwanya.
Sementara itu, Celene berlari dan mendobrak masuk kedalam ruangan Eios
Brakkk!!!!!
Eios:
Hwoa..ada apa?
Celene:
Tuan, ini gawat, segera ikut saya!
Eios:
Phoenix!
Swuuuusshhhhh!!!!!
Dalam sekejap Celene sudah berada diatas Phoenix bersama dengan Eios
Eios:
Katakan kita harus kemana
Celene:
Segera pergi ke bagian pesisir!
Phoenix pun melaju kencang ke bagian pesisir Saxa
Eios:
’Bagian pesisir ya? Ada masalah apa disana?’
Mereka pun sampai di bagian pesisir
Celene:
Disana!
Celene menunjuk ke arah Nechryn dan Vigndr
Eios:
Eh? Rex air dan Rex es? Apa yang terjadi pada mereka?
Celene:
Bantu saya melepaskan mereka dulu
Eios:
Baik, akan kucoba sebisa mungkin
Eios pun berjalan mendekat ke Vigndr dan Nechryn
Eios:
Tunggu sebentar, beri aku waktu untuk memeriksa batunya
Eios memanggil keluar pedangnya dan menempelkan ujungnya pada batu yang mencengkram Vigndr
Eios:
Eios:
Kau pergi menjauh dari sini
Celene:
B-baik
Celene segera berlindung dibalik Phoenix
Eios:
Rex es, keluarkan udara dingin milikmu sekuat mungkin yang kau bisa
Vigndr:
Aku mengerti
Pedang Eios berubah menjadi sebuah pedang satu tangan
Ting!
Pedangnya dihujamkan ke dalam batu yang mencengkram Vigndr
Eios:
’Sesuai dugaanku, batu yang kokoh pun memiliki celahnya’
Eios:
Sekarang
Vigndr pun mengeluarkan udara yang sangat dingin dan Eios mengalirkan panas yang sangat kuat kepada batu yang mencengkram Vigndr
Crack! Crack! Crack!
Crash!!!
Batunya pun hancur
Celene:
’Luar biasa, bahkan dia bisa menghancurkannya!’
Vigndr:
Terima kasih Rex api
Eios:
Ya, sekarang bantu aku menghancurkan batu yang satunya
Eios:
Rex air, pegang bahuku sekuat mungkin
Nechryn:
Ya
Nechryn memegang bahu Eios dengan sekuat tenaga
Eios:
Mulai
Vigndr mengeluarkan lagi udara dingin, Eios pun mengalirkan panas dari dalam tubuhnya kepada Nechryn serta batu tersebut
Ctash!!!
Batunya hancur
Nechryn:
Terima kasih.....
Eios:
Jadi? Apa yang menyebabkan kalian berdua sampai seperti ini?
Nechryn dan Vigndr pun menceritakan apa yang mereka perbuat
Eios:
Kalian tahu? Itu sudah kurang ajar namanya
Nechryn:
Ya, aku menyesali itu
Eios:
Sekarang tak ada gunanya menyesal
Eios:
Hei penyihir, kau tahu dimana Rex batu?
Celene:
Percuma, dia mengunci total tempat itu
Eios:
Seberapa kuat?
Celene:
Sangat kuat
Eios:
Baiklah, kita tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu suasana hatinya membaik
Eios:
Kalian kembalilah ke wilayah kalian, jangan buat para prajurit kalian lengah
”Ya”
Nechryn dan Vigndr pun kembali ke wilayah mereka masing-masing
Eios:
Ayo kembali
Celene:
Saya akan tinggal disini dulu
Eios:
Baiklah, aku pergi
Celene:
Ya, terima kasih banyak tuan
Eios pergi dengan Phoenixnya meninggalkan Celene sendirian
Celene:
’Batu ini akan kuteliti’
Celene segera menyiapkan sihirnya untuk meneliti batu yang diciptakan Aiwaka