
Setelah saling bertemu, Sara memerintahkan seluruh pekerja untuk pulang lebih awal
Raiden:
Ayo semuanya, kita makan malam dulu
Raiden:
Sara, semuanya sudah siap?
Sara:
Tentu sudah
Raiden:
Bagus, ayo
Semuanya pergi ke ruang makan untuk menyantap seluruh hidangan yang ada dan saling berbagi cerita. Gelak tawa dan suasana yang bahagia memenuhi seluruh ruang makan. Setelah selesai, Arumi dan Sara pergi bersama menuju ke kota untuk berbelanja. Sedangkan, Castella menghabiskan waktunya bersama dengan Raiden dan Azami
Raiden:
Sebenarnya apa yang kamu gunakan untuk mengobati Sara?
Castella:
Aku memakai kekuatan pohon besar itu dan mengekstraknya agar bisa beradaptasi dan memulihkannya
Castella:
Kurang lebih seperti itu
Castella:
Ngomong-ngomong, apa kalian punya obat atau sesuatu yang bisa menekan nafsu birahi
Raiden:
Eh? Kenapa?
Castella:
Ahh..sebenarnya ini untuk Arumi
Azami:
Ada apa dengannya?
Castella:
Dia baru saja mengalami fase jatuh cinta seorang gadis
Raiden:
Itu pasti berat
Azami:
Benar, nafsu birahi yang sangat tinggi dapat membuat seseorang tidak dapat mengendalikan dirinya
Castella:
Ya karena itulah aku bertanya apakah kalian punya sesuatu yang bisa menahannya untuk sementara waktu?
Castella:
Aku tidak ingin Arumi merasa terbebani oleh itu
Azami:
Ehhh.....
Raiden:
Cara terbaik saat ini adalah menjauh darinya
Castella:
Tidak tidak, aku ingin cara yang baik dan benar
Raiden:
Kalau begitu kapan pernikahan kalian?
Castella:
Kami berniat melaksanakannya pada malam bulan purnama
Azami:
Eh?! Itu sebentar lagi!
Castella:
Tenang saja semua persiapannya sudah selesai dan undangan telah dikirimkan keseluruh wilayah
Raiden:
Berarti tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi
Castella:
Seharusnya begitu, tapi siapa yang akan menjadi wali bagi Arumi?
Raiden:
Kalau dari hubungan sosialnya, Sara adalah orang yang tepat untuknya
Castella:
Ehmm...akan kupikirkan
Suasana menjadi hening selama beberapa saat
Castella:
Bagaimana jika kupanggil roh orang tuanya saja?
Raiden & Azami:
Eh?!
Castella:
Ide buruk, lupakan
Raiden:
Tidak! Itu ide cemerlang!
Azami:
Aku ingin tahu bagaimana caramu melakukannya!
Castella:
Ehh...?
Castella:
’Dua orang ini selalu saja’
Castella:
Tapi kalian tidak punya kewenangan atas itu
Azami:
Ayolah, aku hanya ingin bertemu bibi Raiden sebelumnya dan juga Quyu
Castella:
Ha?
Azami:
Mereka berdua itu generasi sebelum kami loh
Raiden:
Benar, setidaknya biarkan nenekmu melihatmu
Castella:
’Bisa habis aku ditertawai oleh Rex terdahulu kalau mereka tahu aku dianggap sebagai anak kecil’
Raiden:
Bolehkan?
Castella:
’Duhh..bagaimana ini?’
Ctash!
Tiba-tiba sebuah ingatan terlintas di pikirannya
”Halo yang disana”
Castella diperlihatkan wajah seseorang
Castella:
’Wajah itu mirip dengan Ibu, dia pasti Rex petir generasi sebelumnya’
Raiden:
Siapa namamu?
Castella diperlihatkan sesosok yang tidak asing baginya
Castella:
’Itu Sara?!’
Sara:
Aku Sara
Raiden:
Sara, apa yang kamu lakukan disini?
Sara:
Ayah dan Ibu tidak pernah kembali ke rumah, jadi aku selalu mengambil buah yang ada di gunung ini untuk bertahan hidup
Raiden:
Loh? Orang tuamu kemana?
Sara:
Orang-orang bilang kalau mereka masuk ke dalam lubang yang sangat dalam dan tidak bisa keluar dari sana
Raiden:
Ah, begitu ya
Sara:
Memangnya bibi sedang apa disini?
Raiden:
Bibi hanya sedang berjalan-jalan
Sara:
Ohh..
Raiden:
Rin, kemarilah
Raiden (Rin):
Ada apa Ibu?
Raiden:
Dia adalah saudaramu
Sara:
Eh...?
Raiden (Rin):
Benarkah?! Siapa namanya?!
Sara:
A-aku Sara
Raiden:
Senang bertemu denganmu Sara! Namaku Rin!
Sara:
Se-senang bertemu denganmu juga
Raiden:
Ayo kita pulang
Sara:
Tapi....
Raiden:
Tidak apa, ayo
Sara:
Shuu....
Ingatan tersebut terhenti
Castella:
Ugh...
Raiden:
Suna? Suna?
Castella:
Ha?
Castella membuka matanya
Castella:
Eh?!
Raiden:
Ahh..dia bangun!
Raiden (Rin):
Dia lucu kan Bu?
Raiden:
Ya, benar
Castella:
Loh?! Bagaimana mungkin anda bisa disini?!
Raiden:
Bukankah kamu yang menarik ku keluar?
Castella:
A-aku tidak ingat
Raiden:
Ya ampun, kamu terlalu polos sepertinya
Castella:
Ugh....
Azami:
Bibi Raiden, nama anak ini adalah Suna
Raiden:
Eh..? Agak aneh memanggil Lord of Light hanya dengan namanya
Raiden (Rin):
Ibu tahu dari mana?
Raiden:
Kisahnya sudah tersebar luas di alam sana
Raiden (Rin):
Hwahh..!
Raiden:
Tapi jujur saja Ibu tidak tahu kalau Lord of Light adalah seorang anak kecil yang diasuh olehmu
Raiden (Rin):
Hehe..
Castella:
’Sifat Ibu pun menjadi seperti anak-anak’
Raiden:
Jadi...ehmm....
Raiden (Rin):
Suna, Ibu
Castella:
Ahh..tidak apa, anda bisa memanggil saya dengan nama saja
Raiden:
Ahh..baiklah
Raiden:
Uhum..sebenarnya ada apa aku dipanggil kemari?
Castella:
Aku sendiri tidak tahu, mungkin karena anak dan ’keponakan’ anda mendesak saya
Raiden:
Oh ya....?
Mata Raiden berubah menjadi ganas
Raiden (Rin):
I-Ibu...?!
Azami:
B-bukan salahku...!
Raiden:
Kalian....!
Raiden hendak memberikan hukuman pada Raiden (Rin) dan Azami
Castella:
T-tenanglah!
Raiden:
Hmm....
Raiden:
Maafkan anak dan ’keponakan’ ku ini
Castella:
Bukan masalah, itu sudah menjadi ciri khas mereka
Raiden:
Ya benar
DRAP! DRAP! DRAP! DRAP!
Sara:
Ternyata benar!!!
Raiden:
Hm?
Brukk!!!
Sara bersujud kepada Raiden
Sara:
Lama tidak jumpa nona Raiden!
Raiden:
Rambut ini....
Raiden:
Sara?
Sara bangkit
Sara:
Benar, saya adalah anak yang anda asuh dulu
Raiden:
Wahh...! Kamu sudah besar dan jadi gadis yang cantik ya
Sara:
I-ini semua berkat anda
Raiden:
Ya ampun...sudah lama tidak bertemu pun masih saja begitu formal
Raiden:
Panggil saja aku dengan sebutan ’Ibu’
Sara:
Ehh..itu agak aneh rasanya
Tap tap tap tap
Arumi:
Hwah! Ada satu lagi Raiden yang muncul
Raiden:
He? Rex kehidupan? Apa yang kamu lakukan disini?
Arumi:
Saya berkunjung bersama Lord of Light kemari karena anak anda dan ’saudarinya’ merindukan kehadirannya
Raiden:
Hee...?
Raiden (Rin):
Ibu, perkenalkan, dia ini calon menantu ku
Raiden:
HAAA?!
Arumi:
Begitulah
Raiden:
Tapi bagaimana mungkin?!
Castella:
Ahh..tenanglah, kami sudah saling sepakat
Raiden:
I-ini benar-benar mengejutkanku
Raiden:
Lord of Light sebagai cucu angkat, lalu Rex kehidupan sebagai calon menantu dari anak ku
Arumi:
Maaf saja, tapi aku lebih tua dari kalian semua yang ada disini
Raiden:
He?
Arumi:
Aku mantan jenderal perang Abyss sekitar beberapa ribu tahun yang lalu
Raiden:
Ahh..aku tidak tahu lagi harus bicara apa
Castella:
Ahaha....
Suasananya menjadi rumit