
”Aku pergi dari Korapolas setelah selesai mempelajari cara kerja inti elemen dan pergi ke wilayah Saxa yang merupakan wilayah Rex batu, aku mempelajari ilmu geologi disana dan berhasil mengembangkan ilmu kehidupan.
Ilmu kehidupan adalah ilmu yang menguasai kehidupan makhluk yang berada di tanah, yaitu tumbuhan. Ilmu ini sudah kugunakan sebagai caraku bertahan hidup selama ini, aku menumbuhkan tanaman yang bisa dimakan.
Setelah selesai dari wilayah Saxa, aku pergi ke wilayah Rex angin yaitu wilayah Viestavas, wilayah itu terkunci oleh arus angin yang kuat sekali, aku mencari tahu cara memasukinya wilayah tersebut. Beberapa hari lamanya aku berjalan, aku sampai di wilayah baru yang sangat dingin, aku melakukan pengumpulan informasi hingga akhirnya aku mengetahui jika terlahir Rex elemen baru yaitu Rex es yang dimana hasil dari gabungan kekuatan angin dan air. Namun, aku tak ingin berlama-lama di wilayah itu dan langsung pergi meninggalkannya. Sampailah aku di wilayah ini untuk meneliti kekuatan Abyss”
Arumi:
Menarik, ternyata inti elemental bisa diaktifkan dengan rangsangan elemental
Arumi:
Aku menguasai Angin dan Api serta kekuatan baru yang ku dapat setelah mengambil kekuatan Lord of Light yaitu elemen tanah
Celene:
Kau mengambilnya?!
Arumi:
Tenanglah, aku hanya menjilati darahnya yang berada di tanganku saat Ia terluka
Celene:
Kau mendapatkannya hanya dengan mengonsumsi darahnya, apa itu kemampuan alami makhluk Abyss?
Arumi:
Tidak, teknik ini kukembangkan sendiri saat mengumpulkan sisa-sisa kekuatan
rekan-rekanku
Celene:
Apa mungkin teknik itu bisa kupelajari juga?
Arumi:
Jangan, kau hanya akan melewati batas kefanaan manusia dan menentang "hukum"
Celene:
Ada benarnya
Arumi:
Jadi, dalam waktu dekat ini aku harus sudah menguasai produksi persenjataan disini
Celene:
Apa kau ada ide?
Arumi:
Aku mengingat cara pembuatan senjata yang kuat, tajam, dan ringan
Arumi:
Mungkin ada baiknya jika aku menaruh bola kekuatan di dalamnya agar semakin cepat laku
Celene:
Aku melarangnya, hal ini akan membuat terjadinya perselisihan dan berujung perpecahan
Arumi:
Benar, apa kau ada ide?
Celene:
Aku menyarankan untuk menggunakan mantra penyusutan pada senjata yang bisa digunakan kapan saja
Arumi:
Ide bagus, aku akan memulainya dengan membuat perjanjian dengan beberapa pandai besi di sekitar sini
Celene:
Lalu apa tugasku?
Arumi:
Tugasmu? Apa kau tahu cara membuat ramuan penyusutan proyektil yang bersifat selamanya?
Celene:
Aku pernah meneliti itu, tapi aku masih belum menemukan cara melakukannya
Arumi:
Dibagian mana?
Celene:
Perwujudan sihir
Arumi:
Mewujudkan atau menciptakan proyek dengan membaca mantra?
Celene:
Iya
Arumi:
Tidaklah sulit, cukup gunakan pikiranmu dan fokuskan energimu untuk membuat wujud mantra tersebut
Arumi:
Semisal, aku akan membuat mantra peledak menjadi memiliki wujud seperti kerikil
Arumi:
Kehancuran adalah milikku
Arumi menciptakan sebuah batu krikil
Celene:
Begitu rupanya, biar ku coba
Celene:
Penciptaan berada di tanganku
Celene menciptakan sehelai rambut
Celene:
Berhasil
Arumi:
Bagus, dengan ini kau bisa menciptakan proyektil mantra
Celene:
Ya!
Arumi:
Dengan catatan, kau juga yang akan memasangkannya pada senjata-senjata itu
Celene:
Heee.....??
Arumi:
Aku masih harus melanjutkan invasi perdagangan ke seluruh wilayah yang ada
Arumi:
Karenanya aku harus melakukan semuanya dalam waktu dekat ini
Celene:
Baiklah, selama bayarannya cukup bukan masalah bagiku
Celene:
Oh ya, ini milikmu, aku hanya membeli yang kubutuhkan saja
Celene menyerahkan 3 keping emas sisa dari yang diberikan Arumi padanya
Arumi:
Apa ini? Ini milikmu bukan? Aku tak memerlukannya
Arumi:
Aku tak memiliki ketertarikan pada kekayaan, karena tujuanku hanyalah melayani
Celene:
Tap-
Arumi:
Lagipula dengan kekuatan yang kudapat darinya, aku bisa mengambil seluruh batu permata yang ada di wilayah ini
Celene:
Baiklah kalau begitu
Celene menyimpan 3 keping emas tersebut
Arumi:
Karena ini sudah larut, tidurlah di kamarmu
Celene:
Apa?
Arumi:
Bukankah aku sudah menyiapkannya juga?
Celene mengingat-ingat kembali
Celene:
Ah iya, tapi aku masih harus melanjutkan penelitianku yang lain
Arumi:
Penelitian tentang apa?
Celene:
Tentang entitas seorang Rex
Arumi:
Menarik
Arumi:
Kalau begitu aku tidur duluan
Celene:
Baik
Arumi pergi menuju kamarnya dan langsung berbaring di tempat tidurnya. Arumi terus terbayang-bayang wajah Castella
Arumi:
’Kenapa dengan diriku? Perasaan aneh ini muncul saat membayangkannya’
Arumi pun mencoba mencari tahu
"perasaan aneh" tersebut dengan membiarkan imajinasinya. Sedikit demi sedikit Ia mengikuti alur imajinasinya. Ia dibawa ke sebuah desa yang tenang dan tentram
Castella:
Arumi!
Arumi:
Hm?
Castella berlari ke arahnya dan langsung memeluknya dengan erat, Arumi menanggapinya sebagai rasa kekeluargaan milik Castella
Castella:
Ayo kita pergi ke festival
Arumi:
Baik
Arumi menuruti kemauan Castella yang dibuat oleh imajinasinya
Hup
Castella memegang tangannya
Arumi:
Ada apa?
Castella:
Bukan apa-apa, bukankah ini wajar?
Arumi:
Benar juga
Arumi dan Castella berjalan berdua ke festival yang dimaksud. Kini "perasaan aneh" tersebut semakin kuat dan jantung Arumi berdetak cepat, Arumi masih mengikuti imajinasinya hingga mereka berdua sampai di festival.
Di festival tersebut, Arumi melihat banyak sekali hal yang membuatnya tertarik
Castella:
Tempat mana yang ingin kamu kunjungi terlebih dahulu Arumi?
Arumi:
Bagaimana jika kita pergi ke tempat itu dulu?
Arumi menunjuk ke arah kedai yang menyediakan buket bunga
Castella:
Ayo!
Mereka berdua berjalan menghampiri kedai bunga yang dimaksud. Arumi memperhatikan buket-buket bunga di kedai tersebut, kini Ia merasakan panas di dadanya
Arumi:
’Perasaan ini semakin kuat’
Arumi berhenti menatapi bunga-bunga tersebut
dan langsung mengajak Castella pergi
Castella:
Ada apa Arumi?
Arumi:
Tidak ada, mari kita ke tempat yang lebih sunyi
dan tenang
Castella:
Hmm? Baiklah
Mereka berdua berjalan hingga sampai berada di tempat yang jauh dari festival tersebut dan beristirahat dibawah pohon yang rindang dengan angin sepoi-sepoi yang menenangkan
Arumi:
’Setidaknya sedikit mereda’
Beberapa saat mereka beristirahat, Castella mendekati Arumi. Ia memegang pipi Arumi dan mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka bersentuhan dan menyatu
Brak....
Arumi:
’Be-berciuman?! Apa-apaan ini?!’
Arumi:
’Apa mungkin aku jatuh cinta padanya?!’
Tubuh Arumi terasa panas membayangkannya
Plak plak
Arumi menepuk-nepuk pipinya agar melupakan apa yang barusan Ia bayangkan
Arumi:
Itu tidak pernah terjadi
Arumi langsung tidur tanpa memikirkan apapun