Chaction: Chaos and Destruction

Chaction: Chaos and Destruction
Kisah yang Panjang



Arumi:


Sekarang apa?


Raiden:


Ceritakan padaku kisah para Rex terdahulu serta wilayah kekuasaannya


Arumi:


Kalau begitu, bersiaplah mendengar kisah yang panjang


Azami:


Aku pergi keluar Rin


Raiden:


Apa?


Azami:


Aku tak ingin mendengarkan basa-basinya


Raiden:


Sampai jumpa saat makan malam


Azami:


Ya


Azami menyatu dengan udara dan sosoknya perlahan menghilang


Arumi:


Klan Haiku tidak pernah berubah


Raiden:


Mulai saja ceritanya


Arumi:


Baiklah, apa anda juga ingin mendengarnya Maiestus Eius?


Castella:


Aku suka cerita


Arumi:


Jika demikian, mari kita mulai.....


”Pada zaman dahulu, saat para Rex serta


Lord of Light yang pertama berhasil menyegel kekuatan Abyss, terdapat sisa-sisa kekuatan kegelapan di seluruh dunia.


Kekuatan itu banyak menghilangkan nyawa manusia. Namun, saat kekuatan itu mulai membesar, Lord of Light sudah habis masa hidupnya dan hilang menjadi butiran cahaya.


Kegelapan mengganas dan para Rex pertama harus menghadapi mereka. Peperangan kembali terjadi. Rex batu memimpin seluruh pasukan yang ada di daratan, Rex angin memimpin pasukan udara, Rex air memimpin pasukan laut. Ketiga Rex itu disebut


Tria Principalis dan sisa ketiga Rex itu menjadi jendral perang, mereka berhasil memukul mundur kegelapan hingga di titik terlemahnya.


Beberapa bulan lamanya kekuatan kegelapan mengumpulkan sisa-sisa dari mereka untuk melakukan pengepungan, hingga saat rencana tersebut dilaksanakan, mereka berhasil menyudutkan pasukan Rex api. Serangan dadakan yang diluncurkan oleh kegelapan cukup dahsyat hingga Rex api sendirilah yang harus turun tangan untuk mengalahkannya.


Ditengah pertarungan, kegelapan sudah kehilangan seluruh kekuatannya dan Ia pun dikalahkan oleh Rex api pertama dengan pedang besar miliknya. Pertarungan antara Rex api dengan sisa kegelapan ini disebut sebagai perang Jendral Naga yang Membara.


Perang pun berakhir, dunia sudah kembali damai setelah perang melawan kegelapan. Namun, di era Rex ketiga, segel Abyss melemah dan sebagian besar kekuatannya berhasil lepas dari segelnya. Pasukan Abyss kembali menginvasi dengan dipimpin oleh ketujuh Jendral yang dimana aku adalah jendral ketiga dari mereka.


Kekacauan terjadi lagi, para Rex ketiga harus segera memperbaiki segel yang melemah.


Perang dahsyat pun dimulai, para jendral Abyss menyerang suatu wilayah dan melumpuhkan kekuatan mereka. Mendengar kabar ini, Rex api mengulang kembali kisah leluhurnya, Ia melawan 5 jendral Abyss seorang diri.


Sangat disayangkan Rex api hanya bisa mengalahkan 4 jendral, jendral terakhir memasukkan racun pengambil alih.


Sang Rex api mampu menahan racun tersebut, tetapi karena itulah Ia tidak mampu mengalahkan jendral terakhir dan terpaksa mundur dari pertarungan. Saat itu, musuh terakhir Rex api adalah jendral ke dua Abyss yang ditakuti karena kecerdikannya dan kelihaiannya dalam pertarungan maupun pertempuran.


Beberapa minggu lamanya tubuh sang Rex api menahan racunnya, namun Ia sudah kehilangan sebagian jati dirinya. Rex api melakukan penyerangan ke pasukan manusia tanpa Ia sadari, Rex batu terpaksa melawannya.


Rex batu melawannya tanpa ragu sedikitpun, dirinya berpegang teguh pada kebebasan umat manusia.


Pertarungan Rex api dan Rex batu tak terhindarkan, mereka bertarung sampai titik penghabisan.


Rex batu berhasil menang telak melawan


Rex api, Ia berkata kepada Rex api:


”Tak peduli siapapun dirinya, apapun wujudnya, selama Ia menyebabkan kekacauan, meskipun Ia adalah saudaraku sendiri, aku akan tetap menghancurkannya”


Tepat setelah kalimat itu diucapkan Rex batu, Ia langsung melenyapkan Rex api. Ekspresi wajahnya tidak berubah sama sekali, tatapannya tetap dingin dan Ia melenyapkan Rex api tanpa ragu sedikitpun. Namun, dari wajahnya yang dingin itu, mengalir air mata kesedihannya.


Jendral kedua mengambil kesempatan saat Rex batu lengah dan menyerangnya, tanpa Ia sadari, Rex batu adalah Rex yang akan tetap berdiri kokoh meskipun diterpa ombak yang kuat. Alhasil, Rex batu menghancurkan sang Jendral kedua sebelum Ia diserang.


Habislah lima jendral Abyss, saat itu hanya aku dan jendral pertama yang tersisa, Ia memintaku memindahkannya ke hadapan para Rex langsung di medan perang. Aku hanya bisa menuruti perintahnya, alhasil Ia pergi ke medan perang untuk bertarung dengan keempat Rex langsung, Ia tak berkutik dibuat oleh mereka, Ia pun gugur juga.


Aku seorang diri saat itu, aku memutuskan untuk pergi berkelana untuk mengumpulkan sisa-sisa kekuatan mereka untuk kuserap. Disaat aku sudah berhasil mengumpulkan


sisa-sisa kekuatan rekan-rekanku, aku bertemu dengan Rex angin di tengah perjalananku.


Dia mengetahui identitasku, namun aku tidak merasakan adanya hawa permusuhan darinya.


Saat itu, Rex angin memainkan kecapinya. Suaranya indah dan merdu, aku merasakan sensasi yang tak pernah kurasakan sebelumnya.


Rex angin berkata padaku:


”Setiap orang berhak menentukan jalan hidupnya, Kau pun demikian. Aku tak memusuhimu, aku akan membantumu menenangkan jiwamu”


Setelah itu, Rex angin mengumpulkan angin yang berada di sekitarnya dan membuatkanku kipas dari angin murni yang sampai sekarang masih kusimpan. Ia berkata lagi padaku:


”Disaat kau merasa kehilangan tujuan hidupmu, gunakanlah kipas ini, maka sang angin akan menuntunmu”


Dia pun meninggalkanku. Aku merasa jika apa yang dikatakannya adalah benar, aku memutuskan untuk tidak pernah kembali ke sisi Abyss. Namun, aku ditarik kembali Abyss dan membuat kehancuran dimana-mana. Aku melawan Rex air di tengah laut kekuasaannya, kami bertarung terus-terusan hingga Ia membuat celah dan kulumpuhkan. Saat aku akan melakukan serangan selanjutnya, aku dilemparkan oleh angin yang kuat kemudian dihantam oleh ombak air yang begitu kuat.


Aku terlempar jauh hingga sampailah aku di wilayah Rex petir, aku dikepung oleh klan Haiku. Aku melawan mereka semua dan beberapa diantaranya kubuat sekarat, mereka terpaksa menyegelku di dalam pohon hingga ribuan tahun lamanya.


Aku terkurung di dalam pohon tersebut, aku menghabiskan waktu untuk melawan kembali Abyss yang mengendalikanku. Ratusan tahun lamanya aku bertapa, akhirnya aku bisa memisahkan kekuatan Abyss dariku. Ia mempunyai kekuatan dan kemampuan yang lebih kuat dari milikku, tapi aku tahu jika aku akan melawan diriku sendiri, aku harus bisa mengalahkan diriku dan melampaui batasanku.


Dengan bantuan tuntunan Rex angin, aku membakar semua perasaan negatifku dan melawan sisi gelapku.


Aku memenangkan pertarunganku, kekuatan sisi gelapku menjadi milikku, kekuatan itu adalah kekuatan Abyss dan akan kugunakan untuk melawan Abyss sendiri.


Sisa waktuku di pohon itu kuhabiskan dengan bermeditasi agar ingatanku tak memudar sedikitpun, namun aku tak sadar jika aku sudah bermeditasi sangat lama, sampai kekuatan segel di pohon itu melemah karena Abyss menggoyahkan kekuatan cahaya yang menyegelku di pohon. Keberadaanku tidak disadari sama oleh Abyss, mereka melemahkan segel pohon itu karena kekuatan segel itu bisa dihisap dan dijadikan kekuatan kegelapan yang kuat.


Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi keluar dan ternyata aku merasakan kehadiran Lord of Light”


Arumi:


Inilah kisahku sebelum bertemu kalian


Raiden:


Castella:


Jadi apa yang harus kulakukan untuk mengalahkan Abyss?


Arumi:


Anda harus menguasai seluruh elemen yang ada, namun inti petir milik anda sudah dilahap habis oleh dia


Castella:


Aku tak mempermasalahkan itu, masih ada 3 elemen lain yang masih bisa ku kuasai


Arumi:


Saya berani bilang jika kekuatan para Rex sudah tidak seperti dulu lagi, hal ini akan memudahkan Abyss untuk menguasai seluruh dunia


Castella:


Aku yakin mereka itu kuat!


Arumi:


Jika itu yang anda percayai, maka kuatkanlah hati anda untuk menghadapi kenyataan nanti


Castella:


Apapun itu!


Arumi:


Baiklah, ceritanya sudah selesai, apa yang akan kita lakukan sekarang?


Raiden:


Suna, tanyakan pada Sara tentang makan malamnya


Castella:


Aku mengerti


Castella berjalan keluar dari ruangan


Arumi:


Sepertinya kau masih ada yang ingin ditanyakan


Raiden:


Benar


Arumi:


Tanyakanlah


Raiden:


Siapa Rex yang paling dekat dengan Abyss?


Arumi:


Dari dulu hingga sekarang, Rex api adalah Rex yang selalu berada di garis depan saat melawan Abyss


Raiden:


Berarti dia akan mengulur waktu untuk semuanya


Arumi:


Memangnya apa rencanamu?


Raiden:


Aku ingin membuat kota diatas langit untuk pelarian bagi seluruh manusia saat kami berperang melawan Abyss


Arumi:


Jadi perang kali ini hanya akan melibatkan para pemimpin Rex saja


Raiden:


Aku harap demikian


Arumi:


Tetapi, Rex api dan air selalu mempunyai armada dan pasukan yang kuat, itu cukup untuk kalian saat melawan prajurit Abyss


Raiden:


Syukurlah


Arumi:


Tetapi rencana milikmu, apakah kau tahu cara melaksanakannya?


Raiden:


Tentu, aku sudah membuat rancangannya saat kau bercerita tadi


Arumi:


Jelaskan padaku caranya


Raiden:


Pertama, aku ingin Rex batu membuat sebuah pulau raksasa dan kemudian Rex angin menerbangkannya hingga ke langit


Raiden:


Kemudian Rex air membuat sebuah danau yang cukup untuk persediaan manusia dalam jangka waktu yang lama sekali


Raiden:


Lalu aku akan mengatur sirkulasi cuaca dan Rex api akan menaruh sebagian kecil pasukannya untuk melakukan penjagaan


Arumi:


Jika rencanamu ini berhasil dilaksanakan, maka ini adalah pembangunan berskala besar pertama yang pernah ada


Raiden:


Aku ingin meminimalisir korban


Arumi:


Kita akan lanjutkan nanti, Dia sudah datang