Chaction: Chaos and Destruction

Chaction: Chaos and Destruction
Awal



Seluruh monster Abyss pun mulai menyerbu daratan


Castella:


Ini hanya awalnya saja


Jumlah monster-monster Abyss sangat banyak sekali sampai-sampai menghancurkan segala sesuatu yang mereka lewati


Castella:


Urus mereka, belum tiba saat bagi kami untuk melawan mereka


Castella:


Ayo Arumi


Arumi:


Baik Maiestus Eius


Keduanya kembali ke ruang tak berujung milik Castella


Aiwaka:


Rex api sahabatku, pinjamkan aku kekuatan milikmu


Eios:


Lakukan saja


Aiwaka:


Baiklah


Aiwaka memegang pundak Eios


Aiwaka:


Berpencarlah sahabat-sahabatku!


Aiwaka memindahkan seluruh Rex yang ada (termasuk Eios) ke tempat mereka berada sebelum berangkat


Aiwaka:


Mungkin aku perlu waktu yang lama untuk kembali Saxa


Aiwaka langsung melompat masuk ke serbuan monster Abyss untuk mengurangi jumlah yang sampai ke tanah Saxa.


Sementara itu, di wilayah Tyga, para pasukan sudah mulai maju langsung menghadapi serbuan monster-monster Abyss tanpa perlu diperintahkan oleh Eios


Eli:


MAJUUUUU!!!!!!!


”HYAAAAAAAAAAA!!!!!!!”


Eli memimpin langsung para pasukan di medan perang. Namun, sebelum Ia berangkat, Ia sudah menulis secarik surat di tempat Eios akan berpindah


Eios:


Ini dari Eli


”Tuan, saya pergi memimpin pasukan ini.


Maaf jika selama ini aku merepotkan anda.


Terima kasih karena sudah membiarkan saya tinggal berdampingan dengan anda.


Juga.....


Sampai jumpa di medan pertempuran”


Eios:


Hmph....


Eios:


Ya benar juga, tidak nyaman rasanya membiarkan para prajurit bertarung sendirian


Eios:


Biar aku yang memimpin kalian


Eios:


Phoenix!


Phoenix pun turun dari langit dan terbang mengikuti pasukan Eli


Eios:


Hupp!


Eios melompat ke punggung Phoenix


Eios:


Ayo kawan


Phoenix melesat langsung ke serbuan


monster-monster Abyss dan memusnahkan seluruh monster yang Ia lewati


Eli:


Anda selalu saja berada di barisan paling depan ya


Pasukan Eios pun memulai pertarungannya dengan gelombang serangan Abyss yang pertama.


Di Korapolas, wilayah kekuasaan milik Nechryn berkurang drastis, sehingga Ia memutuskan untuk membawa pasukannya serta dirinya dengan gelombang yang sangat besar dan tinggi


Agi:


Bersiaplah! Kita akan mengorbankan jiwa dan raga kita untuk kelangsungan hidup manusia di dunia ini!


”YAAAAA!!!!!”


Agi:


Silahkan Yang Mulia


Nechryn menurunkan Trisulanya untuk mempercepat gelombang airnya


Nechryn:


Maju!


Nechryn menarik keluar semua prajurit dari gelombang air dan membiarkan gelombang air tersebut menghantam serbuan monster Abyss


Nechryn:


Agi, Ken, Ryu, dampingilah mereka


Agi:


Saya mengerti


Agi pergi memimpin pasukannya, sementara itu Ryu langsung pergi ke medan perang tanpa berpamitan pada Nechryn


Ken:


Kami pergi dulu Yang Mulia


Ken menyusul mereka berdua


Nehcryn:


Wahai sang air, tunjukanlah kekuasaanmu atas dunia ini


Nechryn menarik air dari dalam tanah dan membuatkan pijakan bagi bangsanya


Nechryn:


Berperanglah bersama kami Hydra


Nechryn memanggil Hydra sebagai bala bantuan bagi pasukannya


Zraaasssshhhhh!!!!


Keluarlah Hydra dari pijakan yang diciptakan oleh Nechryn. Hydra tersebut menundukan kepalanya pada Nechryn dan langsung pergi ke medan pertempuran


Nechryn:


Wahai sang air, berilah hukuman kepada mereka yang menunjukan cakar dan taringnya pada bangsaku


Nechryn mulai menggunakan kekuatannya untuk menurunkan tombak-tombak air dari langit yang akan menghujam langsung ke monster-monster Abyss.


Selagi Aiwaka, Nechryn, dan Eios bertarung bersama prajuritnya langsung di permukaan,


di wilayah Tonitru dan Viestavas, mereka mengirim pasukannya ke medan perang dengan kapal terbang


Vassago:


Apa para prajurit sudah berangkat?


Liang Wei:


Mereka sudah di perjalanan


Vassago:


Baiklah, aku akan menyusul mereka


Liang Wei:


Tapi bagaimana jika kau terluka suamiku?


Vassago:


Sudah menjadi resiko perang, jangan khawatir


Vassago membawa pedangnya


Liang Wei:


Tunggu!


Liang Wei menahan Vassago


Liang Wei:


Vassago terdiam


Liang Wei:


Kekuatanmu adalah kekuatan Rex yang paling lemah diantara yang lainnya


Liang Wei:


Bahkan Rex es sendiri mempunyai kekuatan yang lebih besar darimu


Liang Wei:


Bahkan kekuatan naga itu sendiri belum tentu akan membantumu


Liang Wei:


Memang benar jika aku masih akan tetap hidup dan mewarisi kekuatanmu, tapi hidup ratusan tahun seorang diri sangatlah hampa


Vassago:


Liang Wei, Istriku, aku mengerti semua itu


Vassago:


Tapi.....


Vassago:


Kelangsungan hidup umat manusia dipertaruhkan pada perang ini


Vassago:


Meskipun aku adalah yang terlemah, setidaknya aku bisa membantu mereka dengan kekuatanku


Liang Wei:


Jika keputusanmu sudah bulat, apa boleh buat


Liang Wei:


Tapi......


Liang Wei:


Izinkan aku mengambil sesuatu yang sudah seharusnya menjadi milik ku


Vassago:


Katakanlah apa itu?


Liang Wei mencium Vassago


Vassago:


Aku mengerti


Liang Wei:


Maaf, tapi kau memang tidak pernah memberikannya padaku


Vassago:


Kalau begitu, aku pergi dulu


Liang Wei:


Ya..berhati-hatilah, semoga dunia ini melindungimu


Vassago:


Kau juga


Vassago melompat dari Gong Tian ke


kapal-kapal terbang yang berangkat sebagai pijakannya. Liang Wei yang menyaksikan kepergiannya merasa cemas dan khawatir, Ia terus memikirkan Vassago, hingga terbesitlah dalam pikirannya sebuah kalimat yang pernah Ia baca di dalam buku tua yang ditinggalkan Rex angin terdahulu


’Jika dirimu tidak mampu mendampinginya langsung, dampingilah Ia dengan harapanmu. Karena angin akan membawa harapanmu kepadanya’


Liang Wei:


Benar juga


Liang Wei pun berdiri di teras Gong Tian dan mengucapkan sebuah puisi untuk Vassago dengan lantang


Langit mendung di kala badai


Gelap dan menakutkan sekali


Demikian pula kesendirian ini


Tanpa kehadiranmu disini


Segalanya terasa sunyi


Meskipun hidup berabad-abad lamanya


Tanpamu semuanya terasa hampa


Membuatku tersiksa hidup di dunia


Setelah sekian lama sendiri


Kau datang memecah rasa sepi


Namun kini kau pergi


Ku sendiri lagi


Ku menunggu dirimu tuk kembali


Berharap dirimu pulang kemari


Berharap bertemu dirimu lagi


Berharap dapat bersamamu lagi


Menghabiskan waktu denganmu


Menikmati keindahan dunia bersamamu


Ku nantikan kepulanganmu Suamiku


Setelahnya, angin berhembus kencang


’Harapanmu akan kusampaikan padanya’


Perlahan terdengarlah suara alunan musik kecapi yang lembut


Liang Wei:


Siapapun anda, terima kasih


Alunan musiknya semakin terdengar kuat hingga terdengar di seluruh Viestavas


Vassago:


’Ha? Alunan musik ini familiar sekali’


Angin pun berhembus ke arah Vassago


Vassago:


’Angin ini bukan angin biasa, kecepatannya mengimbangiku’


’Hei nak, aku punya pesan untukmu’


Vassago:


Aura ini..mungkinkah kau Rex angin ketiga?


’Jangan pedulikan aku, dengarkanlah pesan ini’


Perlahan terdengarlah suara kecapi dan puisi dari Liang Wei. Vassago mendengarkannya dengan seksama. Saat Vassago mendengar kalimat terakhir dari puisi tersebut, berkatalah dia


Vassago:


Tangguh bagai pohon cemara


Mempesona bagaikan sebuah bunga


Setia seperti para angsa


Dirimu adalah wanita yang luar biasa


Aku tak berjanji akan kembali


Tetapi sosokmu akan selalu dihati


’Haha..sepertinya angin tetaplah angin’


’Pergilah, aku akan menjaga wilayah ini dengan sisa kekuatanku yang ada’


Vassago:


Kau yakin? Kekuatanmu sangat kecil


’Jangan meremehkanku nak, aku masih bisa menciptakan lagi arus badai yang mengunci Viestavas ini’


’Mungkin arusnya akan lebih kuat dari Rex angin yang keempat’


Vassago:


Selama tidak merepotkanku, lakukanlah


’Baik’


Vassago pun keluar dari Viestavas bersama dengan kapal-kapal terbang tersebut


ZZZRRAAAASSSHHHH!!!!!!


Terciptalah arus badai yang sangat kuat sekali mengunci Viestavas


Vassago:


’Seharusnya tidak mempengaruhi daratannya’


Vassago dan armadanya lanjut pergi ke medan perang