
Sudah seminggu berlalu keadaan kaki Byanca sudah membaik, kini ia sudah bisa berjalan dengan baik tanpa bantuan kruk ataupun Adelard. Siang ini Byanca berencana akan bertemu dengan Stella di sebuah cafe yang tidak jauh dari mansion Adelard.
“Aku akan berendam terlebih dahulu,” gumam Byanca, ia akan berendam terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Stella, lagipula cafe yang akan mereka kunjungi hanya berjarak beberapa km saja dari mansion ini, jadi tidak memakan waktu yang banyak.
Byanca mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu, sedari pagi Byanca memang belum membersihkan badan nya, padahal tadi malam ia dan Adelard melakukan hubungan badan, Byanca baru bisa membersihkan badan nya saat ini, karena pagi tadi ia sedikit telat bangun, dan setelah itu Byanca membuatkan sarapan pagi untuk Adelard. Byanca hanya membuatkan sarapan pagi saja untuk Adelard, sedangkan pelayan hanya membuatkan menu makan siang dan malam. Setelah membuatkan sarapan, Byanca kembali ke kamar untuk membangunkan Adelard dan menyiapkan pakaian kerja nya. Dan setelah itu Byanca akan menemani Adelard sarapan. Biasanya Byanca akan langsung mandi jika bangun tidur, namun karena telat bangun, Byanca memutuskan mandi setelah Adelard berangkat kerja.
Byanca seperti mengurus seorang bayi besar. Adelard sudah terbiasa dengan itu, pria itu seakan lupa melakukan kegiatan nya sendiri sebelum ada Byanca.
Padahal sebelum ada Byanca, Adelard terbiasa melakukan nya sendiri. Namun setelah adanya kehadiran Byanca, Adelard selalu bergantung pada kekasih nya itu.
Byanca mulai memasukkan dirinya ke dalam jacuzzi yang sudah terisi oleh air hangat, jacuzzi itu dipenuhi oleh banyak busa yang beraroma segar.
“Sangat nyaman,” ucap Byanca ketika seluruh tubuh nya berhasil masuk ke dalam jacuzzi. Dan hanya menyisakan bagian dada dan kepala nya saja yang tidak terendam oleh air hangat.
Kring!
Ponsel Byanca berdering, untung saja ia membawa ponsel nya ketika berendam. Karena biasa nya Byanca akan mendengarkan musik ketika berendam, mendengarkan musik dari penyanyi favorit nya.
“Stella,” ujar Byanca ketika ia melihat nama Stella di layar ponsel nya.
“Ada apa Stel?” tanya Byanca ketika ia menjawab panggilan Stella, bukankah sebentar lagi mereka akan bertemu, kenapa Stella justru menelpon nya.
“Kau tidak lupa bukan, kita akan bertemu siang ini,” jawab Stella di seberang sana, Stella kini sedang berada di kantor Bryan.
“Ck, kau pagi tadi sudah menelpon ku, dan sekarang kau menelpon ku lagi hanya untuk mengingatkan ini.”
Balas Byanca jengah, ia tidak akan lupa. Lagipula Byanca juga sangat merindukan sahabatnya itu, Stella.
“Aku hanya mengingatkanmu By, aku takut jika kau lupa.”
Karena terlalu bersemangat Stella menjadi tidak sabar untuk bertemu dengan Byanca. Mereka berdua memang berlebihan, padahal baru beberapa minggu saja tidak bertemu, tapi seakan akan sudah tidak bertemu selama berbulan bulan.
“Aku tidak akan lupa Stella.”
“Sudahlah, aku sedang berendam, kau mengganggu ku,” omel Byanca kesal, karena sedari pagi Stella terus mengganggu nya.
“Ingat, jangan datang terlambat. Aku juga akan menelpon Lia, gadis itu juga harus diingatkan,” ucap Stella, tanpa menunggu jawaban dari Stella.
Byanca kembali melanjutkan acara berendam nya, tak lupa Byanca menghidupkan musik untuk memperkuat suasana. Byanca menyandarkan tubuh nya di sisi jacuzzi lalu memejamkan matanya, menikmati alunan musik yang terdengar merdu di telinga nya.
Kring!
Ponsel Byanca kembali berdering dan secara otomatis musik yang ia dengarkan berhenti dan beralih menjadi nada dering.
Tanpa melihat siapa yang menelpon Byanca langsung menjawab panggilan itu dengan perasaan kesal.
“Oh god, ada apa lagi Stella. Sudah aku katakan, aku tidak akan lupa,” omel Byanca dengan perasaan kesal. Ia bahkan belum menyadari siapa yang tengah menelpon nya saat ini.
Bukan nya mendengar suara cempreng dari Stella, Byanca justru mendengar suara pria yang terdengar serak. Suara yang sangat seksi di telinga Byanca. Byanca pun menjauhkan ponsel nya dan melihat nama yang tertera di layar ponsel nya, dan ternyata yang menelpon nya adalah Adelard, bukan Stella. Oh god, Byanca baru saja mengomeli Adelard.
Seketika Byanca pun terdiam membeku, ternyata ia salah orang. Byanca pikir yang menelpon nya adala Stella. Byanca menelan ludah nya dengan susah payah, ia sangat malu sekaligus takut.
“Sayang,” panggil Adelard lagi, karena Byanca hanya diam tanpa menjawab ucapan nya sebelum nya.
“Hhm ya Cetta,” jawab Byanca dengan gugup.
“Maafkan aku Cetta, aku pikir yang menelpon ku adalah Stella.” Byanca pun merasa bersalah kepada Adelard.
“Kenapa kau berpikir seperti itu, dan kenapa kau mengira jika yang menelpon mu adalah Stella?” tanya Adelard penasaran. Sembari menunggu jadwal meeting nya, Adelard menyempatkan diri untuk menghubungi Byanca. Dia merindukan suara Byanca.
“Ah iya maafkan aku Cetta. Aku tidak melihat siapa yang menelpon, aku pikir kau adalah Stella, karena wanita itu terus menghubungi ku, dan mengingatkan ku untuk tidak lupa datang.”
“Sebelum kau menelpon ku, Stella menelpon ku Cetta. Jadi ya aku pikir kau adalah dia.” Byanca menunggu reaksi dari Adelard.
“Jadi karena itu kau mengomel hmm,” jawab Adelard, dengan menyandarkan tubuh nya di kursi kebesaran nya, menghadap ke luar jendela kaca.
“Hhmm ya.”
“Maafkan aku,” balas Byanca dengan memainkan ujung kuku nya, ia takut jika Adelard marah kepada nya.
“Sayang, tak apa. Aku tidak marah padamu. Jangan meminta maaf terus menerus.” Adelard tidak marah kepada Byanca, ia hanya sedikit terkejut karena tiba tiba Byanca mengomeli dirinya.
“Hmm baiklah. Apa kau tidak sibuk?” tanya Byanca, biasanya Adelard akan menghubungi di saat jam makan siang.
“Tidak, sebentar lagi aku akan meeting.”
“Apa kau sedang berendam?” tanya Adelard, karena ia mendengar gemericik air yang dimainkan oleh Byanca.
“Ya, aku sedang berendam. Dan sebentar lagi akan bersiap siap untuk bertemu Stella,” jawab Byanca. Tentu saja Byanca sudah meminta izin pada Adelard sebelum nya, dan Adelard pun mengizinkan nya dengan syarat Alex selalu berada di sisi Byanca.
“Baiklah, lanjutkan saja. Aku tutup teleponnya.”
“Dan yaa, ingat. Jangan pergi selain dari tempat itu.” Adelard menekankan kalimat nya, karena ia tidak ingin terjadi sesuatu hal pada Byanca.
“Aku mengerti, jangan terlalu memaksakan dirimu sayang. Bekerja sewajarnya saja, lagipula kekayaan mu sudah menumpuk,” balas Byanca, ia hanya tidak ingin jika Adelard jatuh sakit karena terlalu bersemangat bekerja.
“Sampai bertemu nanti sore sayang.” Adelard menutup panggilan telepon mereka.
Dan Byanca tidak jadi berendam, ia langsung membilas tubuh nya di bawah air mengalir. Karena sudah waktu nya bagi Byanca untuk bersiap siap.
Beberapa jam kemudian, Stella, Angel dan Byanca mereka mengobrol dan melepas rindu satu sama lain.