
Hasil DNA sudah ada ditangan Byanca, Byanca sudah menduga bahwa Karin bukan anak kandung Pamannya. Dulu ketika Byanca masih kecil ia tidak sengaja mendengar bahwa Pamannya mandul. Namun dulu Byanca tidak mempermasalahkan itu karena semua keluarganya beranggapan lahirnya Karin adalah mukjizat Tuhan. Namun siapa sangka ternyata Karin memang betul bukan anak kandung Paman Nya.
Byanca sudah mengirimkan hasil DNA pada Pamannya, Byanca tinggal menunggu bom yang sebentar lagi meledak.
Sekarang Byanca butuh bantuan Adelard untuk rencananya selanjutnya, Byanca melihat Adelard sedang sibuk dengan pekerjaannya.
“Cetta!” panggil Byanca namun Adelard tidak mendengarnya.
“Cetta!”
Sudah dua kali Byanca memanggil Adelard namun pria itu tidak mendengarnya,
“Tuan!” panggil Byanca lagi membuat Adelard langsung menjatuhkan penanya.
“Baby, bukankah sudah ku katakan berhenti memanggilku Tuan,” ucap Adelard membuat Byanca kesal.
“Aku sudah memanggilmu dua kali tapi telingamu sepertinya sudah tuli.” Byanca menjawab Adelard.
“Maafkan aku sayang, jadi katakan apa yang kau inginkan, hm,” ujar Adelard membuat Byanca mengembangkan senyumnya.
“Aku butuh bantuanmu,” pinta Byanca yang langsung disanggupi oleh Adelard.
“Katakan kau butuh bantuan apa, By. Aku akan membantumu hingga tuntas.” Adelard menjawabnya yakin.
“Buat keluarga Bibiku bangkrut.”
“Setelah itu?”
“Mereka harus mendapatkan hukuman yang setimpal,” jawab Byanca penuh tekad, Adelard senang karena Byanca meminta bantuan padanya.
“Baiklah sayang, kau akan segera mendengar kabar baik.”
“Terima kasih,” ujar Byanca memeluk Adelard.
Sebenarnya tanpa Byanca meminta bantuan sekalipun Adelard akan menghancurkan keluarga Bibi Byanca. Karena hasil penyelidikan Mark, Adelard sangat marah pada keluarga Bibi Byanca. Mereka membunuh kedua orang tua Byanca lalu mengusir dan mengambil alih harta keluarga Byanca. Itu adalah perbuatan keji yang sangat Adelard benci.
Karena Byanca sudah memberinya izin untuk menghancurkan keluarga Bibi Byanca maka Adelard harus segera bergerak untuk menghancurkan mereka semua hingga tidak tersisa.
*
“KARIN BUKAN PUTRIKU, SIALAN! SELAMA INI KAU MEMBOHONGIKU, DASAR WANITA MURAHAN!” teriak Bram Paman Byanca tepat diwajah Jill Bibinya.
“Aku bisa menjelaskan semuanya sayang, dengarkan aku,” ujar Jill bersujud di kaki Bram.
“Lepaskan tangan kotormu dari kakiku sekarang juga!” Bram sangat marah sekarang, selama hampir 23 tahun ini ia dibohongi oleh istri yang amat dicintai. Sedangkan anak yang ia rawat penuh kasih ternyata bukan darah dagingnya melainkan anak dari tukang kebun.
Bram menertawakan hidupnya yang seperti orang bodoh, sungguh permainan Jill sangat rapi. Jika tidak karena seseorang yang mengirimkan hasil tes DNA mungkin seumur hidup Bram tidak akan tahu pengkhianatan dan kebohongan Jill yang amat sangat rapi.
Jill menangis bersujud di kaki Bram, ia tidak menyangka kebohongannya akan terbongkar sekarang. Jill begitu mencintai Bram, namun Bram tidak bisa memberinya keturunan.
“Aku mohon suamiku, maafkan aku. Aku benar-benar mencintaimu, hiks, hiks,” Jill menangis tersedu-sedu namun Bram mengabaikan Jill, hatinya seakan menjadi batu.
“Aku tidak bisa memaafkanmu, aku akan segera mengurus surat cerai. Aku akan pergi meninggalkan rumah ini.”
“Kau tidak boleh meninggalkan aku suamiku, bukankah kau menyukai harta. Akan kuberikan kekayaan padamu, tapi kumohon jangan tinggalkan aku,” ujar Jill tangisannya semakin menjadi ketika mendengar kata cerai dari mulut Bram.
“Aku akan tetap menceraikanmu, harta ini ambilah untukmu. Harta busuk yang didapatkan dari melenyapkan saudaranya sendiri tidak cocok denganku,” ujar Bram, jujur saja Bram juga baru mengetahui rencana jahat Jill ketika Byanca diusir dari rumah, Bram tidak pernah ikut campur dalam kematian atau pengambilan harta secara langsung.
Bram sama sekali tidak menyangka telah menikah dan hidup selama puluhan tahun dengan Jill, awalnya Bram memaafkan Jill karena mungkin saja Jill khilaf, namun nyatanya hati jahat Jill sudah ada sejak dia lahir. Bram tidak bisa lagi hidup dengan Jill, mereka harus segera berpisah.
“Suamiku, suamiku, jangan tinggalkan aku. Aku mohon,” Jill memohon agar Bram tidak pergi, namun Bram sama sekali tidak berpikir dua kali untuk meninggalkan Jill selamanya.
Bram membuka pintu dan melihat Karin sedang duduk menundukan kepalanya, Bram tidak peduli. Toh Karin bukan anaknya, Bram tidak ingin berurusan dengan keluarga ini lagi. Ia pergi tanpa mengambil barang-barangnya,
Bram masih memiliki orang tua, walaupun tidak kaya tapi Bram sangat bahagia bisa hidup dengan orang tuanya.
Bukan hanya Jill yang hancur, Karin pun demikian. Hati Karin bahkan lebih sakit lagi ketika mengetahui ayah yang amat ia sayangi ternyata bukan ayahnya. Karin mengalami patah hati kedua kalinya, pertama Leon memutuskan pertunangan mereka, kedua ayahnya ternyata bukan ayah kandungnya.
Bisa dipastikan sekarang hati Karin hancur lebur tidak bisa disatukan lagi, pada siapa Karin bersandar. Jill sekarang sedang dalam kondisi buruk, ayah kandungnya. Jangan harap Karin akan datang pada ayah kandungnya, pria itu sudah menghancurkan hidupnya dan keluarganya.
Jill jatuh pingsan karena shock dan kelelahan habis menangis, kehilangan orang dicintai bukanlah sesuatu yang tidak menyakitkan hati.
“Pelayan! Pelayan! Panggil Dokter sekarang!” teriak Karin karena melihat ibunya pingsan.
Jill sudah diperiksa Dokter dan kondisinya sangat buruk, yang benar saja dalam kondisi seperti ini tidak mungkin Jill baik-baik saja.
Karin kembali ke kamarnya namun ketika hendak menuruni tangga, ia terjatuh karena pandangannya kabur dan Karin pingsan.
Karin dibawa ke rumah sakit, sekarang Karin mengalami kehancuran yang ketiga. Karin kehilangan janinnya yang bahkan masih dalam bentuk gumpalan darah. Karin menyalahkan Byanca atas bencana yang terjadi pada keluarganya dan juga janinnya.
Karin tidak berhenti menangisi janinnya yang sudah pergi dipanggil Tuhan, sekarang penderitaan satu persatu menghampirinya. Setelah ini apa yang akan datang padanya, penderitaan apalagi yang harus Karin terima.
Sementara itu Byanca sedang menikmati matahari sore di balkon bersama Adelard, pekerjaan pria itu selesai lebih cepat dari biasanya. Jadi mereka menghabiskan waktu bersama.
“Tamannya indah,” ujar Byanca membuat Adelard terdiam
“Kau benar sayang,” jawab Adelard setelah lama terdiam, Byanca merasa ada yang aneh dengan Adelard namun Byanca tidak bertanya.
“Dingin,” ucap Byanca membuat Adelard membawa Byanca kedalam pelukannya.
“Bagaimana sudah hangat sayang?” tanya Adelard membuat Byanca menganggukan kepalanya, tidak ada tempat terhangat selain pelukan Adelard, begitulah yang Byanca pikirkan.
Mereka berada di balkon hingga matahari tenggelam, tanpa sadar Byanca terlelap dalam pelukan Adelard. Dengan hati-hati Adelard menggendong Byanca dan meletakkannya di atas kasur. Setelah menyelimuti Byanca, Adelard kembali bekerja. Ada pekerjaan penting yang harus ia selesaikan.
Sedangkan Byanca tetap tertidur tanpa terganggu sedikitpun, tidurnya selama bersama Adelard selalu nyenyak. Setelah kematian kedua orang tuanya Byanca tidak pernah tidur dengan nyenyak tapi berkat Adelard, Byanca selalu tidur dengan nyaman dan nyenyak sekarang.