
Pagi pagi sekali Byanca sudah terbangun dari tidurnya, mungkin karena efek Byanca semalam tidur terlalu cepat. Seperti biasa, Adelard tidur dengan memeluk tubuh Byanca. Kekasih nya itu masih tertidur dengan sangat lelap, terdengar dari deru nafas nya yang teratur. Byanca bisa dikatakan beruntung karena Adelard jika tertidur tidak mendengkur. Karena Byanca tidak akan bisa tidur jika mendengar suara dengkuran seseorang, itu sangat mengganggu pendengaran Byanca. Byanca melihat ke arah luar kamar ini, ia bisa melihat keadaan luar dengan samar samar karena jendela kamar ini dilapisi oleh tirai, dan yang tertutup hanya tirai yang tembus pandang, tirai yang tebal tidak menutupi jendela kaca itu.
Byanca dapat melihat jika keadaan di luar masih gelap, wajar saja jika masih gelap, karena ini masih pukul setengah enam pagi. Bulan masih menyinari kegelapan malam, belum berganti dengan sinar matahari yang akan menerangi keadaan siang hari. Byanca mencoba melepaskan pelukan Adelard, mencoba melepas tangan Adelard yang melingkar di perut nya, namun Byanca sedikit kesusahan karena Adelard memeluknya dengan erat, dan jangan lupakan wajah Adelard yang di sembunyikan di ceruk leher nya.
“Cetta,” panggil Byanca, ia ingin pergi ke toilet untuk buang air kecil.
“Lepaskan pelukanmu sebentar, aku ingin pergi buang air kecil,” ucap Byanca dengan penuh kelembutan agar Adelard tidak tersentak saat mendengar nya.
“Heii, sayang,” panggil Byanca lagi, ia memanggil Adelard dengan cara yang berbeda, biasanya cara ini sangat ampuh untuk membangunkan Adelard. Tak lupa usapan tangan Byanca di rambut Adelard, Adelard sangat senang jika Byanca bermain dengan rambut nya.
“Bisakah kau menyingkir dari tubuhku sebentar,” ucap Byanca lagi, Byanca sudah tidak tahan lagi. Konyol bukan jika kencing di atas ranjang.
“Eunghh.” Adelard hanya mengerang dalam tidur nya, mata nya masih terasa berat dan Adelard sangat nyaman dalam posisi seperti ini.
“Cepat bangun Adelard, aku sudah tidak tahan lagi.” Byanca dengan terpaksa melepaskan tubuh Adelard dan mendorong nya, memang benar jika sedang dalam posisi seperti ini, sedang terdesak, kekuatan seorang wanita akan bertambah menjadi dua kali lipat.
Adelard yang masih belum sadar, ia hanya menerima dorongan Byanca yang dengan paksa melepas pelukan nya.
Byanca mulai menuruni ranjang, dan berjalan dengan perlahan menuju ke toilet, Byanca mencari kruk milik nya namun tidak ada di samping ranjang, sedangkan Adelard pria itu kembali memejamkan mata nya.
“Dasar tidak peka,” gumam Byanca, berjalan dengan berpegangan pada dinding kamar.
Adelard tidak tidur, ia sudah terbangun dan sadar, namun ia masih berusaha mengumpulkan nyawanya. Seketika Adelard membuka mata dan meloncat dari atas ranjang, ia lupa jika telapak kaki Byanca masih sakit.
“Cetta! teriak Byanca karena Adelard dengan gerakan tiba tiba menggendong tubuh nya ala bridal style, dengan cepat Byanca mengalungkan tangannya di leher Adelard agar tidak terjatuh.
“Maafkan aku.”
“Aku lupa jika kakimu terluka,” ucap Adelard dengan perasaan bersalah, meski Byanca baru berjalan beberapa langkah saja dari ranjang. Mata Adelard kini sudah benar benar terbuka, ia tidak merasakan kantuk lagi karena rasa khawatir nya kepada Byanca terlalu besar, untung saja Byanca tidak terjatuh di atas lantai.
“Hei, jangan merasa bersalah. Aku tahu kau pasti lelah dan masih mengantuk,” ucap Byanca dengan menyentuh rahang Adelard menggunakan sebelah tangan nya. Byanca tahu jika tadi malam, Adelard pergi ke ruangan kerja nya. Byanca tidak marah hanya saja ia merasa kasihan dengan Adelard karena di saat waktu nya istirahat, kekasih nya itu lebih memikirkan pekerjaan nya.
“Aku takut terjadi sesuatu lagi padamu. Jika hal itu terjadi, aku tidak akan memaafkan diriku By.”
Cukup sudah Adelard melihat Byanca terluka seperti kemarin. Adelard tidak akan membiarkan Byanca kembali terluka karena kebodohan nya.
“Pegang pundak ku,” suruh Adelard, setelah menurunkan Byanca dari gendongan nya. Adelard membantu Byanca melepas celana milik nya. Setelah itu Adelard membantu Byanca untuk duduk di atas closet. Pemandangan Byanca yang tengah buang air kecil tidak lepas dari pandangan Adelard, bukan karena Adelard merasa gairah, namun karena Adelard ingin menjaga Byanca dengan baik. Ia tidak ingin jika terjadi sesuatu pada Byanca.
“Sudah,” ucap Byanca, jika mereka dalam keadaan seperti ini, Byanca tidak merasa canggung ketika Adelard memandangi dirinya yang tengah buang air kecil, berbeda saat ia dan Adelard masih bertengkar.
Adelard kembali membawa tubuh Byanca ke atas ranjang king size mereka.
“Apa kau tidak ingin tidur lagi sayang?” tanya Adelard, karena Byanca justru menyandar pada sisi ranjang.
“Aku tidak merasa mengantuk lagi,” jawab Byanca, sangat nyaman dengan posisi menyender saat ini.
“Cetta, bisakah kau mengambilkan ponsel milik ku.”
Sudah sejak kemarin Byanca tidak memegang ponsel nya, bahkan Byanca pun tidak melihat ponsel nya berada dimana.
“Terimakasih sayang,” ucap Byanca dengan menampilkan deretan gigi putih nya yang rata, setelah Adelard mengambilkan ponsel nya.
“Kemarilah.” Byanca menyuruh Adelard untuk segera naik ke atas ranjang lagi. Byanca meletakkan ponsel nya di atas ranjang terlebih dahulu sebelum melihat isi dalam nya. Byanca akan kembali menidurkan bayi besar nya terlebih dahulu.
“Tidurlah, aku akan membangunkan mu ketika matahari sudah terbit,” ujar Byanca dengan
“Aku berharap jika salah satu benih ku berhasil menembus dinding rahim mu sayang.” Adelard mengusap usap perut rata Byanca.
Entah mengapa melihat Adelard yang seperti ini membuat Byanca merasa terharu. Byanca juga ingin kembali mengandung buah hati nya dengan Adelard, namun apa daya ia belum juga hamil. Padahal masa kb nya sudah habis.
“Kau harus bersabar Cetta,” balas Byanca
“Dan juga harus berusaha sayang.”
“Kita tidak bisa terus bersabar tanpa berusaha,” ucap Adelard dengan mendongak menatap wajah Byanca yang terlihat kesal setelah mendengar ucapan nya.
“Apa kau lupa jika kaki ku sedang sakit?” tanya Byanca dengan wajah kesal nya, ia paham arah dari pembicaraan Adelard.
“Kau sangat pintar sayang, aku tidak perlu menjelaskan dengan lebih detail.”
“Sebaiknya kau segera tidur.” Byanca mencoba mengalihkan pembicaraan, jika tidak, maka mereka akan terus membahas hal hal kotor.
Setelah Adelard tertidur, Byanca melihat ponsel nya, ternyata ada beberapa pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari Stella. Karena di ponsel baru Byanca ia hanya memiliki nomor telepon orang terdekat nya saja. Byanca membalas pesan dari Stella dan meminta maaf karena baru membaca pesan nya, Stella berkata jika ingin bertemu dengan Byanca. Dan Byanca pun menyuruh Stella untuk datang ke mansion nya hari ini.
Byanca membuka kamera ponsel nya dan memotret Adelard yang tengah tertidur di atas perut, meski dalam keadaan tertidur, Adelard masih terlihat tampan dan seksi.
Byanca kemudian mengunggah foto itu ke salah satu akun sosial medianya menggunakan caption yang lucu.
“My big baby,” gumam Byanca sembari mengetik apa yang barusan ia ucapkan. Byanca juga sudah lama tidak memainkan sosial media nya, begitu juga dengan Adelard. Mereka jarang menggunakan nya.