Byanca A Sugar BaBy

Byanca A Sugar BaBy
BASB 20 : Cemburu



“Lucas!” panggil Byanca membuat Adelard langsung melihat pria yang bernama Lucas.


“Byanca.” Lucas mendekati Byanca dan ingin memeluknya namun dihalangi oleh Adelard.


“Jadi katakan dengan jelas atas kedatanganmu kemarin,” ujar Adelard dengan suara tajam.


“Cetta, Lucas adalah temanku,” ujar Byanca membuat Adelard memandang tidak suka Lucas.


“Lucas, kau bagaimana bisa tahu aku dirawat disini?” tanya Byanca bingung, kalau pertemuan tidak sengaja pasti dijalan atau tempat lain bukan di ruang rawat.


“Sebenarnya By, aku ingin minta maaf yang tulus karena telah menyebabkan kecelakaan,” jelas Lucas membuat Byanca tidak paham, berbeda dengan Adelard pria itu mengepalkan tinjunya bersiap untuk memukul Lucas.


“Sudah kuduga itu pasti salahmu,” ujar Adelars hendak meninju Lucas.


“Sayang, biarkan Lucas menjelaskan dulu.”


Adelard kembali duduk disamping Byanca dan menatap tajam pada Lucas.


“Theo, kemarilah.” Lucas memanggil seseorang.


Adelard dan Byanca tidak menyadari keberadaan anak itu, sebenarnya sejak kapan anak itu berdiri didekat pintu.


“Theo adalah keponakanku, hari ini dia bermain bersamaku. Tapi karena kecerobohanku Theo hilang dari pandanganku.”


“Karena menghindari Theo kau jadi menabrak lampu lalu lintas, karena itu aku mohon maaf padamu By, maaf karena membuatmu terluka parah,”ujar Lucas penuh penyesalan.


Byanca melihat ke arah Theo yang bersembunyi di belakang Lucas, sepertinya anak itu akan segera menangis.


“Theo, minta maafkan yang benar.”


Theo berjalan mendekati Byanca.


“Maafkan Theo kak, Theo bersalah karena Theo kakak jadi terluka,” ujar Theo menatap berani wajah Byanca, Byanca dapat melihat air mata yang bergenang disana. Berani mengaku salah dan meminta maaf adalah sikap yang terpuji dan Byanca menghargai itu.


“Tidak apa-apa, lain kali kalau ingin menyebrang lihat-lihat dahulu ya.” Byanca mengelus kepala Theo sayang.


“Iya kak,” jawab Theo kemudian menangis karena melihat wajah Adelard yang terus menatapnya tajam.


“Cetta, menyingkirlah.”


“Sayang, bagaimana bisa kau mengusirku demi anak ini,” ujar Adelard kesal membuat Byanca menghela nafas kasar.


“Sebenar saja sayang,” ujar Byanca lembut, mau tidak mau akhirnya Adelard sedikit menjauh.


“Theo takut dengan paman Cetta ya?” tanya Byanca lalu membawa Theo kedalam pangkuannya. Dengan lugunya Theo menganggukan kepalanya, bagaimana bisa anak enam tahun ini begitu menggemaskan.


“Sayang, kau masih sakit...,”


“Sttt! Aku tidak apa-apa,” bisik Byanca membuat Adelard mematung di dekat pintu.


“Kau segera bawa keponakanmu pergi dari sini,” ujar Adelard sambil menekan suaranya pada Lucas.


Lucas mendekati Theo dan Byanca, ia tidak ingin mengganggu istirahat Byanca.


“Theo, ayo kita pulang. Kak Byanca harus istirahat,” ujar Lucas menggendong Theo.


“Sampai jumpa Theo.”


“Nanti kita bisa bermain kak?” tanya Theo membuat Byanca menganggukan kepalanya.


“Tentu saja boleh, Theo.”


“Sampai jumpa kakak cantik.”


Pipi Byanca merona ketika dipanggil cantik oleh Theo, anak kecil mana mungkin berbohong. Nyatanya Byanca memang cantik dari lahir.


Adelard mendekati Byanca lalu duduk di sisi bangsal,


“Aku tidak suka pada temanmu dan keponakannya itu,” ujar Adelard membuat Byanca menatapnya minta dijelaskan.


“Kau cemburu, hm?” tanya Byanca membuat Adelard langsung menggelengkan kepalanya.


“Aku cemburu? Mana mungkin,” jawab Adelard sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.


“Lalu kalau bukan cemburu apa?” Byanca menggoda Adelard, melihat wajah antagonist Adelard menjadi merona kapan lagi Byanca akan melihatnya.


“Aku mengatakan tidak suka baby, kau jangan bertemu lagi dengan mereka,” ujar Adelard memeluk Byanca, Byanca mengelus punggung Adelard sembari tersenyum.


“Bagaimana aku menolak untuk bertemu dengan anak yang lucu seperti Theo, Cetta?”


“Pokoknya tolak saja apalagi kalau pria itu mengajakmu pergi,”


*


Byanca kembali ke apartemennya setelah keluar dari rumah sakit. Tentu saja awalnya Adelard menolak namun karena Byanca memohon, Adelard langsung membiarkan Byanca pulang asal Adelard ikut tinggal disana. Dan mereka akan tinggal disana hanya beberapa hari saja.


Sebenarnya Byanca menyukai mansion Adelard dibandingkan tinggal di apartemen nya, namun entah mengapa Byanca begitu merindukan kasur apartemennya. Itulah yang membuat Byanca ingin pulang.


Byanca langsung membaringkan dirinya di atas kasurnya, sudah lama sekali Byanca tidak tidur disini. Byanca benar-benar merindukan kasur ternyaman nomor duanya, tentu saja nomor satunya adalah kasur di mansion Adelard.


Drrtt!


Byanca mengambil ponselnya, ada panggilan video dari Sarah.


“Nona harus melihat mereka hari ini, sangat seru dan menarik,” ujar Sarah sambil menampakan Erwin dan Jill diangkat lalu diputar-putar di udara lalu diceburkan ke kolam renang.


“Aku sangat menyukainya,” jawab Byanca tersenyum, dulu Byanca mengira Sarah adalah sosok yang lemah lembut sebagai pelayan yang takut oleh Tuannya. Namun Byanca salah, Sarah adalah sosok psychopath sebenarnya. Tapi tentu saja Adelard yang paling kejam dalam hal penyiksaan.


Jill dan Erwin sekarang sudah tidak berbentuk manusia lagi, mereka sudah seperti mayat yang hanya menumpang nafas saja. Jill dan Erwin bahkan tiap hari memohon untuk dibunuh, namun Byanca tidak membunuh mereka. Biarlah mereka mati dengan sendirinya dengan rasanya mau mati setiap hari.


Setelah melakukan video call dengan Sarah, Byanca memutuskan untuk tidur siang. Berbaring terlalu lama membuat matanya mengantuk.


Sementara itu Adelard sedang bekerja di kantornya, tidak lama kemudian Ana masuk setelah mengetuk pintu.


“Sir, jadwal anda untuk lusa adalah pergi ke Paris untuk pembukaan hotel,” ujar Ana membuat Adelard meletakan penanya.


“Tidak bisa diwakilkan oleh Mark?” tanya Adelard ia tidak ingin meninggalkan Byanca dan pergi sendiri.


“Tidak bisa, Sir harus pergi.”


“Baiklah, Mark siapkan pesawat kita akan berangkat malam ini.”


“Baik Tuan.”


Byanca bagun sorenya, tapi ia tidak menemukan Adelard. Pria itu sepertinya tidak akan datang ke apartemennya.


“By, kau dimana?” teriak Angel yang langsung masuk ke dalam apartemen Byanca, selain Adelard, Angel juga tahu sandi apartemennya.


“Di kamar, Lia!”


“Aku membawa pizza, ayo makan sambil nonton,” ajak Angel membuat Byanca menganggukan kepalanya cepat.


“Kenapa kau kembali kesini? Kau tidak betah tinggal di mansion?” tanya Angel ketika film belum mulai.


“Aku sangat menyukai mansion.”


“Lalu?”


“Aku merindukan kasur keduaku saja, setelah itu aku akan kembali ke mansion,” jawab Byanca lalu mengambil potongan pizza dan mulai memakannya.


Mereka menonton horor sambil memakan pizza, mereka sudah seperti psycho karena nonton horor sambil tertawa lalu menangis. Sebenarnya ini salah satu alasan mengapa mereka berteman, memiliki hobi dan kebiasaan yang tidak biasa.


Hampir dua jam mereka menonton, kini perut mereka sudah keroncongan minta segera diisi.


“Aku akan memesan makan untuk kita,” ujar Angel memesan makanan online lewat ponselnya.


“Kau yang terbaik,” ujar Byanca mengangkat jempolnya, mau bagaimana lagi mereka pecinta makanan lezat tentu saja omelet sekarang tersingkirkan.