
Karin sudah pulang ke rumah, ia mengunci dirinya di dalam kamar. Sama hal nya dengan Jill, ia juga mengurung dirinya di dalam kamar. Mereka meratapi kesedihan mereka masing-masing, tidak ada pelipur lara.
“Jill,” panggil Erwin masuk kedalam kamar Jill, hatinya sakit ketika melihat Jill sama sekali tidak menyentuh makanannya.
“Pergi dari sini.” Jill mengusir Erwin, Jill bahkan tidak melihat wajah Erwin membuat hati Erwin bertambah sakit.
“Biarkan aku menghiburmu, kau tahu bahwa aku mencintaimu,” ujar Erwin mendekat ke ranjang.
“Tapi aku tidak mencintaimu, pergilah Ed.”
Erwin tidak bisa berkata-kata hatinya terluka tapi ia lebih tidak ingin melihat Jill terluka, jika Erwin bisa ia akan membawakan Bram untuk Jill. Namun sepertinya Bram tidak ingin kembali lagi pada Jill.
Erwin pergi keluar, ia tidak bisa mendekat barang sedikitpun apalagi kesempatan untuk menghibur kesedihan Jill, cintanya.
Sedangkan itu Karin tidak bisa menghentikan tangisnya, bayang-bayang suara tangisan bayi terus terdengar di telinganya.
‘Maafkan Ibu sayang, Ibu tidak bisa menjagamu dengan baik.” Karin menangis terisak.
“Ini semua karena Ayahmu sayang, Ayahmu membuang kita demi wanita lain. Ibu mohon tunggu Ibu sebentar lagi, hiks,” rintih Karin sambil menangis kencang.
“Nona, anda harus memakan sesuatu demi kesehatan Nona,” ujar pelayan masuk membawakan makan siang untuk Karin.
“Aku tidak lapar.”
“Akan saya letakan diatas meja, jika Nona lapar, Nona bisa langsung memakannya.”
Pelayan pergi setelah meletakan makan siang di atas meja, ia prihati pada mental Nona mudanya. Nyonya rumah ini juga dilanda kesedihan atas perceraian yang mendadak, nampaknya rumah ini sedang dilanda kesedihan.
Sedangkan di lain tempat Byanca sedang menikmati secangkir kopi sambil membaca buku di taman mansion Adelard.
Byanca sekarang sedang bersantai dan menunggu hasil karena Adelard akan membantunya untuk membalas dendam. Byanca percaya pada Adelard karena memang Byanca percaya pada Adelard. Apa yang tidak bisa Adelard lakukan untuknya, semua yang Byanca meminta pasti langsung dituruti oleh Adelard.
“Nona, cemilan anda.” Sarah datang sambil meletakan cemilan diatas meja.
“Terima kasih, Sarah.”
“Saya permisi Nona, jika ada sesuatu yang Nona inginkan, Nona bisa membunyikan bel ini,” ujar Sarah membuat Byanca menganggukan kepalanya.
Balas dendamnya sejauh ini berjalan dengan lancar, Bram Pamannya sudah bercerai dengan Bibinya. Karin bukan anak dari Bram melainkan anak dari tukan kebun, dari yang Byanca dengar dari mata-mata nya yang berada di kediaman Bibinya, Karin mengalami keguguran. Satu persatu penderitaan akan segera datang pada mereka. Sebentar lagi mereka akan mendapatkan puncak penderitaan mereka, Byanca sangat menantikan itu.
Adelard dari pagi tidak menunjukan batang hidungnya pada Byanca, pria itu nampak akan sibuk untuk hari ini.
*
Rumah Jill kedatangan tamu yaitu Adelard beserta orang-orangnya,
“Kosongkan rumah ini!” perintah Adelard membuat seluruh anak buahnya segera mengosongkan rumah Jill.
Kediaman Jill menjadi sangat ribut membuat pelayan mendatangi kamar Jill, sekarang hanya Nyonya mereka yang bisa membuat Adelard dan anak buahnya pergi dari sini.
“Ada apa ribut-ribut dibawah?” tanya Jill pada pelayan yang baru masuk kedalam kamarnya.
“Nyonya, sangat gawat orang-orang Tuan Adelard sedang mengosongkan rumah ini,” ujar pelayan membuat Jill langsung berdiri dari tempat tidur.
“Kurang ajar, berani-beraninya membuat keributan dirumah orang.” Jill langsung keluar dari kamarnya, ia menggeram kesal melihat orang-orang yang telah mengganggu kediamannya.
“APA-APAAN INI! LETAKAN BARANG-BARANGKU DI TEMPATNYA SEMULA!” teriak Jill marah namun seluruh anak buah Adelard tidak ada yang mendengarkan Jill.
“Nyonya, hari ini Nyonya harus angkat kaki dari rumah ini.” Mark datang pada Jill, Jill mengepalkan kedua tangannya.
“Siapa kalian berani-beraninya mengusirku dari rumahku sendiri! Aku akan melaporkan kalian ke polisi!” ancam Jill membuat Adelard yang mendengar itu tertawa kencang.
“Polisi? Rumah ini sudah menjadi milikku, termasuk perusahaanmu.”
“Jangan berbohong, itu tidak mungkin terjadi.” Jill tidak percaya pada perkataan Adelard, bagaimana bisa kekayaan yang baru saja menjadi miliknya sudah menjadi milik orang lain.
“Mark.” Adelard memanggil Mark, Mark yang mengerti langsung memberikan salinan berkas pada Jill. Jill mulai membaca berkas yang diberikan oleh Mark.
Jill memikirkannya hingga mau gila rasanya, ini mimpi buruk untuk nya.
“Kau tenang saja, ada seseorang yang sedang menunggumu. Hukumanmu akan segera datang.” Adelard menatap Jill tajam, wanita ini yang sudah membuat wanitanya menderita.
“Maksudmu apa? Siapa yang akan menghukumku?” tanya Jill dengan suara bergetar,
“Tentu saja wanitaku. Mark, bawa wanita ini bersama selingkuhannya kehadapan Byanca!” perintah Adelard membuat Jill membelakan mata. Wanita yang dimaksud Adelard adalah Byanca. Tidak mungkin.
“Lepaskan aku, aku bisa berjalan sendiri!” teriak Jill namun anak buah Adelard tidak mendengarkannya, Jill dibawa dengan diseret paksa.
“Hei! Singkirkan tangan kotor kalian.”
“Kubilang lepaskan, Sialan!”
“Mami, apa yang sedang terjadi?” tanya Karin keluar dari kamarnya.
“Lepaskan Ibuku, Tuan Adelard.” Karin menatap marah pada Adelard.
“Mark, bawa dia sekalian!”
Jill, Erwin dan Karin dibawa keruang tanah mansion Adelard, tepatnya ruang penyiksaan.
“Sayang, kemarilah.” Adelard memanggil Byanca dan menyuruh Byanca duduk dipangkuannya.
“Kau, berani sekali membawaku kemari!” teriak Karin marah pada Byanca.
“Sayang, lihat baik-baik mereka. Aku menyerahkannya padamu, terserah padamu mau memberi hukuman yang bagaimana. Kalau mau saran dariku bagaimana jika kita potong leher mereka satu persatu.”
“Mereka akan mati lebih mudah kalau begitu, bagaimana jika menyiksa mereka hingga mereka merasakan mau mati setiap harinya hingga mereka benar-benar mati.”
Siapapun yang mendengarnya pastikan akan mengerti jika Byanca dan Adelard adalah pasangan yang sangat cocok.
“Byanca, jangan harap kau akan lepas dariku!” ujar Jill membuat Byanca turun dari pangkuan Adelard dan menghampiri orang-orang yang akan mendapatkan hukuman langsung darinya.
Byanca mengambil cambuk lalu mencambuk Jill dengan sekuat tenaganya,
“Jadi Bibi, bagaimana rasanya cambukku?”
“Wanita murahan. Beraninya kau melukai Jill,” ujar Erwin membuatnya mendapat tatapan mati dari Byanca.
“Tenang saja, kau lah yang harus paling menderita disini. Pembunuh orang tuaku.”
“Aku lapar, bagaimana jika mereka disiksa dulu oleh orangmu,” ujar Byanca membuat Adelard menganggukan kepalanya.
“Kalian dengar apa yang baru saja dikatakan oleh Byanca.”
“Baik Tuan.”
“Lakukan dengan benar, Mark.”
“Siap laksanakan Tuan.”
“Byanca tunggu! Mau kemana kau, hah!”
“Byanca!”
“Byanca!”
Byanca menulikan telinganya, sekarang ia sangat lapar dan harus mengisi perutnya.
“Terima kasih,” bisik Byanca membuat Adelard menganggukan kepalanya.
“Aku akan menunggu hadiahku malam nanti.”
“Tentu saja.”