
Drttt!
Byanca mengambil ponselnya Mrs Maxwel menghubunginya.
“Hallo Mom, selamat siang,” sapa Byanca hangat
“Sweety, Mommy ada didepan apartemenmu.”
Byanca langsung keluar dari kamarnya lalu membuka pintu untuk Mrs Maxwel.
“Mommy baru saja belanja dan Mommy akan makan siang disini,” ujar Mrs Maxwell membawa belanjaannya ke dapur.
“Omong-omong dapur mu dimana, sweety?”
“Biar By bantu Mom,” jawab Byanca membawa satu kantong belanjaan Mrs Maxwel dan menunjukan dapur Byanca.
Mrs Maxwel menyusun belanjaannya di kulkas separuh dan sebagian lagi tetap diatas meja.
“Astaga sweety, kenapa hanya ada makanan cepat saji saja. Tidak sehat untukmu bagaimana jika kau sakit.” Mrs Maxwell mengecek badan Byanca.
“By baik-baik saja Mom, biasanya By memesan makanan online. Kadang-kadang aku makan bersama Cetta, dan Mommy tau masakan Cetta sangat lezat, hihi,” jawab Byanca tersenyum pada Mrs Maxwel
“Syukurlah anak itu akhirnya berguna, Cetta itu pandai memasakan berkat bakat Mommy turun padanya.”
“Karena Mommy akan memasak kau tunggu saja sambil menonton atau membaca, sweety,” ujar Mrs Maxwel membuat Byanca menggelengkan kepalanya.
“Walaupun By tidak pandai memasaka, By bisa membantu mencuci atau memotong sayuran Mom, tolong jangan meremehkan By,” jawab Byanca membuat Mrs Maxwel terkekeh
“Baiklah, Mommy serahkan tugas itu padamu.”
Sesuai dengan perkataannya Byanca mencuci dan memotong sayuran sementara Mrs Maxwel memasak.
“Ada yang bisa By bantu Mom?” tanya Byanca setelah semua tugasnya telah selesai.
“Ada, sweety kemarilah.”
Byanca mendekat kearah Mrs Maxwel.
“Cicip ini, rasanya sudah pas atau belum,” Mrs Maxwell meniup sup di sendok lalu memberikannya pada Byanca. Mata Byanca berbinar, masakan Mrs Maxwel lebih lezat dibandingkan masakan Adelard, terlebih lagi masakan Mrs Maxwell sangat mirip dengan masakan ibunya.
“Bagaimana, sweety?”
“Sangat lezat Mom,” jawab Byanca sambil mengangkat kedua jempolnya.
“Sekarang bantu Mommy menyiapkan makan siang untuk kita, Mommy akan menyiapkan sup sebentar lagi.”
“Baik Mom.”
Byanca dan Mrs Maxwel makan siang bersama terdapat obrolan ringan di sela-sela makan siang mereka. Setelah makan siang dan Byanca selesai mencuci piring Mrs Maxwel pamit pulang.
“Mommy pulang sweety, jaga kesehatanmu ya,” ujar Mrs Maxwel mencium kedua pipi Byanca.
“Iya Mom, By akan menjaga kesehatan dengan baik,” jawab Byanca tersenyum lebar membuat Mrs Maxwel ikut tersenyum.
“Mommy akan sering mampir, sweety.”
“Apartemen By akan terbuka lebar menyambut kedatangan Mommy,” jawab Byanca membuat Mrs Maxwel tertawa ringan.
“Manis sekali, baiklah Mommy pulang ya.”
“Hati-hati Mom.”
*
Tidak terasa sekarang sudah waktunya Byanca sidang skripsi, dua hari yang lalu Byanca belajar lagi secara menyeluruh isi skripsinya.
Byanca menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan sebelum ia masuk kedalam ruang sidangnya.
Ada 4 Dosen yang akan mengujinya, Byanca sudah menyiapkan mentalnya secara menyeluruh.
Awal Sidang Byanca sangat gugup namun setelah itu ingatan nya tentang skripsinya berputar di otak cantiknya. Byanca sangat lancar dalam menjawab pertanyaan dari Dosen dan hasilnya sangat memuaskan.
Byanca menghela nafas lega, akhirnya ia mendapatkan gelarnya. Perjalanannya baru saja dimulai sekarang.
Setelah keluar dari ruang sidang sudah ada yang menunggunya Angel, dan ada seseorang yang mengganggu pandangannya. Leon, kenapa pria itu datang kemari. Menyebalkan.
“Selamat By, akhirnya perjuanganmu selesai,” ujar Angel memberi selamat pada Byanca.
“Terima kasih Lia,” jawab Byanca sambil mengembangkan senyumnya. Sama hal nya dengan Adelard, Byanca juga memanggil Angel dengan sebutan Lia. Angelia dipanggil Lia, sedangkan Adelard dipanggil Cetta.
“By, bisakah kita bicara sebentar,” ucap Leon membuat senyum Byanca hilang seketika.
“Tidak ada yang harus kita bicarakan lagi, Leon!”
“Sepuluh menit, sepuluh menit saja By,” ujar Leon dengan nada memohon
“Satu menit.”
“Lima menit.”
“Tiga menit atau tidak sama sekali,” ujar Byanca membuat Leon langsung menganggukan kepalanya.
“Baik tiga menit.”
“Aku menunggumu, setelah itu aku akan mentraktirmu,” ujar Angel memberikan waktu pada Byanca dan Leon agar mereka bicara.
“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Byanca tanpa basa-basi
“Maafkan aku, aku sungguh menyesal By,” ujar Leon memegang kedua tangan Byanca yang dengan cepat Byanca menarik kedua tangannya.
“Jika itu yang ingin kau katakan, aku pergi.”
“By, dengarkan aku dulu. Aku sungguh mencintaimu namun Karin terus menggodaku,” ucap Leon yang langsung mendapatkan cibiran dari Byanca.
“Selemah itu cintamu, tidak bisa dipungkiri kau memang seorang pengecut.” Byanca memandang remeh Leon, bagaimana bisa dia menyebut Karin menggodanya. Bukankah mereka adalah magnet yang saling tarik menarik dalam hal menggoda satu sama lain.
“Aku akan melakukan apapun asal kau memaafkan aku By, sampai kau menerima ku kembali.” Leon menatap lembut wajah Byanca tapi itu percuma saja Byanca tidak akan tertipu untuk kedua kalinya dengan tatapan lembut itu. Ck, bisa-bisanya dulu Byanca luluh dengan tatapan menjijikan seperti itu.
“Akan ku pertimbangkan, tiga menitmu sudah habis,” ujar Byanca, ia akan memanfaatkan Leon jika waktunya sudah tiba. Byanca tidak menyangka bahwa Leon sendiri yang mendatanginya. Leon adalah salah satu kartunya untuk balas dendam.
“Aku berjanji By, jadi kapanpun hasil pertimbanganmu keluar aku siap mendengarkan hasil baiknya,” ujar Leon membuat Byanca menganggukan kepalanya.
“Lia, ayo kita pergi. Bukankah kau sudah berjanji untuk mentraktirku,” ujar Byanca menghampiri Angel dan meninggalkan Leon begitu saja.
“Apa yang dibicarakan pria brengsek itu?” tanya Angel membuat Byanca menggelengkan kepalanya.
“Tidak ada, hanya permohonan maaf.”
“Jangan bilang kau memaafkan pria itu?” tanya Angel menghentikan langkahnya.
“Tentu saja aku bukan kelinci yang terjatuh dua kali, Lia.”
“Baguslah, jadi katakan kau ingin makan apa? Aku akan mentraktirmu,” ucap Angel membuat Byanca menyebutkan semua makanan yang ingin ia makan.
Setelah makan bersama Angel, Byanca pulang ke apartemennya. Setelah membersihkan diri suara bel membuat Byanca dengan malas mengecek tamu yang datang malam-malam begini. Jika itu Adelard maka dia akan langsung masuk saja karena Adelard mengetahui sandi apartemen Byanca.
“Mark?”
“Mawar dari Tuan, Nona,” ujar Mark menyerahkan buket Mawar putih pada Byanca.
Buket Mawarnya sangat besar sehingga Byanca tidak bisa membawanya, Mark segera membantu Nonanya.
“Terima kasih Mark, tolong katakan pada Cetta dari pada membelikan aku Mawar lebih baik dia memberikan tas atau barang yang lainnya. Bunga ini akan segera layu tapi jika itu barang bukankah itu akan berguna,” ujar Byanca membuat Mark menganggukan kepalanya.
“Baik Nona akan saya sampaikan pada Tuan.”
Walaupun berkata begitu Byanca tetap memfoto Mawar dan memasukannya kedalam instastorynya dengan caption ‘Thanks Love.’
Sungguh pemborosan yang tidak perlu, itulah yang dipikirkan oleh Byanca karena bunga akan layu sedangkan barang akan berguna untuknya.