
Adelard dan Byanca kini sudah berada di atas rooftop mansion mereka. Mereka berganti menggunakan helikopter ketika jet pribadi yang mereka tumpangi sudah mendarat dengan aman. Mereka pun kembali ke mansion dengan menggunakan helikopter milik Adelard.
Byanca memeluk diri nya yang terasa dingin karena terpaan angin malam yang dingin menusuk kulitnya.
Adelard memeluk tubuh Byanca agar merapat ke tubuh nya, Adelard tidak dapat memberikan jaket atau jas, karena Adelard hanya mengenakan kemeja putih yang melekat di badannya.
“Huft, udara nya sangat dingin,” ujar Byanca dengan suara bergetar menahan dingin nya air malam, ia memeluk tubuh Adelard dengan sangat erat.
“Kita akan segera sampai,” jawab Adelard, mereka kini tengah berada di lift menuju mansion.
Ting!
Lift telah berhenti tepat di depan mansion Adelard. Mereka langsung disambut oleh bodyguard serta pelayan yang ada di mansion ini, namun Byanca merasa asing dengan salah satu wajah pelayan nya.
“Tunggu.” Byanca menghentikan langkah Adelard, dan meneliti wajah pelayan yang menurut nya sangat asing itu.
“Apa kau pelayan baru disini?” tanya Byanca pada pelayan wanita yang terlihat lebih tua dari nya.
“Perkenalkan nama saya Kesha Nona Byanca.” Pelayan itu memperkenalkan diri nya dengan sangat sopan.
“Oh baiklah,” ucap Byanca dengan tersenyum hangat, lalu ia kembali menggandeng tangan Adelard agar memasuki kamar mereka.
“Aku sangat merindukan ranjang ini.” Byanca menjatuhkan badan nya di atas ranjang empuk kamar ini, meskipun ia baru meninggalkan ranjang ini selama dua hari namun Byanca sangat merindukan nya.
“Apa kau juga merindukan kegiatan panas kita di atas ranjang ini.” Adelard muncul dari arah kamar mandi dengan rambut yang masih basah terkena air.
“Hentikan.” Byanca tidak ingin bercinta dengan Adelard malam ini, karena badan nya masih terasa sakit.
“Kenapa kau membasahi rambutmu Cetta.”
“Kemarilah.” Byanca memegang hairdryer di tangannya untuk mengeringkan rambut Adelard yang basah.
“Selesai,” ucap Byanca saat rambut Adelard sudah kembali kering. Mereka pun kembali menuju ranjang untuk bersiap siap pergi tidur. Karena besok, Adelard akan kembali beraktivitas seperti biasa nya.
Pagi ini Adelard telah siap dengan pakaian kerja nya, ia akan kembali ke kantor setelah liburan yang membuat dirinya merasa fresh kembali.
“Baiklah aku akan pergi.” Adelard mengecup bibir Byanca, dan memeluk nya erat.
Seperti biasa nya Byanca mengantar kepergian Adelard setelah sarapan pagi di depan lift.
“Berhati-hati lah Cetta, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu.” Perasaan Byanca sedikit tidak enak, ia merasa khawatir dengan Adelard hari ini.
“Kau tak perlu khawatir, aku akan baik baik saja,” balas Adelard kembali memeluk tubuh Byanca, menghirup dalam dalam aroma Byanca yang menenangkan pikiran nya.
“Baiklah.” Byanca merapikan jas Adelard, dan melambaikan tangan nya ketika Adelard sudah memasuki lift nya.
Adelard sudah berada di dalam mobil nya bersama dengan Mark, di belakang mobil mereka terdapat bodyguard Adelard yang mengendarai mobil lain. Seperti biasa Adelard memanage perusahaannya melalui iPad di tangannya, Adelard juga melihat jadwal apa saja yang harus ia lakukan pada hari ini.
Yang Adelard maksud adalah sebuah gedung yang sudah tidak terawat, terletak di pinggiran kota.
“Sudah Tuan, seperti yang sudah saya katakan, pemilik gedung itu meminta harga yang sangat tinggi,” jawab Mark, ia sudah menyuruh bawahan agar bisa mendapat gedung yang diinginkan Adelard.
“Berikan saja berapapun yang diinginkan.” Balas Adelard, ia tidak mempermasalahkan berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk membeli sebuah gedung tak terawat itu.
“Baik Tuan.” Mark kembali fokus menyetir.
Tujuan Adelard untuk membeli gedung itu adalah karena ia merasa tertarik, bukan untuk suatu keperluan yang penting. Tepatnya membuang-buang uang.
*
Byanca terpukau melihat ruangan yang ada di balik rak yang di isi oleh berbagai jenis minuman beralkohol, terdapat sebuah kamar minimalis namun sangat rapi dan mewah, ranjang nya hanya berukuran setengah dari ranjang king-size mereka yang ada di mansion. Setelah berbulan-bulan ia menjalin suatu hubungan dengan Adelard dan sering pergi kantornya, Byanca baru mengetahui akan hal ini. Jika Byanca tahu ada kamar pribadi di dalam ruang kerja Adelard, ia tidak perlu bercinta dengan Adelard di atas sofa nya.
“Kenapa kau tidak memberitahuku jika ada kamar pribadi di ruangan itu cetta,” ucap Byanca dengan berkacak pinggang.
“Kau tidak bertanya padaku By, lagipula aku hampir tidak pernah menggunakan kamar ini,” jawab Adelard dengan melangkahkan kaki nya memasuki kamar pribadi di dalam ruangan kerja nya, meskipun Adelard hampir tidak pernah memasuki kamar ini, namun barang barang yang ada di kamar ini tidak berdebu sama sekali, karena rajin dibersihkan meski tidak pernah digunakan.
“Karena aku tidak tahu Cetta,” jawab Byanca dengan nada kesal, ia mengikuti Adelard memasuki kamar ini. Melihat lihat seperti apa isi di dalam kamar ini, kamar ini hanya berisi sebuah tempat tidur, lalu cermin, serta sebuah nakas, dan beberapa lukisan yang menghiasi dinding kamar nya.
Saat Byanca tengah fokus melihat lihat isi kamar ini, Adelard sengaja menutup pintu kamar nya dengan pelan agar Byanca tidak curiga.
Byanca berjalan mendekat ke kaca besar yang ditutupi oleh tirai, bahkan tirai nya pun sangat wangi dan tidak berdebu meski kamar ini jarang di masuki oleh Adelard.
“By.” Tiba tiba Adelard memeluk Byanca dari belakang dan menyingkirkan rambut nya ke sisi kanan, hingga leher sebelah kiri Byanca terekspos dengan jelas. Tanpa menunggu dari Byanca, Adelard mulai mulai menghirup dan mencium leher Byanca.
“Cetta.” Byanca merasakan geli di leher nya. Ia hendak melepas pelukan Adelard namun tidak bisa, karena Adelard memeluk nya dengan sangat erat.
“Sebentar saja,” ucap Adelard, ia kembali mencium leher Byanca hingga membuat kulit leher Byanca sedikit kemerahan.
“Awhh, Cetta!!!.” teriak Byanca karena Adelard tiba tiba menggigit leher nya dengan sangat kuat. Mungkin gigitan Adelard meninggalkan bekas disana.
“Apa kau gila?!” omel Byanca, mata nya berkaca kaca karena merasakan sakit di leher nya. Karena kesal, ia mampu melepaskan pelukan Adelard. Byanca memegangi leher nya yang terasa sakit dan perih secara bersamaan, ia memejamkan mata untuk meredam rasa sakitnya.
“By maafkan aku, aku tidak sadar melakukan itu,” ucap Adelard dengan raut wajah yang panik, ia ingin melihat bekas gigitan nya di leher Byanca, Byanca menghela nafas kasar.
“Apa kau seorang vampire, huhh?!” ujar Byanca dengan nada tinggi, ia tidak bisa mengontrol emosinya. Karena benar benar kesal dengan tindakan Adelard.
“Maafkan aku sayang, aku benar benar tidak menyadari nya,” jawab Adelard sembari berusaha untuk melihat bekas gigitannya.
“Apa masih sakit?” tanya Adelard membuat Byanca menganggukan kepalanya.
“Maafkan aku sayang,” ujar Adelard penuh penyesalan.
Tbc