
Byanca terbangun dari tidur nya. Dan merasakan sesuatu yang berat menimpa tubuh nya, ternyata itu adalah tangan Adelard yang melingkar untuk memeluk tubuh telanjangnya. Byanca mengamati sekeliling ruangan ini, Byanca baru sadar jika ia dan Adelard masih berada di ruangan tersembunyi yang ada di ruang kerja Adelard. Karena lelah, Byanca tertidur sampai matahari terbenam dan berganti kerlap-kerlip lampu di malam hari. Byanca dapat melihat nya dari kaca besar yang ada di samping kanan ranjang ini.
Byanca melihat sekeliling lantai kamar ini. Pakaian Byanca dan pakaian Adelard berserakan di lantai. Kamar ini seperti habis terkena bencana, karena sangat berantakan. Itu semua karena ulah nya dan ulah Adelard. Mereka bercinta di setiap sudut ruangan ini, serta berganti ganti gaya dalam bercinta. Sebab itu tubuh Byanca sangat lelah. Byanca yakin jika gedung kantor ini sudah ditinggalkan oleh para pekerja nya, karena waktu kerja mereka sudah habis. Mungkin hanya ada beberapa pekerja yang sedang lembur atau penjaga yang sedang bertugas.
“Cetta,” panggil Byanca dengan memandangi wajah damai Adelard yang masih tertidur lelap. Mereka harus segera kembali ke mansion.
“Kita harus kembali ke mansion Cetta,” ucap Byanca. Kulit telanjang mereka saling bersentuhan memberikan sensasi yang aneh. Meski mereka cukup sering tidur dalam keadaan telanjang dan berpelukan seperti ini. Karena Adelard tidak bisa tidur tanpa memeluk tubuh Byanca.
Karena Adelard tidak menyahuti ucapan nya, Byanca bangun dari ranjang lebih dahulu. Ia akan menggunakan kembali dress nya yang tergeletak di lantai, agar jika Adelard terbangun ia sudah menutupi tubuh telanjang nya. Byanca tidak ingin kembali bercinta dengan Adelard, karena sudah saat nya mereka kembali ke mansion.
“Dimana ****** ***** ku.” Mata Byanca berusaha mencari ****** ***** nya, yang entah tercecer dimana. Karena Adelard membuang pakaian nya dengan asal. Byanca terus mencari hingga akhirnya ia menemukan ****** ***** nya berada di samping nakas tempat tidur.
Tak lupa juga Byanca memunguti pakaian Adelard yang berserakan di atas lantai dan merapikannya kembali. Byanca kini sudah kembali menggunakan dress nya yang sedikit lusuh, namun Byanca bersyukur karena Adelard tidak merobek dress milik nya.
“Oh no,” ucap Byanca ketika melihat pantulan dirinya di cermin. Penampilan nya berantakan, dan terdapat kissmark baru di leher nya, dan itu terlihat sangat jelas karena tidur tertutupi oleh dress nya.
“Lagi pula sudah tidak ada lagi orang di kantor ini,” ucap Byanca mengingat jika ini sudah malam, jadi ia tidak begitu malu keluar dari ruang kerja Adelard dengan penampilan yang berantakan. Mungkin yang akan melihatnya hanya Alex dan bodyguard yang lain. Dan Byanca pikir, Alex sudah terbiasa melihat penampilan yang berantakan seperti saat ini.
Byanca kembali mendekati ranjang Adelard, pria itu masih bergelung dengan selimut yang membalut tubuh telanjang nya. Byanca menatap wajah Adelard, wajah nya ketika tidur seperti bayi tanpa dosa, sangat berbeda ketika ia bekerja, atau bertemu orang asing. Tatapan nya tajam dingin serta membunuh, namun Byanca mencintai pria yang sedang ia tatap ini dengan sepenuh hati nya.
“Cetta, bangunlah sayang. Kita harus segera kembali ke mansion.” Byanca duduk di tepian ranjang dengan mengusap usap rambut Adelard yang berantakan, karena Byanca selalu memainkan rambut Adelard ketika mereka sedang bercinta. Adelard tadi melepaskan ikatan dasi di pergelangan Byanca, karena ia tidak tega melihat pergelangan Byanca yang memerah akibat gesekan dasi nya.
“Cetta.”
Byanca mencium kening Adelard, berharap jika kekasih nya ini segera membuka kedua mata nya.
“Hmmm, kau sudah bangun sayang?” Adelard membuka mata nya karena merasakan sebuah ciuman yang mendarat di kening nya. Adelard memeluk pinggang ramping Byanca agar semakin mendekat ke tubuh nya.
“Kenapa kau bangun cepat sekali.” Adelard menelusupkan wajahnya di ceruk leher Byanca. Tangan nya terus memeluk pinggang ramping Byanca, dan menekan nya hingga mengenai perut kekar nya.
“Aku lelah sayang,” jawab Adelard, bercinta dengan Byanca sungguh menguras energi nya. Bukan karena Adelard lemah, namun dikarenakan ia tidak bisa berhenti untuk menyentuh tubuh Byanca.
“Kau bisa beristirahat di mansion.” Byanca melepaskan diri nya dari pelukan Adelard, ia berjalan untuk mengambil pakaian Adelard yang sudah ia bereskan. Mereka kembali menggunakan pakaian yang digunakan tadi, karena tidak ada pakaian cadangan di kamar ini.
“Bangun.” Byanca memberikan tangan nya pada Adelard, bermaksud membantu Adelard untuk bangun dari tidur nya.
“Hmm baiklah.” Adelard bangun dari tidur nya dengan sedikit lemas. Ia mendudukan dirinya di tepian ranjang, memperlihatkan tubuh telanjang nya yang sudah tidak tertutupi oleh selimut lagi. Bahkan junior Adelard pun juga terlihat sedang tertidur di antara kedua paha Adelard.
“Angkat kaki mu.” Byanca memerintahkan Adelard agar mengangkat kaki nya. Byanca sedang membantu Adelard menggunakan pakaian nya, mulai dari ****** ***** Adelard. Bukan hal baru lagi bagi Byanca untuk membantu Adelard memasang pakaian nya. Pria itu sangat manja, jika biasanya ia hanya akan meminta bantuan untuk memasangkan dasi nya, kini Adelard justru meminta Byanca untuk memakaikan seluruh pakaian nya.
“Berdiri.” Perintah Byanca lagi. Ia memasang kemeja, lalu dasi dan disusul oleh jas hitam Adelard yang memiliki harga fantastis.
“Terimakasih sayang.” Setelah Byanca selesai membantu nya memakai pakaian, tak lupa bagi Adelard untuk selalu mengucapkan rasa terima kasihnya. Hidup Adelard kini bergantung pada Byanca, ia sudah terbiasa melakukan sesuatu bersama Byanca. Dan selama nya akan seperti itu.
Adelard dan Byanca berjalan keluar dari lift menuju mobil yang sudah disiapkan oleh Alex. Tangan mereka saling menggenggam satu sama lain. Dugaan Byanca benar, selain Alex mereka menatap Byanca dengan tatapan yang membingungkan, seperti tahu apa yang sudah dilakukan Tuan nya dengan kekasih nya ini hingga keluar dari ruang kerja nya sampai malam hari. Bahkan beberapa direktur sengaja menunggu Adelard sampai keluar dari ruang kerja nya, mereka mungkin sedang berusaha mencari muka dengan Adelard. Mereka beralasan jika memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan, alasan yang sangat tidak masuk akal.
“Kalian tidak perlu menunggu ku lain kali,” ucap Adelard dingin pada mereka. Padahal umur mereka jauh lebih tua dari Adelard, namun Adelard sama sekali tidak merasa takut dengan mereka. Karena mereka yang bekerja di bawah pimpinan Adelard.
“Baik Tuan, maafkan kami,” ucap mereka secara bersamaan dengan menundukkan kepala karena merasa terancam dengan tatapan dingin Adelard. Mereka juga mencuri curi pandang pada Byanca yang keadaan nya sedikit berantakan dengan kissmark di leher nya.
“Aku rasa mereka sedang mencoba untuk menarik perhatianmu, alasan mereka sangat tidak masuk akal,” ucap Byanca ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
“Aku sama sekali tidak tertarik,” jawab Adelard dengan cuek, ia sama sekali tidak tertarik pada mereka.
Tbc