Byanca A Sugar BaBy

Byanca A Sugar BaBy
BASB 43 : Khawatir



Byanca tetap berusaha keluar dari kamar ini dengan tertatih tatih. Seperti nya Adelard tidak mendengar rintihan Byanca, karena jarak mereka yang cukup jauh.


“Awhhh.” Byanca semakin meringis kesakitan, ia mencoba menahan air mata yang ingin menetes lagi. Sungguh malang nasib Byanca hari ini, ia harus merasakan sakit di hati nya dan juga rasa sakit di telapak kaki nya.


Adelard samar samar mendengar suara rintihan seorang wanita, suara yang sangat Adelard kenali. Karena terlalu sibuk dengan pikiran nya sendiri, Adelard tidak menyadari jika Byanca sudah keluar dari kamar mandi. Namun yang membuat Adelard terkejut adalah, banyak bercak darah di atas lantai kamar nya. Dan tatapan Adelard langsung terkunci pada Byanca, wanita itu sedang merintih kesakitan, dan Adelard dapat melihat dari tempat nya berdiri jika kaki Byanca mengeluarkan banyak darah.


“By.” Adelard berlari menuju Byanca dengan menghempaskan botol whisky ke atas lantai.


Byanca mencoba menjauh saat Adelard berlari ke arah nya. Byanca enggan bertemu dengan pria itu untuk saat ini.


Adelard sudah merenungi kesalahan nya, seharus nya ia tidak membentak Byanca dan berkata kasar pada kekasih nya. Adelard menyesali perbuatan nya, ia tahu jika Byanca semakin berpikiran buruk tentang nya, berpikiran jika dirinya akan membuang Byanca.


“Apa sudah waktu nya aku bercerita pada Byanca mengenai wanita ****** itu,” ucap Adelard di dalam hati nya, ia berpikir bagaimana cara menceritakan nya pada Byanca. Jika menceritakan pada Byanca, maka Adelard harus kembali mengingat kenangan bersama wanita yang telah mengkhianati nya itu. Namun jika Adelard terus bungkam, maka Byanca akan semakin berpikir jika ia benar benar masih mencintai wanita yang ada dalam foto itu.


“Oh ****,” umpat Adelard karena telah kehilangan kontrol nya hanya karena melihat foto itu. Adelard juga baru menyadari perbuatan yang ia lakukan, kamar nya berantakan serta ranjang yang hangus di lahap si jago merah.


“BY, kenapa kau bisa terluka.” Adelard ingin menyentuh lengan Byanca, namun Byanca menepis tangan Adelard dengan cepat.


“Pergi, aku tidak ingin melihatmu,” ucap Byanca dingin, ia berusaha menahan rasa sakit di telapak kaki nya. Byanca juga menahan air mata yang akan kembali membanjiri pipi nya.


“Kakimu terluka By.” Adelard benar benar menyesali perbuatan nya, karena Byanca bersikap dingin kepada nya. Ini semua salah Adelard, dan kaki Byanca bisa terluka juga karena salah Adelard. Hanya Byanca yang bisa membuat Adelard merasa bersalah dan menyesali perbuatan nya.


“Apa pedulimu.”


“Pedulikan saja wanita yang ada di foto itu dan cepat buang aku,” ujar Byanca enggan menerima uluran tangan Adelard. Byanca hendak melangkahkan kaki nya lagi, namun ia tidak bisa menahan rasa sakit dan perih di kaki nya lagi. Byanca ingin terjatuh, namun Adelard menyadari itu, Adelard segera membantu Byanca, namun lagi lagi wanita itu menghempaskan tangan Adelard.


“Tunggu sebentar.” Adelard tidak menghiraukan ucapan Byanca yang terus menyinggung perihal foto yang sudah Adelard bakar habis, hingga abu nya pun sudah tidak tersisa.


“Aku membencimu Cetta.” Byanca memegangi dadanya yang terasa sesak dengan menyandarkan tubuhnya pada dinding kamar.


Adelard bahkan terlihat baik baik saja, seperti tidak ada yang terjadi di antara. Adelard menghampiri Byanca tanpa ada kata maaf dan penjelasan lebih dulu.


“Oh god.” Byanca menatap kaki nya yang berlumuran banyak darah.


“Argh, hiks.” Byanca menggigit bibir bawah nya agar bisa menahan rasa sakit yang kurasakan. Air mata tak henti henti nya keluar dari kedua mata Byanca. Mata nya memerah nya serta bagian bawah nya yang membengkak, hidung Byanca pun memerah karena sedari tadi ia terus menangis.


Entah apa yang sedang Adelard lakukan hingga tak kunjung kembali ke kamar. Itu hanya perasaan Byanca saja, karena Adelard baru keluar dari kamar beberapa detik yang lalu.


Adelard keluar dari kamar nya dengan pikiran kalang kabut, Adelard harus segera menghubungi dokter pribadi keluarga agar datang ke mansion dan mengobati luka di telapak kaki Byanca.


“Cetta, Cetta, ada apa nak.” Brisiana menghampiri Adelard yang terlihat sedang terburu buru, raut wajah nya menunjukan jika Adelard sedang panik. Raut wajah yang jarang Adelard perlihatkan.


Brisiana masih setia menunggu Adelard dan Byanca keluar dari kamar nya, mereka berjaga jaga agar tidak terjadi sesuatu yang lebih menegangkan. Brisiana tidak hanya bersama Maxwel namun Mark dan Angel juga berada disini.


Alex yang mengerti maksud dari tatapan Adelard dengan segera menghubungi Dokter untuk datang ke mansion utama.


“Apa yang telah terjadi Adelard?” Brisiana mengguncang tubuh Adelard agar menjelaskan apa yang telah terjadi, Brisiana sudah berpikiran negatif, ia takut terjadi sesuatu hal yang buruk pada Byanca.


Adelard kembali berjalan memasuki kamar nya tanpa menjawab pertanyaan dari mommy nya, Adelard ingin jika mommy nya melihat keadaan Byanca secara langsung tanpa perlu panjang lebar Adelard menjelaskan nya.


Bukan hanya Brisiana saja yang merasa khawatir, Maxwel, Mark serta Angel pun ikut merasakan kekhawatiran itu. Mark bahkan memaksakan diri keluar dari rumah sakit untuk melihat kondisi Byanca.


Mereka semua berjalan memasuki kamar Adelard, dan tatapan mereka langsung tertuju pada seorang wanita yang sedang bersimpuh di lantai, dan jangan lupakan darah yang ada di sekitar nya.


“Oh god By.” Brisiana berlari ke arah Byanca disusul oleh Maxwel dan Angel.


“Apa yang terjadi pada kakimu nak?” tanya Maxwel, wajah Byanca kini sudah terlihat pucat, dan air mata yang membekas di kedua pipi nya.


“Oh god.” Angel menutup mulut nya tak percaya ketika melihat darah yang mengalir dari telapak kaki Byanca.


“Begini caramu memperlakukan wanita, hah!” Maxwel memegang kerah kemeja Adelard sangat erat, Maxwel terlihat sangat marah, dan kehilangan kontrol emosi nya.


Bugh!


Maxwel mendaratkan pukulan pada pipi kanan Adelard hingga membuat nya tersungkur di lantai.


“Apa Daddy pernah mengajarkan untuk berbuat buruk pada wanita, hah!” Maxwel menarik kerah Adelard lagi agar ia kembali berdiri.


Adelard tidak melawan, ia pasrah menjadi sasaran amukan Maxwel. Karena Adelard sadar, jika ini semua adalah salah nya.


Bugh!


Maxwel kembali meninju Adelard hingga membuat nya terhuyung ke belakang.


“Daddy apa yang kau lakukan.” Brisiana berusaha menarik badan tegap Maxwel agar berhenti memberi pukulan pada wajah Adelard, karena Adelard menerima pukulan dari Maxwel tanpa berusaha membalas nya.


“Lepas sayang, aku harus memberi pelajaran kepada anak ini.” Maxwel menunjuk Adelard yang menyentuh pipi nya yang terasa ngilu. Maxwel berusaha melepaskan pelukan Brisiana dengan pelan agar tidak menyakiti tubuh Brisiana, meski tersulut emosi Maxwel masih bisa mengatur emosi nya agar tidak melampiaskan rasa amarah nya pada orang lain.


Awalnya Brisiana tidak ingin Maxwel memukuli Adelard, tapi karena ia tahu kesalahan Adelard jadi ia membiarkannya. Walaupun anaknya sendiri pun sekalipun, tetap saja Adelard bersalah. Ia dan Maxwel sudah mendidik Adelard untuk tidak pernah main kasar atau menyakiti wanita, jadi wajar jika Adelard mendapatkan hukumannya sekarang.


“Berhenti Dad, ku mohon, hiksss.”


“Jangan lakukan itu kepada Cetta.” ujar Byanca dengan suara isakan yang begitu khawatir dengan Adelard. Pria itu tidak melawan sama sekali.