Byanca A Sugar BaBy

Byanca A Sugar BaBy
BASB 42 : Kenangan Buruk



Adelard membakar foto-foto tadi, namun bodoh nya Adelard ia membuang foto yang terbakar itu tepat di atas ranjang yang rentan terbakar. Pikiran Adelard kalut, ia sangat marah dan emosi ketika melihat foto yang sudah sangat lama itu lupakan, terutama foto seorang wanita di dalam foto itu. Adelard sangat membenci wanita yang telah mengkhianati dan hanya mengincar kekayaan nya saja. Foto itu diambil sudah lebih dari tiga tahun lama nya, dan sudah menjadi kenangan yang tidak akan pernah Adelard ingat lagi. Melihat foto wanita itu saja membuat Adelard kembali merasakan rasa sakit hati yang wanita itu perbuat, Adelard tidak akan pernah melupakan orang orang yang telah melukai hati nya.


“Argh sial.” Adelard menarik rambut nya secara kasar, ia tidak dapat berpikir dengan jernih, pikiran nya kembali mengulang kejadian beberapa tahun silam. Kejadian yang membuat kehidupan Adelard hancur saat itu. Byanca memang tidak tahu mengenai masa lalu Adelard yang kelam, karena Adelard berpikir jika Byanca tidak perlu tahu, lagipula itu semua masa lalu yang tidak ingin Adelard ingat kembali.


“Kenapa masih ada foto ****** itu di kamar ini.”


Prang!


Adelard membanting vase yang ada di atas nakas nya hingga pecah dan berantakan di atas lantai.


Adelard bahkan belum menyadari api yang yang menjalar dan kian membesar di atas selimut dan sprei ranjang nya.


“Brengsek.” Adelard membanting semua benda yang ada di kamar ini, semua berserakan di lantai dan banyak pecahan beling di atas lantai marmer yang mahal ini.


Kamar ini sangat berantakan, seperti terkena hantaman ombak yang membuat isi nya hancur.


“Astaga, ada apa ini Adelard?” tanya Brisiana yang tiba tiba muncul di hadapan Adelard dengan wajah panik nya, bukan hanya Brisiana namun Maxwel juga memasuki kamar Adelard yang seperti kapal pecah.


“Cepat padamkan api itu,” perintah Maxwel pada anak buah nya yang memegang alat pemadam api. Mereka datang ke kamar Adelard dengan wajah panik karena terdengar suara peringatan yang menandakan ada titik api di mansion ini. Tak di duga ternyata api itu berasal dari kamar Adelard, yang lebih mengejutkan lagi adalah, kamar ini yang sangat berantakan. Brisana dan Maxwel harus bergerak dengan hati hati karena takut terkena pecahan beling yang berserakan di atas lantai.


Adelard seperti tidak melihat kehadiran daddy dan mommy yang terlihat sangat khawatir, ia tetap dengan pikiran nya yang sedang kalut. Bukan karena Adelard masih mencintai wanita ****** itu, namun rasa benci di dalam diri Adelard melebihi apapun yang ada di dunia ini.


“Nak, apa yang terjadi.” Maxwel berusaha mendekati Adelard, ia tahu jika anak nya itu tengah diliputi oleh amarah dan emosi. Maxwel tahu betul bagaimana sifat Adelard, ia tidak akan pandang bulu jika pikiran nya sudah dipenuhi oleh amarah.


Adelard hanya terdiam menatap ke arah jendela kaca, entah apa yang saat ini tengah ia pikirkan.


Sedangkan api yang membakar ranjang Adelard sudah berhasil di padamkan, api membuat ranjang ukuran king-size itu tidak layak pakai lagi, dan akan berakhir di tempat pembuangan sampah.


“Cetta.” Maxwel mencoba memanggil nama Adelard tadi, namun pria itu masih diam seribu bahasa dengan tatapan yang menatap tajam ke depan, tatapan dingin yang mematikan, orang lain yang melihat tatapan itu pasti akan merasa merinding dan ketakutan.


“Tinggalkan aku Dad,” jawab Adelard dengan sangat dingin, ucapan nya terdengar seperti tidak ingin dibantah. Adelard tidak ingin hilang kendali, dan akan menyakiti daddy dan mommy nya.


“By, kau dimana sayang.” Brisiana berusaha mencari Byanca dengan meneriakkan nama nya, Brisiana khawatir jika terjadi sesuatu pada Byanca. Karena saat ia masuk ke dalam kamar ini, tidak terlihat wajah Byanca sama sekali.


“Dimana Byanca, Cetta?”


“Apa kalian sedang bertengkar?”


“Kau tidak menyakiti nya bukan?!” tanya Brisiana secara bertubi tubi, ia sangat khawatir dengan Byanca. Jika sedang emosi, Adelard tidak bisa menahan dirinya. Ia akan lepas kendali tidak peduli siapa lawan bicara nya.


“Tinggalkan aku,” ucap Adelard lagi, ia bahkan tidak memikirkan keadaan Byanca saat ini setelah pertengkaran hebat mereka. Namun jauh didalam lubuk hati Adelard, ia pun khawatir dengan keadaan Byanca yang berlari menuju kamar mandi sambil terisak.


“Ku mohon.” Adelard sedang tidak ingin di ganggu. Ia harus menenangkan pikiran nya lebih dahulu.


Di dalam kamar mandi, seorang wanita masih menangis dengan tersedu sedu. Ia mengabaikan lantai marmer yang terasa dingin mengenai kulit nya.


Byanca benci dengan sifat plin-plan Adelard, Byanca tetap menangis padahal ia sudah menyiapkan hatinya. Tapi mengapa hatinya lemah sekali.


*


Byanca keluar dari persembunyian nya, saat ia berjalan menyusuri kamar ini. Byanca dibuat terkejut dengan keadaan kamar yang sangat berantakan, Byanca harus berjalan dengan hati hati agar telapak kaki nya tidak terkena pecahan beling di lantai.


Byanca semakin di buat kecewa oleh Adelard, karena pria itu sama sekali tidak berusaha untuk membujuk Byanca dan menjelaskan mengenai foto itu. Dan itu semakin membuat luka di hati Byanca membesar. Byanca mencintai Adelard, jadi ia menjadi seperti ini. Byanca bahkan tidak peduli jika memang Adelard mencintai wanita lain, tapi Byanca tidak ingin dibuang. Jika memang Adelard ingin membuangnya, buanglah sekarang. Atau Byanca pergi saja?


Byanca melihat Adelard yang tengah berdiri menatap keluar jendela dengan sebotol whiskey di tangan nya. Adelard menenggak minuman beralkohol tinggi itu seperti sedang meminum sebotol air mineral. Adelard seperti seseorang yang sedang frustasi, seharus nya yang ada di posisi Adelard adalah Byanca, karena Byanca yang merasakan sakit di hati nya.


Byanca berjalan dengan pelan, ia akan pergi dari kamar ini tanpa sepengetahuan Adelard.


“Shh, awhhh.” Byanca mengerang saat merasakan sesuatu yang menancap di telapak kaki nya hingga mengeluarkan darah. Dengan cepat Byanca menutup mulut nya agar Adelard tidak menyadari jika dirinya sudah keluar dari kamar mandi. Byanca menoleh ke arah Adelard, ternyata pria itu masih setia dengan posisi berdiri nya.


Byanca berjalan dengan tertatih tatih menahan rasa sakit di telapak kaki nya. Darah segar yang keluar dari telapak kaki Byanca berceceran di atas lantai, Byanca meninggalkan jejak darah yang sangat kontras dengan warna lantai. Namun darah yang keluar dari telapak kaki Byanca begitu banyak, Byanca pun juga merasakan rasa sakit yang luar biasa, seperti ada yang tertancap di telapak kaki nya.


“Oh arghhhh.” Byanca berusaha menahan rasa sakit nya dengan berpegangan pada tembok kamar ini. Tidak hanya terasa sakit namun juga terasa perih seperti ada benda yang merobek telapak kaki nya, Byanca tadi sudah sangat berhati hati melewati serpihan beling yang berserakan di lantai. Namun nyata nya Byanca tidak bisa menghindari itu semua.