
Byanca memandangi punggung tegap Adelard yang tengah fokus memasak, Byanca memandangnya dengan senyum yang mengembang. Byanca bukannya mengganggu pekerjaan Adelard yang menumpuk, Byanca juga bukannya tidak pengertian hanya saja Adelard sendiri yang menawarkan diri untuk memasak makan siang untuk mereka.
“Bagaimana jika aku membantu?” tawar Byanca membuat Adelard mengangguk setuju, Byanca mengambil alih tugas Adelard.
“Sayang, apinya kecilkan sedikit,” ujar Adelard lembut, ia kini tengah duduk di counter dapur sambil mengawasi Byanca memasak. Byanca menuruti perkataan Adelard dengan mengecilkan api yang sedang mematangkan daging yang ia panggang.
“Berapa lama aku harus memanggang nya sayang?” tanya Byanca dengan berbalik badan menatap Adelard yang sekarang sedang memperhatikannya.
“Kau harus membaliknya setiap empat menit agar dagingnya benar-benar matang,” jawab Adelard sambil memasukan cemilan kedalam mulut Byanca. Adelard sangat menyukai Byanca dalam keadaan mengunyah sesuatu.
“Manis sekali, aku suka,” ujar Byanca dengan mata yang berbinar membuatnya mendapat ciuman dari Adelard.
“Kau benar sayang, sangat manis,” ujar Adelard lalu mengelap sudut bibir Byanca menggunakan jarinya, bukannya mengelapnya Adelard memakan remahan cemilan dari bibir Byanca.
“Cetta, jangan sembarangan menciumku. Aku sedang fokus sekarang,” ucap Byanca setengah kesal pada Adelard.
Byanca mengabaikan Adelard dan kembali fokus pada masakannya, sebentar lagi dagingnya akan benar-benar matang.
“Sisanya biar aku saja, ini panas baby,” ujar Adelard mengambil alih membuat Byanca menganggukan kepalanya.
Adelard menyiapkan piring terlebih dahulu sebelum memindahkan daging yang baru saja Byanca panggang.
Adelard membawa daging ke hadapan Byanca, tanpa banyak bicara Byanca langsung mencicipi hasil masakannya. Katakan saja begitu agar Byanca senang.
“Selamat makan,” ujar Byanca membuat Adelard juga langsung makan.
“Bagaimana?” tanya Byanca ketika Adelard sudah menelan dagingnya.
“Not bad, baby,” jawab Adelard kembali memasukan daging ke dalam mulutnya. Karena memanggang daging sangat mudah dan kegagalannya pun rendah. Meskipun tidak pandai memasak pasti rasanya akan tetap lezat dimakan kecuali daging itu gosong itu akan membuat daging terasa pahit dan tidak enak dimakan.
Uhuk!
Byanca tersedak oleh makanannya, dengan gerakan cepat Adelard memberikannya menim.
“Minum sayang,” ujar Adelard.
“Kau harus memakannya pelan-pelan By.” Adelard mengusap punggung Byanca sayang.
“Terima kasih sayang.”
Setelah makan siang, Byanca kembali ke kamar sementara Adelard kembali bekerja. Sudah lama Adelard bekerja di mansion bahkan meeting pun dilakukan di mansion karena Adelard tidak ingin meninggalkan Byanca. Tepatnya jika Byanca jauh Adelard akan rindu.
*
Byanca sangat bosan berada di dalam mansion, ia rindu mengendarai mobilnya dijalanan ibu kota.
Byanca ingin memberitahu Adelard tapi pria itu sedang meeting, Byanca tentu saja tidak ingin mengganggu pekerjaan Adelard bukan.
“Nona anda akan pergi kemana?” tanya Alex bodyguard yang menjaga Byanca ketika Adelard sedang bekerja.
“Aku ingin berkeliling dengan mobilku.” Byanca menjawab sambil mencari bunyi mobilnya.
“Biar saya yang menyetir Nona,” ujar Alex membuat Byanca menggelengkan kepalanya.
“Tidak, aku ingin berkendara sendiri.”
“Tapi Nona, Tuan akan sangat marah jika Nona pergi sendirian,” ujar Alex membuat Byanca berpikir dengan otak cantiknya, ia merindukan mobilnya dan ia ingin mengendarai sendiri. Tapi, jika ia melakukannya nanti Alex akan dapat hukuman karena dirinya.
“Bagaimana, jika kau mengikutiku dari belakang,” usul Byanca membuat Alex berpikir sejenak.
“Baik Nona.”
Akhirnya Byanca mengendarai mobilnya juga, polusi, kemacetan, dan juga kendaraan yang menumpuk sudah lama sekali Byanca tidak melihat ini semua. Mata Byanca menjadi berbinar dan mengendarai mobilnya sambil bersenandung pelan.
Byanca berhenti di lampu merah ketika lampu hijau Byanca sudah menyiapkan untuk segera mengebut namun ketika mobilnya mulai berjalan ada seorang anak kecil yang menyebrang sembarangan membuat Byanca membanting setir dan menabrak tiang lampu lalu lintas.
“NONA!” terika Alex langsung keluar dari mobilnya dan menghampiri Byanca, dengan segera Alex membawa Byanca kerumah sakit terdekat.
Adelard yang sedang rapat langsung meninggalkan rapat ketika mendapat kabar bahwa Byanca mengalami kecelakaan. Jantung Adelard bahkan hampir berhenti berdetak sangking khawatirnya.
“Mark, bagaimana bisa Byanca mengendarai mobil?” tanya Adelard tajam membuat Mark merinding.
“Saya tidak mendapat laporan Tuan, namun saya sudah mengirim Alex untuk menjadi bodyguard Nona hari ini,” jelas Mark membuat Adelard berdecak kesal.
“Cepat lajukan mobilmu Mark, kau ingin mati, hah!”
Dengan kecepatan penuh Mark membawa mobilnya jika tidak tuannya akan terus mengomel, Mark tahu Tuannya begini karena memang Adelard mengkhawatirkan Byanca lebih dari apapun.
“Tuan kita telah...,” ujar Mark terpotong karena Adelard langsung keluar dari mobil.
Setelah mengetahui keberadaan Byanda dari Suster, Adelard langsung menghampiri ruangan Byanca.
“Dimana Byanca?” tanya Adelard pada Alex yang berdiri di depan ruangan pemeriksaan.
“Nona ada..,”
Belum sempat Alex menjawab tulang keringnya sudah ditendang oleh Adelard, Alex tidak mengeluh ini memang salahnya ia harus mendapat ganjaran yang setimpal.
“Kita bicarakan nanti,” ujar Adelard dengan menekan suaranya ketika Dokter sudah memeriksa Byanca.
“Bagaimana keadaan wanita saya, Dok?” tanya Adelard membuat Dokter menganggukan kepala lalu menjelaskan.
“Nona Byanca mengalami cedera kepala namun tidak parah, hanya saja terdapat luka jahitan di kepalanya dan juga sekarang Nona Byanca sedang tidur karena obat bius.”
“Saya ingin melihat Byanca.”
“Silahkah, jangan sampai mengganggu pasien karena pasien butuh istirahat yang cukup.”
“Tanpa kau beritahu aku sudah tahu.” Adelard langsung masuk kedalam ruangan Byanca.
Adelard memegang tangan Byanca, Adelard sedikit lega karena wanitanya selamat. Namun ia begitu marah pada Alex atas kecerobohannya Byanca menjadi seperti ini.
“Mark beri hukuman yang setimpal pada Alex, buat dia merasakan apa yang dirasakan oleh Byanca!”
“Baik Tuan.”
Adelard mencium tangan Byanca lalu mengelus perban di kepala Byanca, ‘Rasanya pasti sakit sekali kan By.’ Adelard mencium perban di kepala Byanca.
“Maaf karena membuatmu bosan,” ujar Adelard begitu menyesal karena telah mengabaikan Byanca sendirian, Angel adiknya itu sedang sibuk dengan urusan kuliahnya sehingga Byanca tidak ada teman mengobrol.
“Cetta.” Byanca membuka matanya, Adelard langsung memeluk Byanca erat.
“Cetta, aku sesak,” ujar Byanca membuat Adelard melonggarkan pelukannya.
“Maafkan aku sayang,” ujar Adelard dengan suara bergetar, Adelard menangis. Sosok kuat yang Byanca tahu menangis karena dirinya.
Byanca menghela nafas, seharusnya dialah yang minta maaf bukannya Adelard.
“Maafkan aku,” ujar Byanca, ia berjanji pada dirinya tidak akan membuat Adelard khawatir lagi.
“Permisi,” ujar seseorang membuat Adelard melepaskan pelukannya dan menghapus sisa air matanya. Siapa orang yang berani mengganggu ketentramannya memeluk Byanca.
“Lucas!” panggil Byanca terkejut karena melihat seseorang yang ia kenal.