
“Tidak, jangan siksa aku dan anakku lagi, biarkan aku hidup,” teriak Karin sambil memegang perutnya. Jiwanya sudah mulai terganggu oleh penyiksaan yang dilakukan oleh anak buah Adelard.
“Karin, tenanglah sayang,” ujar Erwin memeluk Karin dan menangkannya.
“Lepaskan aku, kau bukan ayahku. Singkirkan tangan kotormu, aku rindu papi.” Karin menangis tersedu-sedu, lagi dan lagi Erwin tidak bisa melakukan apapun untuk wanita yang ia cintai.
Disini Karin lah yang paling menderita, pertama ditinggalkan tunangannya, kedua kehilangan anaknya yang bahkan masih dalam bentuk darah, ketika Papinya ternyata bukan ayahnya, lalu yang keempat keluarga Karin bangkrut dalam waktu sehari, dan yang terakhir ia disiksa oleh sepupunya sendiri. Dosa apa yang telah Karin lakukan hingga membuatnya menderita seperti ini, jika mampu mengulang waktu Karin hanya ingin hidup bahagia di samping Papinya saja.
Byanca pergi ke ruang bawah tanah ditemani bodyguard yang telah Adelard siapkan, karena pria itu tidak bisa menemani dikarenakan ada pekerjaan mendadak yang harus ia selesaikan.
Byanca tersenyum puas ketika melihat Karin, Jill dan Erwin seperti ini, namun Byanca belum puas sama sekali. Mereka harus merasakan mati berkali-kali dan membuat mereka merengek minta dibunuh seketika.
“Bagaimana kabar kalian? Kurasa kalian harus lebih di siksa lagi, kalian ikat mereka lalu celupkan kedalam kolam ke air. Jangan biarkan mereka mati, siksa mereka hingga mereka mau mati saja.” Byanca memberikan perintah dengan tersenyum jahat.
“By, jangan lakukan itu pada Bibimu dan Karin, bukan kami yang membunuh orang tuamu tapi dia. Hukum dia saja By, biarkan Bibi dan Karin pergi dari sini,” ujar Jill bersujud dikakinya, Byanca bukannya kasian ia menatap Bibinya dengan tatapan tajam.
“Kalian, singkirkan dia sekarang. Dan cepat siksa mereka.”
“Saya mohon Nona, hukum saya saja. Jill dan Karin tidak bersalah sama sekali, saya akan mati sesuai dengan Nona inginkan,” ujar Edwin membuat Byanca tersenyum evil.
“Rupanya cintamu pada Jill dan Karin itu besar ya, kalau begitu kau harus melihat mereka tersiksa lebih dahulu.” Byanca memberi perintah untuk menyiksa Karin dan Jill terlebih dahulu.
“Akhhhhh!” teriak Jill ketika kakinya diikat dari ketinggian ia dimasukan kedalam kolam renang yang ada di ruang bawah tanah, bisa dibayangkan air itu sangat kotor dan sudah bercampur dengan darah.
“Ceburkan!”
Jill dimasukan kedalam kolam berenang, bisa dibayangkan betapa tersiksanya Jill sekarang. Wanita yang selalu mengutamakan kebersihan harus masuk kedalam air yang penuh kotoran.
“Angkat!”
“Ikat dan siksa Karin bersama Jill, Erwin kau harus melihat mereka baik-baik dengan matamu ini,” ujar Byanca membuat Erwin menangis tersedu-sedu, hatinya remuk seketika melihat orang yang ia cintai di siksa dihadapannya.
“Ceburkan!”
“Angkat!”
Bagus, Byanca sangat menyukai jenis siksaan ini. Apalagi membuat mereka langsung tersiksa secara langsung oleh nya.
Byanca melakukan siksa itu hingga Jill dan Karin tidak sadarkan diri, badan mereka sudah dingin membeku karena siksaan itu.
“Bagaimana Erwin? Kau suka melihatnya?” tanya Byanca membuat Erwin yang sudah kehabisan tenaga menggelengkan kepalanya.
“Bagus, setiap hari kau akan melihat pemandangan yang sama persis seperti ini.” Byanca menendang Erwin hingga pria itu terjatuh dilantai.
“Sekarang, ayo kita buat dia lebih menderita.” Byanca memberikan perintah agar Erwin disiksa sama persis seperti Jill dan Karin.
*
Keesokan harinya, Karin menjadi gila. Wanita itu sudah banyak menderita secara mental, hingga jiwanya terganggu dan menjadi gila.
Karin tidak lagi disiksa melainkan dimasukan kedalam penjara, membuat Karin lebih tersiksa lagi. Karin sangat membenci tempat yang gelap dan Byanca meletakkannya ke dalam penjara yang amat gelap.
“Akhh!”
Byanca tersenyum puas ia bisa mendengar suara teriakan Karin yang begitu merdu didengar.
Byur!
Byanca menyiram Jill dan Erwin agar mereka bangun dari tidur, hari ini mereka harus mendapatkan siksaan lagi.
“Bagaimana hari kalian, bukan hari ini kalian harus lebih menderita.”
“Keluarga? Apa itu? Apakah jenis siksaan baru?” tanya Byanca mencemooh Jill.
“Bibi akan melakukan apapun asalkan kau memaafkan Bibi dan membawa Karin untuk mendapatkan perawatan.”
“Hidupkan kembali orang tuaku,” ujar Byanca membuat Jill terdiam lalu menangis kencang.
“Maafkan Bibi, By. Bibi sangat menyesal.”
“Penyesalan tidak dibutuhkan disini, kalian harus merasakan penderitaan sampai kalian memohon untuk mati. Lalu disiksa lagi, begitulah seterusnya hingga ajal kalian datang.” Byanca sudah membuat tekad yang bulat, ia tidak akan memaafkan orang-orang yang telah membuat orang tuanya meninggal.
“Hari ini ada jenis penyiksaan lain, panggil mereka.”
Tidak lama kemudian datang 5 orang pria berbadan besar,
“Lakukan apapun yang kalian suka, wanita itu hari ini milik kalian.”
“Byanca, Bibi mohon jangan lakukan ini,” ujar Jill memohon pada Byanca.
“Hari ini kau juga harus melihat baik-baik, Erwin.”
“Jangan dekati aku! Menjauhlah, hiks, hiks,” ujar Jill berteriak frustasi karena sekarang badanya sudah kotor karena dijamah oleh pria-pria yang dikirim Byanca.
Byanca menikmati pemandangan di depannya, Jill bahkan tidak jelas berteriak mendesah atau berteriak agar dilepaskan.
Erwin terduduk lemas melihat wanita yang dicintainya disentuh oleh banyak pria tepat di depannya.
“Kau bahkan menikmatinya Bibi,” ujar Byanca tersenyum mengejek Jill.
“Sekarang pria ini juga boleh kalian nikmati,” ujar Byanca membuat Erwin tidak sadar memundurkan langkahnya.
“Jangan mendekat, jangan dekati aku sialan!” ujar Erwin dengan suara bergetar.
Sama hal nya dengan Jill, tubuh Erwin juga dijamah oleh pria-pria yang dipanggil oleh Byanca. Byanca dapat melihat Jill terduduk lemas sambil mengeluarkan air mata tanpa suara, ah benar bukankah suaranya sudah habis karena mendesah nikmat.
Byanca puas melihat Erwin trauma dengan laki-laki, belum lagi ia begitu tersiksa sekarang.
“Kembali siksa mereka, gantung dan diceburkan kedalam kolam renang!” perintah Byanca membuat anak buah Adelard langsung menyiksa keduanya.
Dilihat dari manapun Byanca adalah wanita lemah lembut dan tidak mungkin memiliki sisi yang kejam seperti ini, siapapun yang melihatnya sekarang Byanca memang cerminan dari Tuan mereka, Adelard.
Sedangkan di kantornya, Adelard tersenyum puas karena wanitanya mempunyai bakat yang spesial. Dan Adelard bangga pada Byanca, apapun jenis siksaan yang diberikan oleh Byanca, Adelard merasa senang.
Ketika Jill dan Erwin sudah ingin pingsan barulah Byanca melepaskan mereka.
“Hari ini sangat melelahkan bukan?”
“Bunuh aku sekarang.” Jill berkata lemah membuat Byanca menggelengkan kepalanya.
“Tidak semudah itu Bibi, matilah setelah aku ingin kau mati,” ujar Byanca dengan suara yang kejam, siapapun pasti merinding mendengarnya.
“Sekarang giliran kalian menyiksa mereka, ingat jangan biarkan mereka mati.”
“Baik Nona”
Byanca kembali ke kamarnya, hari ini ia sangat puas. Besok ia akan kembali menyiksa keluarga Bibinya.
Omong-omong bagaimana dengan Pamannya yang melarikan diri? Tentu saja Byanca meminta Adelard untuk membakar rumah Pamannya dan membuat Pamannya tersiksa sedikit, mau bagaimana pun bukan kah Bram adalah Pamannya. Jadi wajar jika ia mendapatkan sedikit hukuman dari Byanca.