
Mobil yang ditumpangi oleh Adelard dan Byanca telah sampai di pelataran sebuah villa mewah yang berada di dekat pantai, bahkan langsung terhubung dengan pantai pasir putih yang memiliki air berwarna biru yang sangat jernih. Kawasan ini sedikit jauh dari daerah perkotaan sehingga udaranya masih sangat asri dan menyegarkan. Sesuatu yang sangat disukai oleh Byanca, jauh dari hiruk pikuk keramaian kota.
Adelard mengangkat tubuh Byanca ala bridal style keluar dari mobil yang ditumpangi. Adelard tidak tega jika harus membangunkan Byanca, karena seperti nya Byanca sangat kelelahan dan tidurnya sangat nyenyak.
“Biarkan saya Tuan yang menggendong Nona Byanca.” Alex ingin memindahkan tubuh Byanca ke dalam gendongan nya, tujuan nya hanya ingin membantu Adelard. Namun yang Alex dapatkan justru tatapan tajam dari Adelard.
“Tidak perlu.” Adelard menjawab dengan dingin, ia tidak ingin jika orang lain menyentuh tubuh Byanca, meskipun dengan niat baik sekalipun.
“Maafkan saya Tuan.” Alex dengan cepat membungkukkan badan nya. Namun Adelard hanya melewati Alex dengan menggendong Byanca memasuki sebuah villa. Mark yang lebih dulu berjalan di depan Adelard, membukakan pintu untuk Adelard dan Byanca masuk.
“Perketat keamanan Mark,” ucap Adelard ketika melalui Mark.
“Baik Tuan,” angguk Mark mengerti dengan perintah Adelard.
Adelard membawa Byanca memasuki kamar yang ada villa ini, dan membaringkan tubuh Byanca di atas ranjang dengan hati hati.
“Mmmhh.” Byanca menggeliat ketika Adelard membaringkan badan nya di atas ranjang.
“Tidurlah,” ujar Adelard dengan berbisik di samping telinga Byanca, lalu menarik selimut agar menutupi tubuh Byanca.
Setelah Byanca kembali tidur dengan nyenyak, Adelard beranjak dari ranjang dan mengeluarkan ponsel milik nya.
“Adelard, apa kau sudah sampai?” itu adalah suara Bryan. Adelard sedang menghubungi Bryan melalui panggilan telepon.
“Baru saja, kau dimana Bryan?” tanya Adelard, karena disini terdapat beberapa villa yang tersebar di pinggir pantai, maka ia tidak tahu dimana posisi Bryan saat ini. Sedangkan posisi Adelard dan Byanca saat ini sedang berada di villa utama.
“Kami semua sedang berada di kolam renang, di bawah gazebo,” ujar Bryan, posisi gazebo yang Bryan maksud adalah tidak jauh dari garis pantai dan gazebo itu dikelilingi oleh kolam renang, yang melingkar memanjang.
“Baiklah, Byanca sedang tidur, jadi aku tidak bisa pergi sekarang. Kalian bersenang senang lah terlebih dahulu.” ujar Adelard dengan melirik Byanca yang masih tertidur di atas ranjang.
“Baiklah.” Bryan menutup ponsel nya dan kembali bersenang senang. Disini ada Angel, Stella dan dirinya.
“Aku akan masuk ke villa, kalian bersenang-senanglah,” ucap Angel ia tidak ingin menjadi obat nyamuk.
Mereka kini tengah bersenang senang dengan berenang di kolam renang atau sekedar berjemur di bawah terik matahari.
“Bryan tolong bantu aku.” Stella menyerahkan gel pada Bryan agar kulitnya tidak terbakar oleh sinar matahari.
“Apa kau yakin akan berjemur sayang?” tanya Bryan, tangan nya mulai menggosokkan gel ke atas kulit Stella, posisi Stella kini tengah tengkurap jadi Bryan menggosokkan gel permukaan punggung Stella.
“Tentu saja Bryan, aku ingin kulit ku sedikit berwarna gelap, agar terlihat eksotis,” jawab Stella, sembari menikmati usapan tangan Bryan di punggung nya.
“Apa Adelard dan Byanca belum juga sampai?” tanya Stella.
“Bryan, apa Adelard dan Byanca belum sampai?” Stella meneriaki Bryan yang tengah berada di tengah tengah kolam renang.
“Mereka sudah sampai, namun Byanca tertidur, mungkin sebentar lagi mereka akan segera turun,” jawab Bryan di tengah tengah kolam renang.
*
Byanca perlahan membuka matanya, namun ia merasa asing di tempat ini. Bukankah ia tadi tertidur di dalam mobil dan kini ia sudah berada di dalam sebuah kamar.
”Sejak kapan aku tertidur di atas ranjang, lalu dimana Adelard.” Byanca menyandarkan tubuh nya di sisi ranjang, mata nya masih menilai sekeliling kamar ini. Dan Byanca dibuat takjub dengan desainnya.
“Oh my god, ini sangat indah.” Byanca terpana dengan pemandangan yang ia lihat di depan mata nya, Byanca sampai menutup mulutnya karena benar benar terpukau dengan hamparan pasir putih dan laut biru di depan mata nya.
Byanca membuka pintu yang ada di balkon kamar.
“Healing.” Byanca dengan merentangkan kedua tangan nya, menghirup udara segar dalam dalam.
“Jadi Adelard membawa ku ke tempat sebagus ini?”
“Dia menuruti janji nya pada ku waktu itu.” Byanca mengingat janji Adelard yang mengatakan akan membawa Byanca ke tempat yang jauh dari perkotaan, dan ini semua sesuai seperti harapan Byanca.
“Lalu, dimana Adelard.” Byanca bahkan sampai melupakan Adelard karena terpukau dengan tempat ini.
Byanca kembali menutup pintu balkon nya, dan mencari keberadaan Adelard.
“Adelard.” Byanca meneriaki nama Adelard sehingga suara nya memenuhi kamar ini.
Byanca mengikuti langkahnya untuk mencari keberadaan Adelard, Byanca cukup bingung dengan letak ruangan yang berada di villa ini.
Saat sedang fokus membahas pekerjaan nya dengan Mark, Adelard mendengar jika Byanca memanggil manggil nama nya.
“Kau lanjutkan, aku akan menemui Byanca terlebih dahulu.” Adelard kemudian berjalan mencari sumber suara Byanca.
“Adelard, kau dimana.” Byanca merasa sedikit takut karena tempat ini sangat sepi.
“Adelard, jangan bermain main. Aku takut.” Byanca semakin merasa takut ketika mendengar suara derap langkah mendekat ke arah nya.
“Hei By, aku disini.” Adelard yang berdiri di belakang Byanca dengan memasukan kedua tangan nya ke dalam saku celana nya. Byanca membalikan badan nya ketika mendengar suara Adelard.
“Kau membuat ku merasa takut.” Byanca langsung memeluk tubuh Adelard.
“Maafkan aku.” Adelard mengusap usap punggung Byanca, menenangkan Byanca agar tidak merasa takut.
“Kau darimana?” tanya Byanca.
“Aku sedang bersama Mark di ruangan sebelah.” Adelard menunjuk ruangan yang berada di sebelah kanan mereka.
“Aku pikir kau meninggalkan ku di tempat ini sendirian,” ujar Byanca, yang membuat Adelard tersenyum mendengar penuturan nya.
“Ck, kau selalu berpikiran negatif tentang diri ku sayang.” Adelard tak habis pikir mengapa Byanca memiliki pemikiran seperti itu.
“Aku hanya mengatakan ketakutanku saja.” Byanca mendongak untuk menatap wajah Adelard, yang sedang tersenyum senyum.
“Apa kau menertawakan aku yang sedang ketakutan.” Byanca melepas pelukan nya di tubuh Adelard, dan memukul mukul dada Adelard yang semakin tertawa.
“Awww, sakit By.” Adelard berpura pura kesakitan akibat pukulan Byanca. Bagaimana Adelard tidak tertawa jika menurutnya Byanca sangat lucu ketika sedang ketakutan.
“Kau menyebalkan.”
“Maafkan aku karena menyebalkan.” Adelard kembali memeluk Byanca, namun ia masih sedikit tersenyum.