Be My Wife

Be My Wife
Ngadu



Retha pulang dari sekolah sendiri, meski Rae memaksa untuk mengantarnya tapi ia tak peduli. Retha memutuskan pulang ke rumah mertuanya, kangen juga dengan mertua yang selalu memperlakukannya seperti anak sendiri. Sepanjang perjalanan ia menonton video yang hari ini begitu viral. Video itu sukses membuatnya membuatnya merasa sedih. Hari kamis yang harusnya terasa manis malah jadi miris. Rentetan hal tak menyenangkan membuatnya harinya berasa nano-nano. Pertama ia harus ribut dengan Windi hingga masuk ruang BK, melihat suaminya haha hihi dengan perempuan lain, dijemur pula seharian, dan sekarang ditambah lagi dengan video suami halunya yang digosipkan menjalin hubungan dengan salah satu member blackpinkk.


“Argh kesel!!”


“Kenapa lo mesti pacaran sama Jenie sih? Apa gara-gara gue nikah sama Bang Ian?” ucapnya sendiri pada ponsel di tangannya. Retha terus misuh-misuh sendiri dengan ponselnya, si supir yang sedang mengemudi di depan sana saja sampai geleng kepala melihat tingkah penumpangnya.


Sampai di rumah Meirani, ia disambut hangat oleh mertuanya itu. Tak lupa cipika cipiki dan pelukan erat penuh kerinduan diterima oleh Retha.


“Anak mama mau kesini kok nggak ngabarin dulu sih?”


“Ian mana kok kamu sendirian?”


“Udah makan belum?”


“Kenapa mantu mama lemes gini keliatannya?” Meirani terus memberondong pertanyaan bahkan sebelum Retha menjawabnya.


“Ma, nanyanya satu-satu dong jangan keroyokan. Aku jadi bingung mesti jawab yang mana dulu?”


“Iya-iya maaf sayang. Abis mama takut kamu kenapa-kenapa. Apa jangan-jangan lagi isi yah makanya lesu gini?” ledek Meirani.


“Isi apaan, Ma? Orang makan aja belum. Udah pada kelaparan nih cacing-cacing diperut.” Retha memegangi perut datarnya.


“Yah cacing yah lapar, kirain cucu mama.” Ledek Meirani.


“Ma…”


“Iya-iya sayang, kamu makan aja dulu. Ayo mama siapin.” Meirani kemudian membawa menantunya ke ruang makan.


“Mau makan apa biar mama masakin?”


“Nggak usah masak, Ma. Kelamaan, aku makan yang ada aja.” Jawab Retha.


Meirani dengan sabar menemani Retha makan sore itu. Ia sesekali mengepalkan tangannya mendengar cerita Retha yang dijemur di sekolah hingga putranya yang haha hihi dengan perempuan tanpa peduli dirinya kena hukuman.


“Iya, Ma. Pokoknya harus dihukum, kalo perlu suruh Bang Ian nyabutin rumput kebun belakang. Kalo nggak suruh nguras kolam tapi pake gelas. Ngeselin!”


“Iya biar nanti mama yang hukum.”


“Sip, Ma. Kalo gitu aku pulang dulu yah.” Pamit Retha.


“Nggak nunggu Ian aja, sayang?”


“Nggak, Ma. Aku naik taksi aja.” Jawab Retha.


Sudah bilang mau naik taksi tapi nyatanya Retha justru Kembali ke apartemen bersama Meirani. Wanita itu tak membiarkannya pulang sendiri, apalagi saat ini matahari sudah mulai tenggelam.


“Biar sekalian Mama main ke apartemen kalian, kan sejak kalian pindah mama belum pernah berkunjung.” Ucap Meirani saat mereka tengah berada di dalam lift.


“Iya, Ma.”


Retha dikejutkan oleh Adrian yang berdiri tepat di depan pintu saat dirinya masuk, Lelaki itu hendak keluar untuk mencari Retha, entah ke rumahnya atau ke rumah mertuanya karena sedari tadi tak satu pun pesannya di balas meskipun sudah terbaca.


“Lo punya HP buat apa sih? Gue setengah mati khawatir jam segini lo belum pulang, chat di baca doang kagak dibales!”


“Apa segitu serunya jalan sama mantan sampe lupa udah punya suami hm?” tanyanya dengan begitu ketus. Retha hanya mencebikkan bibirnya menanggapi ocehan Adrian.


“Ian! Ngomong apa kamu ini!” ucap Meirani yang kini berdiri di samping Retha. Wanita itu tadi sempat tertahan lumayan lama di depan lift karena berbincang dengan kawannya yang kebetulan tinggal di lantai yang sama dengan Adrian.


“Retha dari tadi sama Mama. Dia pulang ke rumah Mama. Bisa-bisanya kamu ngebiarin istri sendiri di hukum! Kamunya malah enak-enakan kecentilan sama perempuan lain!” sentak Meirani.


“Sayang, kamu istirahat aja ke kemar. Biar Mama urus suami kamu ini!” lanjutnya pada Retha.


Retha pergi ke kamarnya setelah menjulurkan lidah penuh ejekan. “selamat menikmati.” Ucapnya lirih.