
“Daddy tolongin Retha!” Melihat Ardi dan Miya datang, gadis yang wajahnya basah itu langsung menghampur memeluk paman dan bibinya.
“Papa udah nggak waras, Dad. Masa Retha mau dinikahin sama Bang Ian. Retha nggak kenal sama Bang Ian sumpah.” Adunya.
“Eh kenal baru kemaren-kemaren." Ralatnya.
" Tapi Retha disini cuma bantu-bantu, Dad. Kerjasama yang saling mengguntungkan gitu, pura-pura jadi pacarnya Bang Ian supaya nilai olahraga Retha bagus.”
“Ini semua tuh ide Bang Ian Dad, Retha cuma ngikutin aja. Masa gara-gara kayak gini doang mau nikah?”
“Ini nikah lo Dad, bukan bercanda. Retha pokoknya nggak mau nikah. Masih nunggu dilamar Kim Taehyung!”
“Bang Ian jangan diem terus dong! Bantuin ngejelasin kek! Katanya tadi tenang! Tenang! Taunya jadi kayak gini.” teriaknya pada Adrian.
“Iya ini gue juga mau ngomong, lo diem dulu! Gimana gue mau ngejelasin kalo dari tadi lo mewek sana sini sama ngoceh nggak berenti-berenti?” balas Adrian.
“Lihat bu Freya, mereka cocok kan?” ucap Meirani. “Mereka memang selalu begitu, ribut-ribut nanti akur lagi. Bahkan tadi mereka juga ribut, tapi lucu abis itu pada sayang-sayangan.” Lanjutnya.
“Ma! Mama jangan ngarang deh.” Ucap Adrian, “yang dibilang Retha itu bener. Kita cuma main pacar-pacaran aja, bohongan, nggak lebih. Itu juga demi kebaikan Mama, Retha cuma nolongin aku dan aku nolongin Retha. Impas.”
“Mereka malu-malu tuh, Bu Frey. Kita langsung diskusi saja barangkali sebagai orang tua, bu Freya punya permintaan khusus sebelum kita menikahkan mereka?” tanya Meirani, tak peduli dengan penjelasan putranya.
“Ma!” teriak Adrian.
“Udah kamu siap-siap saja sana. Ganti baju, masa mau akad pake baju olahraga.” Jawabnya. “Retha juga bisa siap-siap di kamar tamu. Kebetulan kemaren mama abis beli gaun buat kamu, bisa dipake buat akad. Nanti kalo resepsi baru kita siapin yang lebih wow, sekarang yang penting sah aja dulu.” Lanjutnya yang membuat Retha semakin berderai air mata.
“Ian, kamu anterin Retha ke kamar tamu.” Meski masih menangis, Retha tetap mengikuti Adrian sambil terus memukulinya.
Meirani, Freya dan Miya sibuk dengan obrolan mereka. Andai bisa, Freya ingin membuat suaminya membatalkan semua ini. Putrinya masih terlalu muda untuk berumah tangga. Pengalamannya menikah muda membuatnya khawatir jika Retha akan seperti dirinya dulu. Labil, gampang marah, ngambekan, kekanakan dan tak dewasa sama sekali. Jika bukan karena kesabaran Arka dalam menghadapinya, sudah tentu Retha dan Shaka tak akan pernah lahir ke dunia ini. Tapi Adrian? Bisakah dia sesabar Arka?
Pemuda itu memang baru beberapa kali ditemuinya, namun keluarganya bukanlah hal baru bagi Freya. Keluarga Turangga, sudah beberapa kali mengajukan menjodohkan putra mereka meski belum pernah melihat putrinya. Tak ada kekurangan sedikit pun dari keluarga itu, kebaikan Meirani dan Rangga tak perlu diragukan lagi. Tapi Adrian, Freya benar-benar tak tau seluk beluk pemuda itu, mengingat selama ini berada di luar negri.
“Saya tidak punya permintaan khusus bu Mei. Bagi saya yang terpenting kebahagiaan Retha. Saya sebenarnya cukup senang begitu tau Retha memiliki hubungan dengan putra ibu, tapi sayang sekali kenapa caranya seperti ini. Andai mereka bisa bersabar, tentu suami saya tidak akan memaksa menikahkan mereka sekarang juga. Putri saya pasti sangat tertekan saat ini.”
“Papa nya sangat keras kepala, tapi saya sedikit lega karena pacar Retha putra ibu. Saya tidak bisa membayangkan kalo putri saya pacaran sama cowok nggak bener dan ketahuan papa nya, pasti lebih tertekan lagi.” Ujar Freya.
“Bu Freya tenang saja, putra saya bisa dipercaya. Dia sangat menyayangi Retha, begitu pun saya dan papanya Ian. Dari awal bertemu Retha, kami sudah merasa cocok.” Ucap Meirani.
Sama halnya dengan para ibu, Arka dan calon besannya pun mulai membahas pernikahan dadakan itu. Meski awalnya Ardi keberatan, namun akhirnya ia membiarkan keponakan kesayangannya menikah. Ardi pikir kakaknya terlalu gila karena mewujudkan ancamannya pada Retha, yang selama ini ia kira hanya ancaman belaka. Setidaknya Retha menikah dengan laki-laki yang berasal dari keluarga baik-baik yang sudah dikenal lama oleh keluarganya.
“Karena kita semua sudah sepakat dan bapak penghulu juga sudah hadir, saya sama bu Freya mau panggil calon pengantinnya.” Ucap Meirani.
Keduanya kemudian pergi ke kamar tamu. Jika tadi Retha berderai air mata nangis sana sini, kali ini pemandangannya berbeda. Entah apa yang dibahas kedua calon pengantin itu, yang jelas sudah tak ada air mata diantara mereka, Retha tampak mengangguk berulang kali dengan senyum cerah di wajahnya.
“Kalian kok belum siap-siap? Bapak Penghulunya udah datang loh.” Ucap Meirani bergitu masuk. Mereka lantas menghampiri keduanya.
“Retha perlu bantuan Mama nggak buat dandan?” tawarnya.
“Nggak Ma, makasih.” Jawab Retha.
“Mama keluar aja, nanti kita nyusul. Masih ada yang perlu aku bahas sama Retha.” Ucap Adrian.
“Ya sudah jangan lama-lama.” Jawab Meirani, “kamu ganti baju di kamar sendiri, jangan disini. Jangan mentang-mentang udah mau sah terus curi start.” Ledeknya kemudian.
“Ma!”
“Iya-iya, Mama cuma bercanda. Jangan lama-lama!” ucapnya kemudian berlalu meninggalkan kamar.
“Mama tunggu di depan yah sayang.” Sambung Freya seraya mengelus sayang kepala Retha kemudian menyusul Meirani yang sudah keluar lebih dulu.
Retha menengok ke arah pintu, memastikan duo mama itu sudah pergi.
“Bang, gimana kalo gue udah minta mas kawin 20 M tapi papa sama mama Bang ian masih nggak ngebatalin pernikahan?”
“Kayaknya kecil kemungkinan mereka nggak setuju 20 M deh, dulu gue bercanda 5 M aja malah ditambah jadi 10 M.”
“Sama rencana Bang Ian kan selalu gagal.” Ejeknya. Dari tadi mereka memang sedang membahas cara untuk membatalkan pernikahan gila ini.
“Katanya hari ini terakhir bantuin Bang Ian, eh taunya malah mau dinikahin. Tenang tenang nya Bang Ian emang nggak bisa dipercaya nih.”
“Lah kan gue kagak tau kalo bokap sama nyokap lo bakalan kesini. Udah nggak udah dibahas lagi, malah muter-muter kagak ada selesainya.”
“Terus sekarang gimana, Bang? Masa nikah? Gue masih sekolah.”
“Gue juga belum pengen nikah, apalagi sama bocah kayak lo!”
.
.
.
semalam tahan...tahan semalam 😛😛😛
tampol jempol, lope, sama komen dulu sebelum lanjut!!