Be My Wife

Be My Wife
Pulang yuk!



“Sama, Bang. Gue juga nggak mau nikah, apalagi sama Bang Ian. Padahal gue lagi nunggu dilamar Kim Taehyung loh. Ini tuh gara-gara Bang Ian ngajakin bohong, jadi ribet kan!”


“Yang mulai bohong duluan kan lo! Waktu gue ngaterin balik itu, lo mulai bohong duluan ke bokap lo.” Akhirnya mereka kembali terlibat perdebatan panjang yang tak ada ujungnya.


“Terus sekarang gimana?” tanya Retha, kalimat itu yang selalu jadi ujung perdebatan mereka.


“Terus sekarang gimana?” Adrian menirukan ucapan Retha. “Dari tadi nanya itu mulu! Sekarang kita nikah aja lah, mau gimana lagi. Anggap aja kita lagi main drama kayak biasanya, bohongan.”


“Emang boleh nikah bohongan?”


“Ya kagak lah!” gemas, Adrian mencubit kedua pipi Retha.


“Lah ngapa barusan Bang Ian bilang bohongan?”


“Nikahnya beneran. Tapi lo anggap aja bohongan biar kita tetep enjoy.” Jelas Adrian.


“Gitu yah, Bang?”


“Iya, bawel. Nanya mulu kapan kelarnya! Pokoknya kita jalanin aja.”


“Tapi nanti kalo-“


“Ntar lagi nanyanya.” Sela Adrian, “tuh nyokap gue udah nyusul lagi.” ucapnya seraya menunjuk Meirani yang sudah berada di depan kamar dengan lirikan matanya.


Malam itu juga, tanpa riasan apalagi gaun mewah. Adrian masih mengenakan baju olahraganya dan Retha dengan baju santainya, keduanya duduk di depan penghulu.


“Asik nikah dah. Retha bisa merdeka dari papa yang galak.” Sindirnya pada Arka yang sudah menjabat tangan Adrian.


Arka menatap heran pada perubahan putrinya yang begitu cepat, tadi masih mewek-mewek sekarang sudah kembali ceria bahkan terlihat senang akan dinikahkan.


“Pa, jangan lama-lama lah langsung gas aja.” Ucap Retha.


“Dasar anak nakal. Nih Papa nikahin kamu sekarang, jadi istri yang baik.” Jawab Arka.


Disaat seperti ini dia merasa sedikit tak rela melepas putrinya, tapi mau bagaimana lagi jika tak mewujudkan ancaramannya bisa-bisa Retha jadi tak takut lagi padanya dan bertindak sesuka hati. Arka menatap Adrian kemudian lekat-lekat sebelum akhirnya menikahkan putrinya.


“Saya terima nikah dan kawinnya Aretha Rahardian, putri Bapak untuk saya, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” Ucap Adrian dengan lancar.


“Sah.” Teriak Retha. “Udah sip. Sah, Bang. Ntar mas kawinnya kita bagi dua.” Lanjutnya.


“Sst!”Adrian meletakan jarinya di bibir, meminta istri bawelnya untuk diam.


Retha mengangguk patuh. Setelah penghulu dan saksi menyatakan pernikahan mereka sah, disambung dengan rangkaian do’a hingga akhirnya Retha diminta menyalami Adrian.


“Emang harus banget yah?” tanya Retha namun akhirnya menerima uluran tangan Adrian, menyalaminya kemudian diletakan di pipi, seperti saat dia bersalaman pada gurunya.


“Ya udah, gue pulang dulu yah Bang. Udah malem besok sekolah.” Ucapnya kemudian.


“Yuk Ma, kita pulang.” Lanjutnya mengajak Freya pulang.


Mendengar ajakan pulang dari putrinya membuat Freya reflek menyenggol lengan Arka, “anak kamu Pa.”


Arka hanya bisa menghela nafas panjang melihat putrinya yang sudah beranjak dari duduknya. Semua orang menatap padanya, bahkan penghulu saja masih ada disana.


Retha tersenyum ringan menanggapi tatapan orang-orang disekitarnya, kecuali Adrian yang justru memijit keningnya sendiri.


“Kenapa pada bengong sih?” tanya Retha. “kalo kita nggak pulang sekarang bisa kemaleman loh, Pa. Retha bisa bangun kesiangan terus telat ke sekolah kalo tidur kemaleman. Papa sama Daddy Ardi kan besok juga kerja, jadi ayo kita pulang!” Ajaknya lagi.


.


.


.


Ya wis sakarepmu wae, Ret. sana pulang😪😪


udah double nih aku bela-belain meski lagi sakit gigi.


tampol like, komen sama hadiahnya jan lupa😘😘