
Sementara itu Retha sedang berjalan dengan riang menuju ruang guru, tangan kanannya membawa jus jeruk.
“Permisi, mau ke Pak Haidar.” Ucapnya begitu masuk ke ruang guru.
“Pak Haidar dicariin Retha nih.” Ucap guru yang mejanya paling dekat dengan pintu.
Lelaki yang mengenakan seragam olahraga melambaikan tangannya pada Retha meminta gadis itu menghampiri mejanya.
“Jus jeruk buat Bang... Eh Pak Haidar.” Ucapnya sambil tersenyum begitu tiba di meja Adrian. Bu Astri yang sedang membuka bekalnya di meja Adrian tentu langsung menatapnya dengan sinis.
“Terima kasih yah, Retha.” Adrian menerima minumannya, senyumannya tak ketinggalan ia balas. Andai bukan di ruang guru, Adrian sudah ingin mencubit gemas pipi Retha, atau mengelus sayang puncak kepala gadis itu. Tapi ini sekolah dan rekan kerjanya ada di satu ruangan yang sama, Adrian sadar betul dia tak boleh melewati batas guru dan murid saat ini.
“Pak, aku balik ke kantin yah. Mau salim boleh?” Retha mengulurkan tangannya.
“Boleh.” Jawab Adrian.
“Retha! Kamu itu keterlaluan yah! Jangan mentang-mentang kamu pacarnya Pak Haidar bisa sesuka hati di sekolah. Ini tuh sekolah bukan tempat pacaran!” ucap Bu Astri.
Retha memicingkan matanya, kesal. Tangannya masih memegang tangan Adrian yang hendak ia salami. “Iya saya tau ini sekolahan bukan tempat pacaran bu. Emang salah saya apa? Kan Cuma mau salim sama Pak Haidar, bukan Cuma Pak Haidar tapi sama ibu juga saya mau salim nih.” Retha lantas menyalami Bu Astri setelahnya. Tak hanya Bu Astri, guru lain yang ada di sekitar meja Adrian juga ia salami.
“Kamu itu!” sentak Bu Astri.
“Jangan marah-marah terus, Bu. Saya permisi.” Pamit Retha.
“Pak Haidar harusnya bisa tau tempat, jangan biarkan Retha bolak balik ke ruang guru. Meskipun kalian pacaran tapi ini sekolahan. Apalagi sampai membelikan minuman segala.” Ucap Bu Astri setelah Retha pergi.
Adrian meminum jus jeruknya dengan santai. “Memangnya saya pacaran di sekolah, Bu? Tidak kan? Kalo saya pacaran di sekolah si Retha sudah saya panggil sayang.” Jawab Adrian sambil tertawa.
“Saya rasa wajar saja. Tuh Pak Samsul saja dapat kopi dari muridnya. Bu Lia dibawain molen bakar sama muridnya juga.” Lanjut Adrian sambil menunjuk dua guru itu bergantian. Murid bu Lia memang kerap membawakan makanan aneh-aneh untuk dirinya yang sedang hamil. Kebiasaan, dulu Bu Lia suka minta jajanan muridnya saat ngidam, eh keterusan sampai sekarang udah nggak ngidam malah muridnya yang terus-terusan ngasih makanan.
“Iya wajar saja, toh Bu Astri juga suka dapat makanan dari anak-anak yang suka sama ibu kan?” sambung bu Lia. “Kami disini nggak pernah mempermasalahkan loh. Bu Astri kalo marah-marah terus seperti tadi nanti malu sendiri loh.” Lanjutnya.
“Iya benar itu bu.” Sambung lainnya. Bu Astri langsung bungkam tak berkutik dibuatnya. Yang ada diotaknya saat ini hanya ingin segera menyusul ayahnya yang sedang dinas luar dan mengadukan semua perbuatan guru-guru yang sedari tadi mengejeknya, supaya mereka semua dapat pelajaran.
Adrian hanya tersenyum samar mendengar perdebatan antar guru perempuan. Ia lantas mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Retha. “Gue tunggu di aula. Kengen.”
“Terus aja pada ribut. Mending nemuin bocil kesayangan gue, kali aja dia butuh vitamin lagi.” Batinnya seraya melenggang menuju aula.
“Kata siapa pacaran di sekolah nggak boleh? Boleh aja, asal nggak ketahuan.” Gumamnya sambil mengukir senyum.
.
.
.
Hah Heh Hoh banget aku nulisnya.
udah 3 bab yah jangan nodong crazy up... aku udah setengah crazy nih😅😅
Tinggalin like sama komennya, do’ain yang pacaran nggak ketahuan yah😘😘😘